
Makan Sashimi Korea di Tepi Laut, Pengalaman Tak Terlupakan
Daftar Isi
13 item
Desember, dari Daejeon ke Pantai Pulau Geoje
Waktu itu bulan Desember. Tinggal di Daejeon, kota yang jauh dari laut, kadang memang suka kangen pantai. Kebetulan akhir pekan itu aku dan istri sama-sama nggak ada kerjaan. "Mau lihat laut nggak?" satu kalimat itu langsung bikin kami berangkat. Tanpa rencana apa-apa, kami langsung turun ke Geoje, sebuah pulau di pesisir selatan Korea yang terkenal dengan hasil lautnya. Angin laut bulan Desember itu benar-benar menusuk tulang. Hampir menyesal begitu turun dari mobil, tapi sepanjang jalan pantai restoran-restoran sashimi terus bermunculan. Dingin sih dingin, tapi masa sudah sampai sini nggak makan ikan mentah? Langsung saja kami masuk ke salah satu restoran seafood pinggir pantai.
Sebelumnya aku pernah menulis tentang makan di restoran sashimi di pedalaman, yang jauh dari laut. Waktu itu sistemnya paket lengkap, disajikan berurutan mulai dari makanan pembuka, lalu sashimi, ikan bakar, seafood kukus, sampai sup ikan pedas di akhir. Harganya memang agak mahal, tapi karena dapat banyak jenis sekaligus, rasanya cukup worth it. Tapi restoran seafood di pinggir pantai ternyata beda banget.
Restoran Seafood Pinggir Pantai vs Pedalaman, Cara Pesannya Saja Sudah Beda
Nggak ada sistem paket di sini. Langsung saja ditanya "Mau pesan apa?" dan kita pilih sendiri mau makan apa. Penataan mejanya juga nggak mewah, mejanya dilapisi plastik dan langsung mulai. Tapi justru ini yang bikin harganya lebih terjangkau. Kita bisa pilih menu utama yang diinginkan saja dan makan sepuasnya. Di sini bahan bakunya langsung dari laut hari itu juga, dan itulah perbedaan paling besar dengan restoran di pedalaman.
| Restoran Pedalaman | Restoran Pinggir Pantai | |
|---|---|---|
| Cara Pesan | Paket lengkap (dari pembuka sampai sup ikan pedas berurutan) | Satuan (pilih sendiri mau makan apa) |
| Penataan Meja | Banyak lauk pauk, tampilan mewah | Sederhana dan simpel, meja dilapisi plastik |
| Bahan Baku | Ikan yang sudah melalui proses distribusi | Ikan yang baru ditangkap hari itu langsung dari laut |
| Kisaran Harga | Termasuk paket jadi per orang cukup mahal | Satuan jadi bisa disesuaikan budget |
| Suasana | Interior rapi, agak formal | Sederhana tapi depan laut, suasana bebas dan santai |
Sebelum Sashimi Datang, Lauk Pembuka Dulu

Hidangan pertama yang keluar seperti ini. Dari kiri ada stik timun dan wortel, semacam jeon (pancake Korea) berwarna hijau, gurita rebus, dan baek-kimchi alias kimchi putih. Jeon hijau itu entah dari rumput laut atau daun kucai, jujur aku nggak tahu pasti. Nggak sempat tanya. Memang sering muncul di restoran pinggir pantai sih, tapi aku keburu lupa mau tanya.
Baek-kimchi yang di sebelah kanan itu, buat yang belum tahu, dibuat dari sawi putih sama persis seperti kimchi biasa, tapi tanpa bubuk cabai. Makanya warnanya putih dan nggak pedas. Rasa asam dan renyahnya masih ada seperti kimchi pada umumnya, tapi nggak menyengat. Jadi buat yang baru pertama kali coba kimchi dan masih takut, bisa mulai dari baek-kimchi ini dulu.

Yang di tengah itu gurita rebus. Ini salah satu lauk yang sering muncul di restoran seafood pinggir pantai. Bagian luarnya berwarna merah keunguan dan dalamnya putih matang sempurna. Teksturnya kenyal dan rasanya gurih lembut, cocok banget untuk membuka selera sebelum sashimi datang. Kalau pertama kali lihat mungkin agak asing, tapi jangan langsung menghindarinya ya. Coba celupkan ke saus chojang (saus cuka pedas) dan makan satu potong. Tekstur kenyalnya itu ternyata nagih banget. Guritanya sendiri hampir nggak ada rasanya yang kuat, jadi nggak bikin eneg.

Aku angkat sepotong gurita dengan sumpit. Kalau dilihat dari dekat, penghisapnya masih terlihat jelas, dan buat yang baru pertama kali lihat ini mungkin agak kaget. Tapi justru itu tanda kalau guritanya segar. Kenyal dan elastis, sekali makan satu potong pasti tanganmu terus meraih lagi. Sekalian latihan pakai sumpit juga ya.
Piring Aneka Seafood Khas Restoran Pinggir Pantai Korea

Setelah makan lauk pembuka, hidangan berikutnya datang. Satu piring penuh dengan berbagai jenis seafood yang ditata di atas daun perilla. Warnanya beda-beda, bentuknya juga macam-macam, pertama kali lihat langsung mikir "Ini semua apa ya?" Istri juga bingung nggak tahu yang mana apa. Di restoran pinggir pantai memang sering begini, seafood yang baru ditangkap hari itu dikumpulkan dalam satu piring dan disajikan. Justru seru karena ada hal-hal yang nggak ada di menu.
Sannakji - Gurita Hidup yang Dimakan Mentah, Makanan Khas Korea

Oke, sebentar dulu. Ini namanya sannakji.
Gurita kecil yang diletakkan di atas daun perilla, dimakan mentah begitu saja. Beberapa saat lalu masih hidup. Di atasnya ditaburi biji wijen dan penghisapnya masih bergerak-gerak. Kalau cari reaksi orang asing pertama kali lihat ini di YouTube, hampir semuanya bilang "menjijikkan", "nggak mungkin", "aku nggak sanggup". Di komunitas ekspatriat juga banyak yang bilang "cukup lihat saja", "ini sudah melewati batas kemampuanku".
Tapi yang menarik, kalau sudah tinggal di Korea 6 bulan atau lebih dari setahun, ceritanya jadi beda total. Bukan satu dua orang yang bilang "Dulu nggak berani lihat, sekarang nggak bisa hidup tanpa ini." Sannakji di kalangan orang asing yang tinggal di Korea itu hampir selalu melewati 3 tahap: penolakan, penerimaan, dan kecanduan.
Cara makannya simpel. Celupkan ke saus minyak wijen campur garam, lalu masukkan ke mulut sekaligus. Tapi momen itu luar biasa. Teksturnya kenyal dan elastis, aroma minyak wijen yang gurih menyebar di mulut, dan tiba-tiba kamu berpikir "Lho, ini enak?" Hampir nggak ada negara lain di dunia yang makan gurita mentah begini, tapi di restoran seafood pinggir pantai Korea, ini menu yang biasa saja.
Meongge (Sea Squirt) - Rasanya Seperti Memakan Laut Sekaligus

Berikutnya adalah meongge. Dalam bahasa Inggris disebut Sea Squirt, dan jujur nama Inggrisnya juga nggak bagus-bagus amat ya.
Meongge termasuk seafood yang cukup asing di seluruh dunia. Di beberapa wilayah Mediterania dan Chili memang dimakan, tapi yang memakannya mentah langsung sebagai sashimi, Korea hampir satu-satunya. Bentuknya juga unik. Luarnya berupa cangkang oranye yang bergerigi-gerigi, tapi kalau dibuka dalamnya ada daging oranye cerah. Bingung ini hewan laut atau tanaman.
Soal rasa, jujur ya, aku sampai sekarang masih belum begitu paham. Aroma lautnya sangat kuat. Bukan bau amis, tapi lebih seperti minum air laut itu sendiri, aromanya langsung naik ke hidung. Reaksi orang yang pertama kali makan hampir 100% pasti "Ini apa sih?" dan aku juga begitu pertama kali, bahkan kali ini pun suapan pertama masih bikin ragu. Istri sih suka meongge, tapi aku kayaknya belum sepenuhnya terbiasa.
Tapi di antara orang asing yang sudah lama tinggal di Korea, yang sekali jatuh cinta sama meongge bilang nggak bisa hidup tanpa ini. Rasanya asin-asin manis, aromanya kuat tapi aftertaste-nya bersih. Seperti semua cita rasa laut terkemas dalam satu potong. Tingkat kesulitannya memang tinggi, tapi layak untuk dicoba.
Sashimi Kerang - Menu yang Hanya Ada di Pinggir Pantai

Ini sashimi kerang.
Di pedalaman, kalau dengar kerang biasanya dibakar atau direbus kan? Aku juga mikirnya begitu. Tapi di sini kerangnya disajikan mentah begitu saja sebagai sashimi. Awalnya kaget, "Kerang dimakan mentah?"
Tapi begitu coba satu suap, langsung paham. Buka cangkangnya, dagingnya montok banget di dalam, begitu digigit aroma laut menyebar dan rasanya manis bersih. Kalau dibakar, airnya menguap dan teksturnya berubah, tapi kalau mentah, kelembapan dan rasa manisnya masih utuh. Benar-benar makanan yang berbeda dari kerang bakar.
Alasan ini bisa dilakukan cuma satu: kesegaran. Karena restoran ini tepat di depan laut. Di Daejeon nggak mungkin disajikan begini. Memang nggak bisa. Karena ini sesuatu yang hanya bisa dinikmati saat ke pantai, rasanya jadi lebih istimewa.
Teripang (Sea Cucumber) - Seafood yang Ternyata Mudah Dimakan

Ini teripang. Dalam bahasa Inggris disebut Sea Cucumber, agak lucu karena ada kata mentimun di namanya. Katanya karena bentuknya lonjong seperti mentimun. Tapi kalau lihat fotonya, warnanya hitam pekat dengan permukaan bergerigi, jadi pertama kali lihat mungkin berpikir "Ini dimakan?"
Teripang memang ada di seluruh lautan dunia, tapi yang memakannya mentah sebagai sashimi hanya Korea dan Jepang. Di Tiongkok biasanya dikeringkan atau dimasak dulu, nggak dimakan mentah begini.
Kalau digigit, teksturnya renyah. Seperti menggigit mentimun. Rasanya sendiri nggak kuat, cenderung hambar dan bersih, jadi jauh lebih mudah dimakan dibanding meongge. Jujur, buat aku yang masih ragu di depan meongge, teripang jauh lebih nyaman. Celup ke saus chojang, rasa asam sausnya cocok banget dengan tekstur renyahnya. Kalau baru pertama kali mau coba, aku sarankan coba teripang dulu sebelum meongge.
| Seafood | Ciri Khas Rasa | Tekstur | Tingkat Kesulitan |
|---|---|---|---|
| Sannakji (Gurita Hidup) | Gurih dan lembut dengan saus minyak wijen garam | Kenyal, elastis, penghisap menempel di mulut | ★★★★☆ |
| Meongge (Sea Squirt) | Asin-manis, aroma laut sangat kuat | Lembut dan sedikit berair | ★★★★★ |
| Sashimi Kerang | Manis dan bersih, aroma laut halus | Montok dan kenyal | ★★☆☆☆ |
| Teripang (Sea Cucumber) | Hambar lembut, cocok dengan saus chojang | Renyah, seperti menggigit mentimun | ★★★☆☆ |
Di Sela-Sela Sashimi, Ikan Bakar Wajib Ada

Kalau terus-terusan makan sashimi, pasti butuh sesuatu yang hangat kan. Apalagi bulan Desember. Habis kena angin di luar terus masuk makan yang dingin-dingin, perut terasa agak kosong. Pas banget waktu itu keluar ikan bakar.
Di restoran seafood pinggir pantai, ikan bakar sering disajikan bersamaan dengan sashimi. Restoran ini juga begitu. Kulitnya dipanggang sampai kecokelatan dan renyah, aroma gurihnya menguar ke atas. Setelah makan sashimi terus tiba-tiba ambil sepotong ini, rasa di mulut langsung berubah total.
Kuncinya adalah menyisir daging di sela-sela tulang. Orang Korea sudah terbiasa melakukan ini, tapi buat yang baru pertama kali mungkin agak susah. Bagian luar renyah dan dalam lembap, sederhana tapi rasanya paling menenangkan. Bergantian antara rasa sashimi yang dingin dan segar dengan ikan bakar yang hangat dan gurih, itu salah satu kenikmatan khas restoran sashimi Korea.

Ini foto kerang yang tadi ada di piring, diangkat dengan tangan. Makan dengan cangkangnya begini memang gaya khas pinggir pantai. Dagingnya montok dan aroma lautnya langsung terasa.

Sesendok sannakji di atas sendok. Penghisapnya terlihat jelas dan masih bergerak-gerak. Tinggal celup ke saus minyak wijen garam dan langsung masukkan ke mulut. Satu suapan ini saja sudah cukup untuk memahami kenapa orang memakannya.
Menu Utama Hari Ini, Satu Piring Penuh Sashimi Campur

Akhirnya datang juga. Menu utama hari ini.
Satu piring penuh sashimi campur. Irisan tipis ikan putih bertumpuk-tumpuk dan di sisi kanan ada potongan yang lebih tebal. Dua jenis warna berbeda dalam satu piring, sepertinya bagian berbeda dari ikan yang sama. Jujur aku nggak tahu pasti ikan apa ini. Waktu pesan cuma bilang "Sashimi campur ya" dan langsung keluar begini. Bagian yang tipis enak dikunyah dengan tekstur yang pas, dan bagian tebalnya semakin dikunyah semakin terasa manisnya.
Begitu lihat ini, semua yang tadi dimakan — meongge, teripang, sannakji, kerang — langsung terlupakan. Baru sadar, inilah menu utamanya.
Di restoran sashimi Korea, nggak ada cara makan yang baku. Mau dicelup ke saus chojang juga boleh, dibungkus daun selada dengan bawang putih juga boleh, dicelup ssamjang (pasta kedelai pedas) juga boleh. Inilah perbedaan terbesar dengan sashimi Jepang. Di Jepang, kecap asin dengan wasabi sudah jadi standar baku. Di Korea, bebas. Ada keseruan meracik kombinasi sendiri sesuai selera.
Karena ikannya baru saja dari laut, nggak ada bau amis, bersih, dan semakin dikunyah semakin manis. Jelas beda dengan sashimi yang dimakan di Daejeon. Pantas saja orang-orang rela jauh-jauh ke restoran pinggir pantai demi rasa ini.

Ini bukan gaya penyajian mewah yang rapi. Lebih seperti langsung diiris dan ditumpuk di piring begitu saja. Tapi ada daya tarik tersendiri. Visual yang nggak formal tapi melimpah itu justru terlihat lebih menggiurkan. Toh rasanya nggak ada hubungannya dengan cara mengiris. Yang penting segar.
Cara Makan Sashimi ala Korea, Budaya Makan dengan Ssam

Inilah cara makan sashimi ala Korea. Taruh sepotong sashimi di atas daun selada, tambahkan sepotong bawang putih dan cabai hijau Korea, lalu bungkus semuanya dan masukkan ke mulut sekaligus.
Di Jepang, sashimi dimakan dengan mencelupkan ke kecap asin, itu saja. Di Korea ada budaya makan dengan ssam alias dibungkus sayuran. Renyahnya selada, kenyalnya sashimi, pedasnya bawang putih, dan cabinya yang menyengat, semuanya masuk ke mulut dalam satu gigitan dan kombinasinya benar-benar cocok. Rasa saat dimakan terpisah dan saat dimakan bersama itu jauh berbeda.
Awalnya mungkin terasa aneh. Tapi sekali coba makan begini, makan sashimi biasa tanpa bungkusan rasanya jadi kurang.

Kali ini versi dengan tambahan selembar daun perilla di atas selada.
Daun perilla itu bahan makanan yang cukup intens buat orang yang baru pertama kali mencoba. Bentuknya seperti herba tapi aromanya jauh lebih kuat dari mint atau basil. Pertama kali cium pasti berpikir "Ini serius dimakan?" Di antara makanan Korea, daun perilla termasuk yang paling sulit diadaptasi dan memang banyak orang yang mengakui itu.
Tapi kalau bertemu sashimi, ceritanya beda. Selada di bawah, selembar daun perilla, sepotong sashimi di atasnya, tambah bawang putih dan sedikit saus chojang lalu bungkus sekaligus. Aroma kuat daun perilla justru menetralkan bau amis ikan mentah. Keduanya saling melengkapi kekurangan masing-masing. Kalau merasa aroma daun perillanya terlalu kuat, itu normal kok. Tapi coba makan bersama sashimi dulu, pasti pikiranmu berubah.

Ini foto dari lebih dekat. Terlihat selada, daun perilla, dua potong sashimi, bawang putih, dan saus chojang di atasnya. Sashimi-nya bening berkilau, tinggal masukkan ke mulut begitu saja.
Setelah Sashimi Habis, Penutup dengan Sup Pedas dan Nasi

Setelah sashimi habis, meja ditata ulang dengan hidangan nasi.
Menu utamanya adalah sup ikan yang dimasak langsung di panci dan disajikan mendidih. Yang menarik, ini bukan dari ikan baru. Tulang dan sisa daging dari sashimi yang tadi dimakan dimasukkan langsung ke panci dan direbus. Nggak ada yang dibuang. Makanya kuahnya kental dan dalam rasanya.
Lauk pauknya juga bermacam-macam. Ada tumis tauge, kimchi, bayam, rumput laut, dan teri goreng manis. Jujur, karena ini restoran yang sistemnya satuan, aku nggak berharap banyak untuk menu penutupnya. Tapi ternyata hidangan nasinya disajikan cukup lengkap dan serius.




Ini lauk-lauknya. Kimchi, tumis sayuran dengan taburan wijen, teri kecil yang ditumis manis-gurih, dan rumput laut. Sayuran hijaunya aku nggak yakin apakah bayam atau jenis sayuran musim semi lainnya.
Di meja makan Korea, lauk seperti ini memang standar dan selalu ada beberapa jenis. Di luar negeri biasanya hanya ada satu menu utama kan. Di Korea, semangkuk nasi dengan beberapa jenis lauk yang disajikan bersamaan itu sudah budaya. Kalau baru pertama kali mengalami ini, pasti terasa menyenangkan. Ambil sedikit-sedikit dari tiap lauk, tahu-tahu nasi satu mangkuk sudah habis.

Ini maeuntang alias sup ikan pedas Korea yang mulai mendidih. Kuahnya merah dengan potongan daun bawang yang melimpah, dan aroma pedasnya menguar ke atas. Di tengah dinginnya bulan Desember, satu sendok sup ini langsung bikin badan hangat. Setelah makan sashimi dingin, kuah panas ini pas banget di mulut. Istri sampai minta tiga mangkuk kuahnya saja.

Aku coba angkat dengan sendok sayur. Terlihat daging yang masih menempel di sekitar tulang ikan. Karena direbus dari sisa sashimi tadi, memang bukan ikan utuh, tapi tulang dan sisa dagingnya sudah empuk banget di dalam kuah. Dari satu ikan, dimakan sebagai sashimi lalu tulangnya direbus jadi sup sampai habis tak tersisa, itulah cara restoran sashimi Korea.

Kalau dituang ke mangkuk jadinya seperti ini. Kuah merah dengan potongan daging ikan yang banyak. Dimakan dengan nasi, rasanya luar biasa. Kuah pedasnya menetralkan perut setelah makan sashimi dingin.
Restoran Seafood Pinggir Pantai Geoje, Nggak Salah Sudah Jauh-Jauh ke Sini
Hidangan ikan mentah yang kami nikmati di pinggir pantai Pulau Geoje ternyata jauh lebih beragam dari yang dibayangkan. Sannakji, meongge, teripang, sashimi kerang — banyak hal yang asing, tapi satu per satu dicoba dan tahu-tahu piringnya sudah kosong. Meongge jujur masih agak sulit buat aku, teripang ternyata enak, dan sannakji sekali coba langsung bikin ketagihan. Istri bilang sashimi kerang yang paling enak. Memang selera tiap orang beda-beda ya.
Nggak perlu mewah, nggak perlu rapi, yang penting segar. Makan hasil tangkapan hari itu langsung di depan laut, itu sendiri sudah pengalaman yang istimewa. Jelas beda dengan sashimi yang dimakan di Daejeon. Bulan Desember hampir mati kedinginan, tapi setelah makan sashimi dan menghabiskan kuah sup ikan pedas sampai tetes terakhir, rasanya keputusan turun ke sini memang tepat. Kalau ada kesempatan ke pinggir pantai Korea, jangan lewatkan restoran seafood pinggir pantainya ya.
Artikel ini pertama kali dipublikasikan di https://hi-jsb.blog.