
Paket Ikan Bakar Korea, Makan Siang Lokal Asli
Daftar Isi
16 item
Makanan Korea, bukan cuma samgyeopsal tapi nasi harian yang benar-benar dimakan tiap hari
Kalau dengar makanan Korea, apa yang langsung kepikiran? Mungkin samgyeopsal, ayam goreng, bibimbap, gimbap, hal-hal seperti itu dulu yang muncul. Memang benar, semuanya makanan yang mewakili Korea. Tapi itu juga jenis makanan yang berulang kali muncul di daftar rekomendasi untuk turis, dan kenyataannya orang Korea tidak makan itu setiap hari. Kalau kamu tanya orang Korea biasanya makan siang apa, jawabannya sering banget sederhana: mereka pergi ke restoran dekat kantor atau warung dekat rumah lalu makan satu porsi baekban.
Yang mau aku ceritakan hari ini adalah saengseon-gui baekban, atau paket nasi dengan ikan bakar. Ini termasuk makanan Korea yang hampir tidak pernah muncul di rute wisata, padahal justru benar-benar jadi makanan harian yang dinikmati orang Korea. Berdasarkan pengalaman makan langsung di Cheonhajangsa Saengseon Gui Bonjeom di Geoje, sebuah kota pulau di pesisir selatan Korea yang letaknya beberapa jam dari Seoul, aku mau tunjukkan dengan benar seperti apa sebenarnya paket ikan bakar Korea itu.
Kamu harus paham dulu apa itu baekban
Baekban adalah nasi rumahan ala Korea. Kalau dijelaskan dalam bahasa Inggris, yang paling dekat mungkin Korean home-style set meal. Isinya nasi putih, satu mangkuk sup, lalu beberapa lauk pendamping yang disusun dalam satu meja makan. Kimchi, sayur bumbu, tahu, telur gulung, jeotgal atau seafood fermentasi asin, semuanya ditaruh di piring kecil lalu disajikan berderet. Bentuknya nyaris sama dengan meja makan yang biasa orang Korea makan di rumah.
Isi lauk pendampingnya beda-beda tergantung restorannya, biasanya sekitar 5 sampai 8 macam. Nama menunya juga berubah tergantung lauk utamanya. Kalau lauk utamanya tumis daging pedas, namanya jeyuk baekban. Kalau utamanya makerel rebus pedas, namanya godeungeo jorim baekban. Nah, saengseon-gui baekban artinya persis seperti namanya: baekban dengan ikan panggang sebagai menu utama. Ikan seperti makerel, cutlassfish, yellow croaker, atau Spanish mackerel dibumbui garam lalu dipanggang kering dan harum, biasanya disajikan 2 sampai 3 ekor dalam satu piring. Kalau sudah datang bersama nasi, sup, dan lauk pendamping, itulah satu set lengkap paket ikan bakar Korea.
Paket ikan bakar, isinya sebanyak ini dalam satu meja
Nasi — nasi putih, kadang juga pakai nasi campur biji-bijian
Sup atau jjigae — salah satu dari doenjang jjigae, kimchi jjigae, atau sup bening
Menu utama — 2 sampai 3 ekor ikan bakar (makerel, cutlassfish, yellow croaker, Spanish mackerel, dan lain-lain)
Banchan — kimchi, sayur bumbu, tahu, telur gulung, jeotgal, dan 5 sampai 8 lauk kecil lainnya
Harganya biasanya sekitar Rp90.000 sampai Rp135.000. Dapat sebanyak ini dengan harga segitu, di situlah daya tarik baekban Korea.
Pemandangan khas restoran Korea saat banchan disajikan duluan

Begitu duduk, sebelum menu utama keluar, banchan akan ditata dulu seperti ini. Satu per satu ditaruh di piring kecil lalu disusun memenuhi meja, dan inilah komposisi dasar baekban. Satu jjigae dan beberapa lauk kecil datang lebih dulu, sementara ikan bakarnya baru menyusul karena dipanggang setelah dipesan. Banyak orang yang baru pertama kali masuk restoran Korea lihat set begini lalu langsung kaget, “Ini semua buat aku?” Iya, semuanya satu porsi. Di Korea ini bukan sesuatu yang spesial, tapi bentuk meja makan makanan Korea yang sangat biasa.
Tumis ikan teri — lauk langganan di meja makan Korea

Ini myeolchi bokkeum, alias tumis ikan teri. Ikan teri kecil ditumis dengan bumbu kecap, lalu ditambah wijen dan cabai hijau kecil. Di antara semua banchan Korea, ini mungkin salah satu yang paling sering keluar setelah kimchi. Rasanya renyah dan asin gurih, jadi kalau ditaruh di atas nasi lalu dimakan bareng, susah banget berhenti ngambil lagi. Karena bentuknya ikan kecil utuh, buat yang belum terbiasa mungkin awalnya terasa asing, tapi memang dimakan semuanya dari kepala sampai ekor. Ternyata gurih banget.
Tomuchim — lauk dari laut yang rasanya segar

Ini tomuchim, atau hijiki seaweed yang dibumbui. Di atasnya ditaburi wijen dan dibalur saus cabai bubuk. Rasanya asam segar dengan sedikit asin. Tot sendiri adalah rumput laut yang tumbuh di laut, bentuknya mirip ranting-ranting tipis dan warnanya hampir hitam. Bisa dibilang kerabatnya miyeok dan gim, sesama keluarga rumput laut.
Teksturnya juga agak unik. Saat digigit, rasanya putus-putus kecil. Bukan keras, bukan lembek, ada di tengah-tengah. Karena rasa aslinya tidak terlalu kuat, bumbunya jadi mudah meresap. Kalau dimakan bareng nasi, anehnya bikin tangan pengin ngambil lagi terus. Aku sendiri termasuk senang kalau lauk ini muncul.
Musaengchae, kimchi timun, konjac — semua punya peran masing-masing

Ini musaengchae, salad lobak serut pedas. Lobak diiris tipis memanjang lalu dibumbui cabai bubuk dan saus asam segar. Rasanya renyah dan adem. Ikan bakar itu kan cenderung berminyak. Di sela-sela makan, kalau ambil satu suap lauk ini, mulut langsung terasa bersih lagi. Hampir selalu ada di warung baekban, dan memang ada alasannya. Fungsinya buat menyeimbangkan lauk utama yang lebih berat dan berminyak.

Kimchi timun juga keluar. Kalau dengar kata kimchi, orang gampang langsung kebayang cuma kimchi sawi putih, padahal di Korea jenis kimchi ada puluhan tergantung bahan dasarnya. Yang ini timun dibelah lalu diisi bumbu di tengahnya. Dibanding kimchi sawi, teksturnya lebih ringan dan segar. Biasanya memang lebih sering dimakan saat musim panas, tapi cukup banyak juga restoran yang menyajikannya sepanjang tahun.

Ada juga konjac yang diberi mayones. Konjac itu bahan makanan yang rasanya hampir netral, tapi teksturnya kenyal-kenyal khas. Karena diberi mayones, rasanya jadi lebih gurih dan lembut. Saat lauk lain kebanyakan berbasis bumbu Korea yang asin atau pedas, yang ini justru alurnya beda, jadi enak buat ganti suasana rasa di mulut.
Kimchi, namul, miyeok — dasar makanan Korea dalam satu piring

Dari sini beberapa lauk datang dalam satu piring yang sama. Paling atas ada kimchi. Kubis napa difermentasi dengan cabai bubuk, jeotgal, bawang putih, dan bumbu lainnya, lalu jadilah salah satu makanan fermentasi paling ikonik dari Korea. Hampir tidak pernah ada meja makan Korea tanpa kimchi. Orang Korea suka bilang kalau tanpa kimchi rasanya mereka tidak bisa makan nasi. Itu bukan lebay. Serius, benar begitu.
Di sebelahnya ada sigeumchi namul, kongnamul, dan miyeok, lalu di bagian bawah ada kol yang dibalur saus asam. Bayam bumbu itu direbus lalu dicampur minyak wijen, jadi rasanya lembut dan gurih. Tauge punya tekstur renyah yang khas. Di Korea, tauge dipakai di sup, masuk ke bibimbap, dijadikan lauk pendamping juga, jadi bahan ini benar-benar serbaguna. Sementara kol dengan saus asam terasa sedikit lebih bercampur nuansa barat dibanding lauk lain yang bumbunya lebih tradisional Korea, jadi buat orang asing mungkin justru ini salah satu rasa yang paling akrab.
Sebenarnya banchan itu dimakan bagaimana?
Banyak yang penasaran soal ini. Dalam baekban Korea, semuanya tidak datang berurutan seperti fine dining. Semua disajikan sekaligus. Cara makannya juga gampang. Ambil satu sendok nasi, jepit satu lauk, makan bareng, lalu seruput sedikit kuah. Ulangi saja terus begitu. Mau makan yang mana dulu, urutannya bagaimana, semuanya bebas. Tidak ada aturan khusus.
Alat makannya sumpit dan sendok. Sumpit dipakai untuk mengambil lauk, sendok dipakai untuk nasi dan sup. Garpu atau pisau tidak dipakai. Kalau kamu belum terbiasa pakai sumpit, menyelesaikan semuanya pakai sendok juga sama sekali tidak aneh, jadi tidak perlu merasa tertekan.
Isi ulang banchan itu gratis
Kalau lauk pendamping habis, tinggal bilang “banchan deo juseyo” atau minta tambah lauk, nanti dibawakan lagi. Tidak ada biaya tambahan. Orang yang baru pertama kali ke Korea biasanya cukup kaget saat tahu ini. Aku juga masih ingat waktu pernah ajak teman asing, pas banchan diisi ulang dia langsung ketawa dan bilang, “Seriusan gratis?”
Akhirnya menu utama datang, tiga ekor ikan bakar

Akhirnya menu utama datang juga. Di piring ada tiga ekor ikan tersusun sejajar, dan semuanya jenis yang berbeda. Mangkuk kecil di samping itu chojang, saus cuka pedas manis yang disajikan untuk dicocol ke ikan. Saat lauk-lauk kecil sudah memenuhi meja lalu piring ini datang, barulah rasanya makanannya benar-benar dimulai. Karena ikannya baru dipanggang setelah dipesan, memang butuh waktu sedikit lebih lama. Jadi sambil menunggu, tinggal ngemil banchan dulu satu-satu. Menjelang ikan keluar, aroma gurih minyak yang dipanggang mulai tercium pelan-pelan.
Yeolgi — ikan ringan yang gampang dimakan

Ikan yang di tengah ini namanya yeolgi. Nama resminya bulbolak, tapi biasanya orang menyebutnya yeolgi. Ciri khasnya kulit merah, dan ukurannya kira-kira sedikit lebih besar dari telapak tangan. Saat dipanggang, kulitnya jadi garing sementara daging di dalam tetap lembap. Rasanya ringan dan lembut, tidak terlalu berminyak jadi tidak bikin enek. Kalau ditekan pelan dengan sumpit, dagingnya gampang lepas dari tulang.
Dari tiga ikan yang ada, ini yang paling gampang dimakan. Bau amisnya juga hampir tidak terasa, jadi buat yang belum terlalu akrab dengan hidangan ikan, rasanya paling minim beban. Di warung baekban Korea, ikan ini lumayan sering muncul.
Gajami — ikan dengan tekstur kunyah yang lebih terasa

Ini gajami, alias flatfish. Sesuai nama Inggrisnya, bentuk tubuhnya pipih dan termasuk ikan dasar laut. Matanya terkumpul di satu sisi, jadi penampilannya memang unik. Di foto ini ikannya dipanggang dalam keadaan dibuka rata. Bagian luar kecokelatan dan garing, sementara daging di dalam terasa sedikit lebih padat dibanding yeolgi. Teksturnya lebih terasa saat dikunyah, jadi buat yang suka sensasi makan yang jelas, bisa jadi justru ini yang paling memuaskan dari tiga ikan tadi.
Tulangnya memang agak lebih banyak, jadi saat makan perlu sedikit hati-hati. Tapi justru proses memisahkan daging gajami yang matang bagus dengan sumpit itu juga ada serunya sendiri.
Godeungeo — ikon ikan bakar Korea

Yang paling kiri itu godeungeo, atau makerel. Kalau bicara ikan bakar Korea, biasanya ini yang paling dulu terlintas. Kulitnya cukup berminyak, jadi saat dipanggang bagian luarnya jadi renyah dan aroma gurihnya langsung menyebar. Dagingnya lembap dan kaya lemak, jadi dari tiga ikan ini rasanya paling tebal. Sampai ada kesan kalau satu sendok nasi ditambah satu potong makerel saja sudah terasa cukup tanpa perlu lauk lain.
Karena tiga jenis ikan yang berbeda disajikan dalam satu piring, kamu bisa makan sambil membandingkan rasa dan teksturnya satu per satu. Aku sendiri mulai dari yeolgi yang ringan, lanjut ke gajami yang lebih kenyal, lalu menutup dengan makerel yang paling gurih. Tapi tentu saja tidak ada urutan wajib, tinggal makan sesuai selera saja.
Set lengkap paket ikan bakar Korea, dan ini benar-benar satu porsi

Ini dia full setting paket ikan bakar. Tiga ikan bakar ada di tengah, banchan tersusun di kanan kiri, lalu ada jjigae hangat juga. Semuanya untuk satu orang. Harganya waktu itu Rp135.000.
Kalau lauk-lauknya habis, semuanya bisa diisi ulang gratis. Kalau kamu masih mau tambah ikan, bisa juga pesan tambahan. Tentu tambahan ikan ada biaya ekstra, tapi kalau ada satu jenis ikan yang paling kamu suka, kamu bisa pesan itu saja satu ekor lagi.
Dan susunan lauk seperti ini bukan sesuatu yang cuma spesial di restoran ini. Di Korea, ke mana pun kamu pergi kalau masuk warung baekban, secara dasar kurang lebih beginilah tampilannya. Jenis lauknya memang beda-beda tiap tempat, tapi format beberapa piring kecil yang memenuhi meja itulah yang disebut baekban. Bisa dibilang ini bentuk paling dasar dari makanan Korea sehari-hari.
Harga baekban beda tergantung lauk utamanya
Kalau bukan ikan bakar dan lauk utamanya diganti jadi jeyuk bokkeum atau sundubu jjigae misalnya, harganya bisa turun ke sekitar Rp80.000 sampai Rp90.000. Susunan banchan biasanya hampir sama, jadi selisih harga utamanya memang datang dari menu utama. Paket ikan bakar Korea sedikit lebih mahal karena ikannya harus dipanggang langsung setelah dipesan, jadi memang butuh kerja lebih banyak.
Meja yang sudah habis justru kelihatan paling memuaskan

Ikan tinggal tulangnya saja, piring-piring lauk juga hampir kosong, dan jjigaenya pun sudah kelihatan dasar mangkuknya. Di Korea, meja yang kosong bersih seperti ini justru berarti makanannya dinikmati dengan enak. Menurutku, bisa makan sekenyang ini dengan harga Rp135.000 adalah contoh bagus dari value for money yang dimiliki makanan Korea.
Kalau lagi jalan-jalan di Korea, coba sekali masuk warung baekban
Waktu liburan di Korea, samgyeopsal atau ayam goreng tentu tetap enak. Tapi cobalah sisihkan setidaknya satu kali makan untuk masuk ke warung baekban lokal. Tidak harus dekat tempat wisata. Malah seringnya restoran kecil dengan papan nama tua di gang-gang justru lebih enak. Kalau di menu ada tulisan saengseon-gui baekban, tinggal pesan itu. Duduk saja, nanti banchan keluar sendiri, lalu saat ikannya datang kamu tinggal makan bareng nasi. Sudah, sesederhana itu.
Bukan makanan yang heboh atau mewah, tapi bikin kenyang. Bukan makanan mahal, tapi tetap memuaskan. Inilah makanan Korea yang benar-benar dimakan orang Korea setiap hari. Kalau saat traveling kamu sempat merasakan satu kali makan seperti ini, rasanya kamu akan melihat Korea sedikit berbeda lewat makanannya.
Cheonhajangsa Saengseon Gui Bonjeom — info restoran
Cheonhajangsa Saengseon Gui Bonjeom
Alamat — Gyeongsangnam-do, Geoje-si, Suyang 1-gil 63, lantai 1
Nomor telepon — +82-55-632-5358
Jam buka — Selasa~Minggu 11:00 ~ 20:00 (break time 15:00~17:00 / Sabtu·Minggu buka tanpa break time)
Tutup rutin — setiap hari Senin
Parkir — tersedia parkir gratis
Catatan — semua menu hanya bisa dipesan untuk minimal 2 orang
Menu utama
Ikan bakar + doenjang jjigae — Rp135.000
Ikan bakar + kimchi jjigae — Rp135.000
Galchi gui — harga terpisah
Mukeunji godeungeo jorim — harga terpisah
Kalau kamu sedang liburan ke Geoje, coba mampir sekali. Ini tempat yang pas untuk benar-benar merasakan seperti apa paket ikan bakar Korea. Tapi sebenarnya, ke mana pun kamu pergi di Korea, warung baekban seperti ini hampir selalu ada di tiap lingkungan. Jadi walaupun bukan ke tempat ini, kalau kamu melihat rumah makan baekban yang menarik perhatian, masuk saja tanpa perlu ragu.
Postingan ini awalnya diterbitkan di https://hi-jsb.blog.