20 Jajanan Pasar Tradisional Korea yang Wajib Dicoba (Part 1)
Pasar Seomun Daegu — Surga Jajanan Pasar Tradisional Korea
Minggu lalu akhir pekan, aku main ke Pasar Seomun di kota Daegu, Korea Selatan.
Jujur, sebelum ke sana aku cuma mikir "paling pasar tradisional biasa aja." Tapi begitu sampai, ternyata beda banget. Karena weekend, orangnya buanyak banget, tiap gang penuh sesak sama pengunjung. Makin masuk ke dalam pasar, makin kerasa kalau skalanya jauh lebih besar dari yang aku bayangin. Faktanya, Pasar Seomun ini terdiri dari 6 zona dengan lebih dari 4.000 toko — salah satu pasar tradisional terbesar di Korea. Di zaman Dinasti Joseon, pasar ini masuk 3 besar pasar paling terkenal se-Korea bareng Pasar Pyeongyang dan Pasar Ganggyeong, dan sejarah itu masih berlanjut sampai sekarang. Serius deh, aku sampai takut nyasar di dalamnya.
Alasan aku bikin postingan ini cuma satu: aku mau kasih lihat ke kalian makanan apa aja sih yang ada di pasar tradisional Korea, dari yang aku lihat dan makan langsung. Khususnya buat teman-teman yang lagi planning trip ke Korea dan bertanya-tanya "ke pasar Korea enaknya makan apa ya?", semoga tulisan ini bisa jadi panduan jajanan pasar tradisional Korea yang beneran berguna.
Tapi satu hal ya, jangan salah paham. Nggak semua pasar Korea itu kayak gini. Yang punya skala dan variasi sebanyak ini cuma pasar-pasar besar yang terkenal nasional kayak Seomun. Pasar kecil di daerah perumahan suasananya memang enak, tapi pilihan makanannya jauh lebih sedikit. Di antara semuanya, Pasar Seomun di Daegu (kota besar sekitar 1,5 jam naik kereta cepat dari Seoul) ini tempat yang wajib banget dikunjungi kalau kamu baru pertama kali mau merasakan budaya pasar Korea.
Karena kontennya banyak banget, postingan kali ini aku bagi jadi 2 part. Aku bakal kasih lihat sesuai urutan aku jalan dan foto. Yuk, mulai Part 1!
Ubi Karamel (Mattang) — Jajanan Pertama di Pasar Seomun

Begitu lewat pintu masuk dan belok ke gang pertama, yang langsung menarik perhatianku adalah ini. Tumpukan ubi karamel alias mattang di atas wajan besi. Ini jajanan tradisional Korea di mana ubi dipotong besar-besar, digoreng, lalu dilapisi sirup gula dan ditaburi wijen hitam.
Karena belum makan apa-apa, aku langsung ambil ini sebagai yang pertama. Kalau disentuh pelan pakai jari, lapisan sirup tipis yang sudah mengeras langsung pecah renyah, dan di dalamnya ada ubi yang lembut dan pulen. Kalau baru dibikin, sirupnya masih hangat dan bisa meler, tapi yang aku beli sudah agak dingin jadi lapisannya lebih keras. Tetap aja manisnya nggak berkurang. Harganya sekitar 4.000 won per bungkus (kurang lebih Rp48.000).
Dalam bahasa Inggris disebut "Candied Sweet Potato." Bayangin aja ubi goreng yang dilapisi gula karamel.
Kue Walnut (Hodugwaja) — Camilan Legendaris Rest Area Korea

Yang kedua menarik perhatianku adalah kue walnut yang menumpuk di dalam etalase kaca. Ini jajanan tradisional Korea yang dipanggang di cetakan berbentuk kacang walnut, ukurannya cuma sebesar dua jempol tangan.
Sebenarnya kue walnut ini terkenal banget di Korea sebagai camilan andalan rest area tol, jadi buat aku rasanya sudah familiar. Tapi yang baru matang dari pasar itu beda banget. Kulitnya masih hangat jadi teksturnya lembut dan agak basah waktu digigit, terus di dalamnya keluar pasta kacang merah yang halus sama potongan walnut kecil. Kalau sudah dingin, kulitnya jadi agak renyah — tapi secara pribadi aku lebih suka waktu masih hangat. 10 biji cuma 3.000 won (sekitar Rp36.000).
Dalam bahasa Inggris namanya "Walnut-shaped pastry with red bean filling." Meskipun namanya ada walnut, walnut bukan bahan utamanya — namanya dari bentuk cetakannya yang mirip kacang walnut.
Hotteok — Jebakan Panas ala Daegu yang Bikin Ketagihan

Pemberhentian ketiga adalah gerobak hotteok. Biasanya hotteok itu dipipihkan dan dipanggang di atas wajan datar, tapi yang ini beda total. Digoreng utuh dalam minyak banyak, jadi ukurannya sebesar telapak tangan dan bentuknya bulat tebal kayak donat.
Antriannya lumayan, aku nunggu sekitar 5 menit. Sambil nunggu, bau minyak goreng campur aroma kayu manis bikin makin laper. Begitu dapat, langsung aku gigit — dan ini kesalahan besar. Dari dalam, sirup yang terbuat dari gula aren dan kayu manis yang meleleh langsung tumpah keluar sekaligus dan panaaas banget. Hampir aja langit-langit mulutku melepuh. Kalau pertama kali coba, pastikan belah dua dulu dan biarkan sirupnya dingin sebelum dimakan.
Dalam bahasa Inggris disebut "Hotteok — Korean sweet pancake filled with brown sugar and cinnamon." Ini street food musim dingin paling ikonik di Korea, tapi versi goreng utuh kayak di Pasar Seomun ini lebih sering ditemui di daerah Daegu. Satu biji 2.000 won (sekitar Rp24.000).
Roti 10 Won — Street Food Korea Favorit Turis Nomor 1

Ini roti yang dipanggang di cetakan berbentuk koin 10 won Korea zaman dulu. Awalnya tren ini mulai dari kota Gyeongju, tapi sekarang sudah jadi street food Korea yang bisa ditemui di mana-mana seantero negeri.
Yang ini nggak ada antriannya jadi bisa langsung beli. Gumpalan kuning yang keliatan di foto itu keju. Dalamnya diisi keju penuh banget, jadi kalau dibelah dua kejunya meler panjang. Bentuknya lucu banget sampai aku foto dulu baru makan. Kombinasi keju asin gurih sama rotinya sederhana banget tapi bikin nagih, tanganku terus aja ngambil lagi.
Di kalangan turis asing, ini jajanan kaki lima Korea yang reaksinya paling bagus. Visual bentuk koinnya bikin penasaran, dan momen keju meler itu semua orang langsung rekam video. Cari aja "10-won Bread — Korean coin-shaped cheese bread" di YouTube, videonya banyak banget. 3 biji cuma 2.000 won (sekitar Rp24.000).
Sandwich Pasar Korea — Apa Bedanya Sama Sandwich Barat?



Jalan-jalan di Pasar Seomun, kamu bakal ketemu beberapa gerobak yang jual sandwich pasar. Aku juga beli satu, dan ini beneran beda banget sama sandwich barat. Turis asing yang cuma lihat kata "sandwich" terus berharap yang biasa bisa kaget, jadi aku rangkum perbedaannya di sini.
Dari pengalaman aku makan, membandingkan ini sama sandwich barat itu nggak ada artinya — ini makanan yang totally berbeda. Lebih tepat kalau disebut "toast mayones ala Korea."
Roti Bread
Roti tawar lembut, baguette, dan berbagai jenis lainnya
Isian Filling
Sayuran, daging, keju, dan bahan lain ditata berlapis-lapis
Rasa Taste
Gaya ringan yang menonjolkan rasa asli bahan-bahannya
Cara Makan Style
Duduk makan atau dibungkus · di kafe mulai dari 5.000 won ke atas (Rp60.000+)
Roti Bread
Roti tawar digoreng atau dipanggang sampai renyah di luar
Isian Filling
Isian diaduk mayones, dijejalkan padat-padat ke dalamnya
Rasa Taste
Basis mayones yang gurih dan berasa kuat jadi ciri khasnya
Cara Makan Style
Berdiri sambil jalan, langsung dipegang dan dimakan gaya kaki lima · 2.000–3.000 won (Rp24.000–36.000)
Sate Jantung Babi — Nekat Coba Makanan Jeroan di Pasar Korea


Dari sini suasananya mulai berubah. Makin masuk ke dalam gang kuliner, asap panggang daging makin tebal di mana-mana.
Yeomtong itu bagian jantung babi. Diiris tipis-tipis lalu ditusuk berlapis-lapis dan dipanggang. Jujur, awalnya aku ragu. Kata "jantung" itu sendiri bisa bikin orang ilfeel kan. Tapi lihat bapak-bapak di sebelah yang makan dengan lahapnya, akhirnya aku beli satu.
Langsung ke kesimpulan ya — rasanya jauh lebih plain dari yang dibayangkan. Teksturnya lebih padat dan kenyal dibanding daging babi biasa, tapi hampir nggak ada lemaknya. Makin dikunyah, rasa gurihnya makin naik, dan sama sekali nggak ada bau amis khas jeroan. Buat kalian yang tertarik sama makanan jeroan (offal), ini worth banget untuk dicoba. Dalam bahasa Inggris namanya "Grilled pork heart skewer."
Roti Ketan (Chapssal-ppang) — Personal Top 3 Hari Itu


Ini yang secara pribadi mau aku masukin top 3 dari semua jajanan pasar Seomun yang aku makan hari itu. Adonan ketan dibentuk bulat, digoreng deep-fried, lalu digulingkan di gula sebagai finishing. Ada dua jenis: yang polos tanpa isian dan versi yang diisi pasta kacang merah manis.
Aku pilih versi kacang merah, dan ini beneran beda total sama donat tepung terigu biasa. Ketan punya tekstur kenyal dan elastis yang khas — rasanya kayak ada di antara mochi dan donat gitu. Luarnya dilapisi gula yang sedikit renyah, dalamnya kenyal meler waktu digigit. Harus dimakan selagi hangat biar teksturnya kerasa maksimal.
Dalam bahasa Inggris disebut "Chapssal-ppang — Deep-fried glutinous rice ball." Kalau kalian tahu "Mochi donut," kira-kira konsepnya mirip. 2 biji 2.000 won (sekitar Rp24.000).
Fish Cake Kuah (Eomuk) — Ikon Pasar Tradisional Korea


Kalau kalian pernah ke Korea sebelumnya, ini pasti pernah kalian lihat. Daging ikan digiling jadi adonan, dipipihkan tipis, ditusuk, lalu direndam di kuah panas — ini street food Korea yang paling ikonik. Mau di Seoul, Busan, atau Jeju, pasar mana pun pasti ketemu.
Di Pasar Seomun aja, gerobak eomuk kuah kayak gini lebih dari 10 tempat. Aku makan di gerobak yang ada di tengah-tengah pasar, dan aroma kaldu dari ikan teri dan rumput laut kombu itu beneran luar biasa. Eomuk-nya sendiri teksturnya lembut dan kenyal, makin lama direndam makin meresap kuahnya ke dalam. Tapi yang jadi highlight sebenarnya itu setelah eomuk-nya habis, kamu minum kuahnya seseguk. Rasa gurih asin yang hangat mengisi perut itu — kalau hari dingin, ini aja sudah cukup jadi alasan buat datang ke pasar.
Dalam bahasa Inggris namanya "Eomuk — Korean fish cake skewer in hot broth." Minum kuahnya bareng itu cara makan ala Korea. Satu tusuk biasanya 1.000 won (sekitar Rp12.000), kuahnya gratis.
Tusukan Gochujang — Pemandangan Paling Memukau di Pasar Seomun


Ini salah satu pemandangan yang paling berkesan buatku di Pasar Seomun. Wajan besi lebar penuh saus gochujang (pasta cabai merah khas Korea) dengan deretan tusukan berjejer panjang — secara visual beneran spektakuler.
Tteok (kue beras), eomuk (fish cake), dan sundae (sosis darah Korea) ditusuk lalu direndam dan dimasak dalam saus gochujang yang kental. Awalnya ini makanan yang cuma bisa ditemui di beberapa daerah tertentu. Sekarang memang mulai muncul di Seoul, tapi bukan menu yang gampang kamu temui di warung pinggir jalan biasa. Untuk lihat versi lengkap dan proper kayak gini, kamu harus datang ke pasar tradisional Korea skala besar kayak Seomun.
Aku pilih tusukan tteok, dan gochujang-nya meresap sampai ke dalam — kenyal sekaligus pedas manis. Pedas, manis, asin datang sekaligus. Orang Korea kadang nyebut ini "tteokbokki tanpa kuah."
Dalam bahasa Inggris: "Gochujang skewer — rice cake, fish cake, or sundae (Korean blood sausage) simmered in red chili paste." Kalau suka pedas, ini sangat direkomendasikan.
Tusukan Sundae, Tusukan Eomuk Pedas, Eomuk Tumis Merah, dan Gerobak Eomuk Kuah Tambahan





Di sekitar gerobak tusukan gochujang, menu-menu serupa berkumpul. Aku juga ambil satu tusukan sundae yang dijual persis di sebelahnya. Sundae itu makanan tradisional Korea berupa usus babi yang diisi bihun kaca dan sayuran. Versi ini ditusuk dan direndam dalam saus gochujang sampai matang, jadi sausnya meresap ke dalam dan rasanya berat dan kaya. Turis asing yang baru pertama kali coba sundae sering kaget waktu dengar penjelasan "blood sausage," tapi kalau beneran dimakan, tekstur kenyal bihun kacanya yang dominan jadi sebenarnya lebih lembut dari yang dibayangkan. Dalam bahasa Inggris: "Sundae — Korean blood sausage stuffed with glass noodles and vegetables."
Ada juga tusukan eomuk pedas. Beda total sama eomuk kuah bening yang aku ceritain tadi — yang ini direndam di wajan saus gochujang yang mendidih, jadi seluruh eomuk-nya berubah warna merah. Aku makan eomuk kuah bening duluan baru coba yang ini, dan nggak percaya kalau ini eomuk yang sama. Rasanya tajam dan pekat langsung naik.
Eomuk tumis merah itu eomuk yang dipotong pendek dan tebal, ditumis pakai bumbu pedas. Di atasnya ada taoge, cabai hijau Korea, dan bubuk cabai merah — warnanya aja sudah kelihatan garang. Yang menarik, ini bukan eksklusif satu gerobak aja. Jalan-jalan di gang Pasar Seomun, kamu bakal ketemu beberapa tempat yang masak eomuk dengan cara serupa, tapi tiap tempat rasio bumbunya beda. Aku coba di dua tempat — yang satu rasa manisnya lebih kuat, yang satu lagi kebanyakan cabai hijau Korea jadi beneran pedas.
Dan eomuk kuah ini layak disebut sekali lagi. Di dalam Pasar Seomun, gerobak kayak gini lebih dari 10 tempat. Tiap tempat rasa kuahnya sedikit beda, jadi asyiknya kamu bisa jalan sambil bandingin beberapa tempat. Aku sendiri minum kuah dari dua tempat — yang satu rasa ikan terinya lebih kuat, yang satunya lagi rasa rumput lautnya yang dominan. Per tusuk 1.000 won (Rp12.000) dan kuahnya gratis, jadi coba aja beberapa tempat tanpa beban.
Gorengan Korea — Pertama Kali Lihat Kimbap Digoreng Utuh!


Gorengan di pasar tradisional Korea biasanya itu cabai goreng, cumi goreng, dan sayur goreng. Tapi di sini aku nemu sesuatu yang seumur hidup baru pertama kali aku lihat — kimbap yang digoreng utuh!
Cara buatnya: bikin kimbap dulu, lalu dibalut adonan tepung goreng dan langsung masuk minyak panas. Luarnya jadi kulit gorengan renyah, dalamnya kimbap utuh masih lengkap di situ. Jujur aku mikir "ini enak nggak sih?", tapi ternyata minyak gurih sama aroma rumput laut nori-nya nyatu dengan bagus. Aku juga beli cabai goreng di sebelahnya — cabai hijau Korea yang dibalut tepung, luarnya gurih dan dalamnya pedas nyengat. Kalau nggak kuat pedas, hati-hati ya.
Dalam bahasa Inggris istilah umumnya "Twigim — Korean deep-fried snacks." Mirip tempura Jepang, tapi versi Korea lapisan tepungnya lebih tebal dan sering dimakan tanpa saus.
Sate Ayam dan Dakgangjeong — Versi Kaki Lima dari Budaya Ayam Korea



Sate ayam alias dak-kkochi ini di Korea disebut "camilan rakyat" — disukai semua kalangan tanpa pandang usia. Ayam ditusuk, dipanggang, lalu dilumuri saus manis asin yang banyak. Mungkin kalian mikir ini ada di mana-mana di Korea jadi nggak ada istimewanya, tapi yang baru matang dari gerobak pasar itu beda banget. Ada aroma khas waktu sausnya ter-karamelisasi di atas api. Satu tusuk 3.000 won (sekitar Rp36.000). Dalam bahasa Inggris: "Dak-kkochi — Korean grilled chicken skewer with sweet soy glaze."
Persis di sebelahnya ada toko dakgangjeong juga. Biasanya dakgangjeong cuma satu jenis, tapi toko ini variannya banyak banget — gangjeong ceker ayam, gangjeong usus, gangjeong rasa keju, rasa bawang putih kecap, dan rasa pedas. Aku pilih rasa bawang putih kecap — sausnya lengket nempel di luar, rasa manis dan asin yang kuat banget langsung terasa.
Turis asing sering tanya "dakgangjeong sama fried chicken Korea bedanya apa sih?", dan bedanya jelas banget. Aku rangkum di bawah ini.
Bentuk Shape
Ayam utuh atau potongan besar yang digoreng
Tekstur Texture
Kulit luar tipis dan renyah, daging di dalam juicy
Cara Makan Style
Dipesan delivery atau dimakan di restoran ayam bareng bir — budaya "makan besar"
Bentuk Shape
Dipotong seukuran satu gigitan, digoreng, lalu dilumuri saus pedas manis
Tekstur Texture
Saus melapisi bagian luar — tekstur lengket dan kenyal
Cara Makan Style
Dibeli di pasar dalam kantong lalu langsung dicomot — gaya "camilan"
Tornado Potato, Jagung Rebus, dan Ubi Goreng — Jajanan Ringan di Pasar Seomun



Tornado potato itu satu kentang utuh yang diiris spiral tipis-tipis, ditusuk, lalu digoreng dalam minyak. Di media sosial sering muncul sebagai "Tornado Potato." Jujur, rasanya nggak beda jauh sama keripik kentang sih — gurih dan asin rasa kentang. Tapi bentuknya pas banget buat dimakan sambil jalan-jalan, jadi enak kalau pegang satu sambil keliling pasar.
Jagung rebus ini salah satu camilan paling basic yang sudah dijual di pasar Korea sejak lama. Nggak banyak yang perlu dijelasin soal ini, tapi dimakan dalam suasana pasar kok jadi enak banget ya. Bulir-bulirnya rapat dan kenyal, penuh rasa manis alami — simpel tapi nggak bikin bosan. Satu tongkol 2.000 won (sekitar Rp24.000).
Ubi goreng ini ubi yang diiris tipis memanjang lalu digoreng sampai renyah. Bentuknya mirip French fries tapi rasanya beda. Ubi punya rasa manis alami jadi tanpa saus pun sudah cukup enak. Lihat tumpukan besar di satu sudut pasar, aku nggak bisa nahan diri dan langsung beli satu — sekali ambil, susah berhenti. Dalam bahasa Inggris: "Sweet potato fries."
Tangsuyuk — Masakan Chinese-Korean yang Ketemu di Pasar

Daging babi digoreng lalu disiram saus asam manis — ini masakan Chinese versi Korea. Di atasnya ada wortel dan bawang bombay bersama sausnya.
Di Korea, ini salah satu menu Chinese food delivery terpopuler yang selalu bersaing di posisi pertama. Biasanya dipesan delivery dari restoran Chinese. Nemu ini dijual di piring di pasar itu cukup langka dan bikin aku excited. Rasanya paduan gorengan renyah sama saus asam manis yang enak banget. Mirip tangsurorou (糖醋肉) dari China, tapi versi Korea sausnya lebih encer dan rasa asamnya lebih kuat. Dalam bahasa Inggris: "Tangsuyuk — Korean-style sweet and sour pork."
Mandu Goreng — Penutup Wisata Kuliner Pasar Seomun


Dumpling Korea — kulit tepung diisi daging dan sayuran, dibentuk, lalu dipanggang sampai kecokelatan di minyak. Pemandangan mandu-mandu ini berjejer di atas kukusan stainless steel jadi salah satu pemandangan khas Pasar Seomun yang bikin hati hangat.
Satu porsi 7.000 won (sekitar Rp84.000) dan isinya bermacam-macam — ada yang pipih, bulat, lonjong, bentuknya beda-beda. Ukurannya juga lumayan besar jadi ini aja sudah cukup bikin kenyang. Jujur, dengan harga segitu untuk standar harga Korea, ini termasuk worth it banget.
Dalam bahasa Inggris: "Gun-mandu — Korean pan-fried dumplings." Mirip gyoza Jepang atau guotie (鍋貼) China, tapi mandu Korea kulitnya lebih tebal dan isiannya ada bihun kaca — itu yang jadi pembeda utamanya.
Penutup Part 1 — Rp350.000 Cukup Buat Puas Jajan di Pasar Seomun
Sampai sini dulu Part 1 dari jajanan pasar tradisional Korea yang aku jelajahi langsung sambil jalan di Pasar Seomun, Daegu. Sebenernya ini belum semua. Masih ada cukup banyak makanan yang belum aku tampilkan, dan bakal aku lanjutin di Part 2.
Kalau kalian baca Part 1 ini dari awal, pasti sudah kerasa kan — jajanan pasar tradisional Korea itu kebanyakan camilan porsi kecil di kisaran 2.000–4.000 won (Rp24.000–48.000) per item. Jadi kamu bisa coba banyak macam sedikit-sedikit. Aku sendiri hari itu makan lebih dari 10 jenis, dan total pengeluaran cuma sekitar 30.000 won — kurang lebih Rp350.000. Dengan budget segitu bisa merasakan sebanyak ini variasi street food Korea, menurutku itu poin yang cukup menarik buat traveler.
Part 2 segera menyusul ya!
Informasi Dasar Pasar Seomun Daegu
Alamat
45 Keunjang-ro 26-gil, Jung-gu, Daegu, Korea Selatan
Jam Operasional Pasar
09:00 – 18:00
※ Bisa berbeda tiap toko
Jam Operasional Pasar Malam
Jumat–Sabtu 19:00 – 23:30 / Minggu 19:00 – 22:30
※ Dijadwalkan buka akhir Maret 2026 · Tutup Senin–Kamis · Libur musim dingin (Januari–Maret)
※ Untuk tanggal pembukaan pasti, cek situs resmi Pasar Malam Seomun
Hari Libur Rutin
Minggu pertama dan ketiga setiap bulan
※ Beberapa toko mungkin punya jadwal libur sendiri
Tingkat Keramaian Akhir Pekan
※ Jam puncak pukul 12 siang – 3 sore · Disarankan datang pagi
Cara Menuju Pasar Seomun
STEP 1
Naik KTX/SRT dari Seoul Station atau Suseo Station
Waktu tempuh sekitar 1 jam 50 menit
STEP 2
Turun di Stasiun Dongdaegu → Naik subway jalur 1
STEP 3
Transfer ke jalur 3 di Stasiun Banwoldang → Turun di Stasiun Seomun Market
STEP 4
Keluar dari Exit 3 Stasiun Seomun Market → Jalan kaki 3 menit
STEP 1
Naik bus dari Terminal Gangnam atau Terminal Dong Seoul
Waktu tempuh sekitar 3 jam 10 menit
STEP 2
Turun di Terminal Bus Ekspres Seo-Daegu
STEP 3
Naik subway jalur 3 dari Stasiun Manpyeong di depan terminal → Turun di Stasiun Seomun Market
STEP 4
Keluar dari Exit 3 Stasiun Seomun Market → Jalan kaki 3 menit
STEP 1
Naik KTX dari Stasiun Busan
Waktu tempuh sekitar 50 menit
STEP 2
Turun di Stasiun Dongdaegu → Naik subway jalur 1
STEP 3
Transfer ke jalur 3 di Stasiun Banwoldang → Turun di Stasiun Seomun Market
STEP 4
Keluar dari Exit 3 Stasiun Seomun Market → Jalan kaki 3 menit
STEP 1
Naik bus antarkota dari Terminal Sasang (Barat) Busan
Waktu tempuh sekitar 2 jam · 13 keberangkatan per hari · Bus pertama 07:00 terakhir 19:00
STEP 2
Turun di Terminal Barat Daegu → Jalan kaki sekitar 10 menit ke Pasar Seomun
Terminal ini sangat dekat dengan pasar, jadi bisa lebih praktis daripada KTX
STEP 1
Dari Bandara Daegu naik bus (nomor 401 atau Ekspres 1) → Stasiun Ayanggyo
STEP 2
Naik subway jalur 1 → Transfer ke jalur 3 di Stasiun Banwoldang → Turun di Stasiun Seomun Market
STEP 3
Keluar dari Exit 3 Stasiun Seomun Market → Jalan kaki 3 menit
Total waktu tempuh sekitar 40–50 menit
※ Tarif transportasi dan waktu tempuh berdasarkan data Maret 2026 dan bisa berubah. Untuk info terbaru, cek Korail, SRT, Pemesanan Bus Ekspres.
Postingan ini pertama kali diterbitkan di https://hi-jsb.blog.