
Desa Hanok Tersembunyi di Korea Tanpa Turis: Jalan-Jalan
Daftar Isi
15 item
Gang rumah tradisional di tengah kota baru
Kalau mau lihat desa hanok di Korea, biasanya yang terlintas itu Jeonju atau Bukchon di Seoul. Tapi ada satu kampung hanok yang tersembunyi di Sejong — kota administratif modern sekitar 2 jam ke selatan Seoul — yang nggak ada turisnya, nggak ada tiket masuk, dan orang beneran tinggal di sana. Namanya Sejong Goun-dong Hanok Village. Ini kampung hunian kecil dengan sekitar 46 rumah hanok, yaitu rumah tradisional Korea dengan atap genteng melengkung dan struktur kayu. Dari Seoul naik mobil cuma 1,5 jam, dari Daejeon cuma 30 menit. Kalau kamu suka jalan-jalan santai di gang-gang estetik tanpa keramaian, atau lagi road trip jarak jauh Seoul–Busan dan butuh tempat istirahat yang lebih berjiwa daripada rest area, tempat ini cocok banget.
Aku ke sini musim gugur tahun lalu bareng istri. Padahal rumah kami deket, tapi baru tahu belakangan kalau ada desa hanok di sini. Soalnya Sejong itu kota yang bahkan orang Korea sendiri bilang "emang ada apa di sana?". Image kota baru yang isinya cuma gedung pemerintahan sama apartemen itu terlalu kuat. Hari itu kami mampir dulu ke Hemel, sebuah kafe hanok yang nempel persis di sebelah desa, terus pas keluar dari sana baru jalan-jalan keliling desa hanok. Kafe Hemel-nya bakal aku review terpisah, jadi di sini singkat aja — itu tempat yang jual teh dan dessert di dalam bangunan hanok tradisional, dan lokasinya pas banget buat digabung kalau mau ke desa hanok.
Di tengah kota baru, ada gang rumah tradisional Korea

Begitu masuk ke gang dalam desa, tembok batu rendah membentang di kedua sisi dan atap-atap genteng mulai memenuhi pandangan. Tapi kalau dongak ke atas, di belakangnya berdiri kompleks apartemen 20 lantai. Ini kesan pertama desa hanok Goun-dong. Jelas-jelas di tengah kota baru, tapi begitu berdiri di dalam gang, udaranya beda. Pas jalan terus noleh ke belakang, apartemennya muncul lagi, dan istri aku bilang "ini beneran kota baru?" Aku juga mikir hal yang sama persis.
Berjalan di antara tembok batu dan hydrangea kering

Makin ke dalam, apartemen-apartemen itu pelan-pelan hilang dari pandangan. Gantinya, tembok batu bertutup genteng hitam membentang panjang di kedua sisi, dan di atas pagar, bunga hydrangea yang sudah mengering menjulurkan kepala keluar. Kalau musim panas, semua ini pasti mekar biru, tapi karena sudah penghujung musim gugur, semuanya kering kecoklatan dan renyah. Tapi justru itu ada vibes-nya sendiri. Hanok sama hydrangea kering, nggak ada yang peduli tapi cantik sendiri. Gang-nya sepi banget, cuma suara langkah kaki kami yang menggema di lantai batu.
Bukan tempat wisata, ini kampung hanok tempat orang beneran tinggal

Ini beneran rumah yang ditinggali orang. Hanok dua lantai dengan balkon pagar kayu, sekilas kayak penginapan mewah atau bangunan cagar budaya, tapi ini nyatanya rumah seseorang. Yang bikin kampung ini spesial adalah, ini bukan hanok tua yang dilestarikan, tapi rumah-rumah yang dari awal dibangun baru dengan gaya arsitektur hanok tradisional. Katanya dibangun sesuai panduan pembangunan hanok, dengan standar detail untuk struktur, atap, sampai pagar. Makanya seluruh desa punya keseragaman visual yang rapi, nggak ada satu bangunan pun yang nyentrik sendiri.
Kalau pernah traveling ke Korea, pasti ngerasa deh, negara ini cepat banget bongkar bangunan lama dan bangun apartemen baru. Selain istana atau kuil yang jadi situs bersejarah, susah banget ketemu arsitektur tradisional di kehidupan sehari-hari. Dari sisi itu, desa hanok Goun-dong ini contoh langka di mana estetika arsitektur tradisional Korea dipindahkan ke ruang hunian modern.
Pohon pinus dan atap genteng, hanok di atas dinding batu



Garis atap genteng yang terlihat di antara pohon pinus, struktur kayu yang dibangun di atas dinding batu — konsepnya jelas dan nggak ada yang asal-asalan. Kalau selama ini cuma lihat rumah tradisional Korea dari foto, di sini adalah tempat paling pas buat lihat langsung. Karena ini bukan hanok yang didandani buat turis, tapi hanok yang beneran ditinggali orang setiap hari.
Jalan luar — kampung di bukit yang kayak resort hanok



Kalau keluar ke jalan luar desa, pemandangannya agak beda. Gang dalam tadi terasa sempit di antara tembok batu, tapi di sini jalannya lebar dan hanok-hanok berjejer di kedua sisi mengikuti bukit. Setiap gerbang utama ada nama rumah ditulis pakai aksara Tiongkok, dan hanok dua lantai berdiri di atas dinding penahan batu — jujur, yang kepikiran duluan itu bukan kampung, tapi resort hanok. Tapi lihat nggak mobil yang parkir di depan gerbang? Itu mobil orang-orang yang beneran tinggal di sini.
Di bukit belakang kelihatan warna musim gugur mulai muncul sedikit, dan pas bertumpukan sama garis atap genteng, jadi cukup indah. Di jalan cuma ada kami berdua. Sepi sampai agak nggak enak hati. Sempat merasa kayak nyusup diam-diam ke kampung orang, tapi desa ini memang punya struktur yang menerima pejalan kaki, jadi nggak usah khawatir.
Ujung atas bukit — area paling bagus buat foto
Kalau ikutin jalannya naik ke atas bukit, sampai di ujung desa. Dari sini bukit di belakang langsung menempel, dan pemandangan pohon pinus yang bertumpukan sama atap genteng itu beda sama yang di sisi kota. Bukan "hanok di antara apartemen", tapi hanok yang duduk di lereng gunung, malah lebih mirip desa rumah tua di pedesaan.
Di samping dinding batu ada azalea yang mekar bergerombol di satu sisi, dan karena mekar gitu aja di jalan bukit yang nggak ada yang lihat, agak sayang rasanya. Pagar hanok, bunga pink, gunung hijau di belakang — buat foto, area ini yang paling oke. Tapi yang naik sampai sini hampir nggak ada. Kebanyakan orang cuma sampai kafe di pintu masuk terus balik, jadi bagian atas ini beneran cuma ada kami berdua.
Siluet atap dari cahaya backlight saat senja

Kalau mendongak dari jalan paling bawah, keliatan dua tiga hanok berjejer di atas dinding penahan batu, dan karena matahari hampir tenggelam di balik gunung, cahaya backlight-nya bikin cuma garis atap yang tertangkap. Timing-nya pas banget. Kalau datang sore hari, kamu bisa dapet pemandangan kayak gini. Sengaja datang di jam ini buat foto juga bukan ide yang buruk.
Detail pagar — hal-hal yang baru keliatan kalau jalan pelan-pelan

Detail pagarnya menarik perhatian, jadi aku mendekat. Ini pagar bermotif tradisional yang dibangun dengan mencampur pecahan genteng dan bata, dengan pohon pinus menjulang di atas dinding batu dan bunga-bunga kecil ditanam di bawahnya. Hal-hal kayak gini nggak keliatan dari foto, harus jalan langsung dan lihat pelan-pelan baru kerasa.
Peringatan parkir — kalau parkir di dalam desa kena denda
Ada satu hal yang perlu diperhatiin. Sebagian besar jalan di dalam desa ini dilarang parkir. Di Korea, kalau parkir di tempat yang ada tanda larangannya, kena denda. Kalau datang pakai rental mobil, jangan parkir di dalam desa. Lebih aman pakai parkiran kafe Hemel atau parkiran umum di tengah desa. Kalau asal parkir di mana aja karena gang-nya cantik, nanti pas kembaliin rental bisa-bisa kena tagihan denda. Aku parkir di parkiran kafe Hemel, dan tempatnya luas jadi nyaman banget.
Kampung di mana rumah tradisional dan kota baru masuk satu frame
Kalau mundur satu langkah dari pintu masuk desa, di kiri keliatan atap hanok di antara pohon pinus, dan di kanan jauh di sana ada bangunan modern yang nongol. Dalam satu foto ini, seluruh identitas Sejong sebagai kota tergambar. Hanok dan kota baru ada dalam satu frame, itu yang jadi identitas kampung ini. Rasa aneh saat cuma nyebrang satu zebra cross langsung pindah ke era yang beda banget, itu momen yang unik.
Layak dikunjungi nggak? — Review jujur
Jujur, ini bukan tempat yang bikin kamu harus sengaja datang jauh-jauh ke Sejong cuma buat ini doang. Desanya kecil, 20 menit juga udah keliling semua. Tapi kalau lagi lewat Sejong, ceritanya beda. Orang yang turun dari Seoul ke arah Busan, Gwangju, atau Daejeon pasti melewati Sejong. Dari jalan tol keluar 10-15 menit udah sampai, jadi pas road trip jarak jauh bisa mampir di sini 30 menit sampai 1 jam sebagai ganti rest area. Jalan-jalan di gang hanok, ngopi di kafe sebelah, terus lanjut perjalanan.
Kalau tinggal deket Sejong kayak aku, cocok buat jalan-jalan santai ringan. Kalau lagi traveling dan kebetulan lewat, cukup mampir sebentar jalan keliling gang hanok. Ini bukan tempat yang didesain buat pameran wisatawan, tapi kampung beneran tempat orang tinggal yang kamu jalan pelan-pelan dalam hening — dan itulah daya tarik desa hanok tersembunyi ini di Korea.
Cara ke desa hanok Goun-dong di Sejong
📍 Alamat
Area Goun Hanok-gil, Goun-dong, Sejong (Kota Otonom Khusus Sejong, Korea Selatan)
Goun Hanok-gil, Goun-dong, Sejong Special Autonomous City, South Korea
🔍 Kata kunci navigasi
"Sejong Hanok Village" atau "Goun-dong Hanok Village" atau "Hemel Cafe Sejong"
🅿️ Parkir
Disarankan parkir di parkiran kafe Hemel (gratis kalau beli di kafe). Ada juga parkiran umum gratis di tengah desa.
Park at Hemel Tea House (free with cafe purchase). Free public parking also available at village center. Street parking inside the village is prohibited — fines apply.
🎟️ Tiket masuk
Gratis
🚗 Waktu tempuh dari kota-kota utama
Seoul → sekitar 1 jam 30 menit – 2 jam (via jalan tol)
Daejeon → sekitar 30 menit
Pusat kota Sejong → sekitar 10 menit
🚶 Waktu jalan kaki
Keliling seluruh desa: sekitar 20 menit. Termasuk kafe: disarankan 1–1,5 jam.
📸 Waktu kunjungan yang disarankan
Jalan-jalan disarankan pukul 14:00–17:00. Foto backlight saat senja sangat bagus. Hari kerja jauh lebih sepi daripada akhir pekan.
Tempat menarik di sekitar desa hanok
Kalau desa hanok aja kurang puas, di sekitarnya ada cukup banyak tempat yang bisa digabung. Kalau dijadiin rute setengah hari, cukup leluasa buat keliling semuanya.
Kafe Hanok Hemel (Hemel Tea House)
Kafe hanok yang nempel persis di sebelah desa. Bisa nikmatin teh tradisional, kopi, dan dessert di dalam bangunan hanok. Parkirannya luas, jadi enak kalau mau parkir di sini pas ke desa hanok. Review lengkap menyusul.
Alamat: Goun Hanok 1-gil 3, Sejong | Jam buka: Senin–Jumat 09:30–18:00 / Akhir pekan 10:00–20:00
Instagram Hemel →Arboretum Nasional Sejong (National Sejong Arboretum)
Arboretum perkotaan pertama di Korea. Rumah kaca empat musimnya cukup worth it dan taman outdoornya luas. 10 menit naik mobil dari desa hanok.
Alamat: Sumogwon-ro 136, Sejong | Tiket masuk: Dewasa Rp 55.000 / Remaja Rp 44.000 / Anak-anak Rp 33.000 | Tutup hari Senin
Musim panas 09:00–18:00 / Musim dingin 09:00–17:00
Website resmi Arboretum Nasional Sejong →Taman Danau Sejong (Sejong Lake Park)
Taman danau buatan terbesar di Korea. Ada jalur jalan kaki, jalur sepeda, sampai panggung di atas air. Tiket masuk gratis, parkir gratis. 5 menit naik mobil dari desa hanok.
Alamat: Dasom-ro 216, Sejong | Jam operasional: 05:00–23:00 (buka setiap hari)
Rute setengah hari yang disarankan
Rute setengah hari desa hanok Sejong
Sampai di kafe Hemel → parkir → minum teh atau kopi (sekitar 40 menit – 1 jam)
Jalan-jalan di desa hanok Goun-dong (sekitar 20–30 menit)
Arboretum Nasional Sejong atau Taman Danau (5–10 menit naik mobil, sekitar 1–2 jam)
Makan di pusat kota Sejong lalu lanjut ke destinasi berikutnya
Postingan ini pertama kali dipublikasikan di https://hi-jsb.blog.