
Makan di SPBU Thailand: 3 Kuliner Lokal Cuma Rp30 Ribu
Kami menghormati iman dan budaya kuliner Anda
Artikel ini mungkin membahas makanan yang tidak sesuai dengan standar diet keagamaan Anda. Meskipun Anda tidak mengonsumsinya, kami berharap perjalanan mengenal beragam budaya kuliner dunia ini menjadi pengalaman yang menyenangkan. Selamat membaca dengan hati yang tenang.
Daftar Isi
14 item
Catatan untuk pembaca: Artikel ini membahas pengalaman kuliner di Thailand yang mencakup hidangan berbahan daging babi (non-halal). Kami sangat menghormati setiap pembaca yang memiliki pantangan makanan tertentu. Informasi ini disajikan sebagai referensi budaya kuliner, dan kami menghargai kebijaksanaan kamu dalam memilih bacaan. Terima kasih atas pengertiannya.
Makan siang di SPBU Thailand, serius?
Kalau kamu lagi jalan-jalan ke Thailand dan pengen nyobain street food lokal yang autentik, ada satu tempat nggak terduga yang wajib kamu tahu: SPBU. Serius, warung makan terenak kadang tersembunyi di dalam pom bensin. Kalau di Indonesia, SPBU ya tempatnya isi bensin doang. Paling banter ada Indomaret atau Alfamart nempel di sebelahnya, beli Indomie cup sama kopi sachet, udah selesai.
Aku tinggal 3 tahun di Thailand. Istriku orang Thailand, dan kami tinggal bareng di Rayong, kota pesisir sekitar 2 jam ke tenggara dari Bangkok. Hari itu lagi dalam perjalanan pulang, mampir ke SPBU PTT buat isi bensin. Istriku yang ngajakin makan siang di situ. SPBU di Thailand itu bukan cuma tempat ngisi bahan bakar. SPBU besar kayak PTT itu isinya lengkap banget — minimarket, kafe, warung makan, bahkan tempat pijat. Mirip rest area tol di Indonesia, tapi ini ada di pinggir jalan nasional biasa. Nah, hari ini aku mau ceritain tiga makanan Thailand yang kami makan di warung dalam SPBU PTT itu: nasi kaki babi khao kha moo, mie tom yum mama, dan kuay tiew nam tok.

Ini pemandangan SPBU PTT di Rayong. Keliatan payung-payung merah dengan bangku di bawahnya, dan di belakang ada bangunan 7-Eleven, kafe, sama warung makan. Lebih mirip mal kecil daripada pom bensin. Pertama kali ke Thailand dulu, aku sempat takjub ngeliat ini. Tapi setelah 3 tahun tinggal, aku paham alasannya.
Rest area tol Indonesia vs stasiun SPBU jalan nasional Thailand
Indonesia dan Thailand itu kondisi jalannya beda banget.
🇮🇩 Indonesia
Jalan tol trans Jawa dan trans Sumatera makin berkembang. Rest area tipe A muncul tiap 40–50 km dengan food court, minimarket, mushola, dan toilet yang cukup lengkap. Tapi SPBU di jalan nasional biasa? Kebanyakan ya isi bensin doang, paling beli gorengan di warung sebelah.
🇹🇭 Thailand
Jalan tol juga ada, tapi sebagian besar perjalanan masih lewat jalan nasional dan jalan provinsi. Makanya, SPBU di pinggir jalan nasional berkembang jadi stasiun komplit — ada minimarket, kafe, warung makan, bahkan tempat pijat. Jumlah stasiun SPBU seperti ini jauh lebih banyak daripada rest area tol di Indonesia.
Indonesia punya rest area tol sebagai tempat istirahat traveler, Thailand punya stasiun SPBU di jalan nasional yang fungsinya sama persis.
Indonesia fokus ke pengembangan rest area di jalan tol, sementara Thailand mengembangkan SPBU di jalan nasional jadi semacam kompleks lengkap. Arahnya beda, tapi kebutuhannya sama aja di mana-mana: butuh tempat buat istirahat, makan, dan ngopi di tengah perjalanan.
Suasana warung makan di SPBU, kayak gini nih

Di depan warung makan SPBU, ada deretan meja dan kursi stainless steel kayak gini. Ini style yang super umum di warung lokal Thailand — kalau mau bandingin sama Indonesia, mirip kayak meja besi di depan warteg atau warung tegal pinggir jalan. Strukturnya semi indoor semi outdoor, jadi kamu makan sambil kena angin sepoi-sepoi. Enak sih sebenernya, tapi jujur ya, siang-siang di Thailand itu duduk diem aja punggung udah basah kuyup keringetan. AC jelas nggak ada. Kalau ada kipas angin satu yang nyala, itu udah syukur banget. Tapi istriku malah lebih suka tempat kayak gini. Orang Thailand itu banyak yang lebih pilih makan di luar daripada di ruangan ber-AC.
Pilih mie-nya, nanti dimasakin

Di satu sisi warung, ada rak yang dipajang penuh mie instan dan mie segar kayak gini. Sistemnya simpel: kamu pilih satu bungkus mie, lalu dapur yang masakin dengan berbagai bahan tambahan. Kalau di Indonesia, ini mirip kayak di warteg atau warung Indomie yang masakin Indomie buat kamu. Konsepnya mirip, tapi caranya agak beda. Di Indonesia, Indomie dituang ke panci, air dimasak, bumbu masuk, telur ceplok ditambah, semua dimasak sampai matang sempurna. Di Thailand, mie-nya direbus sebentar di air panas, ditaruh di mangkuk, lalu disiram kuah kaldu, dan di atasnya ditambahin daging, sayur, daun ketumbar, dan topping lainnya. Tekstur mie-nya lebih al dente, dan kuahnya juga nggak sekental kuah Indomie rebus — lebih bening dan ringan.
Ini kaki babi Thailand? Mirip banget sama babi kecap Indonesia!


Ini dia kaki babi ala Thailand. Pertama kali lihat, jujur aku kaget. Lho, ini bukannya mirip banget sama babi kecap yang ada di rumah makan Tionghoa di Indonesia? Kulit cokelat mengkilap, daging yang dimasak sampai empuk banget karena direbus lama dengan tulangnya, dan sayuran hijau yang diletakkan di bawahnya. Kalau ditaruh di etalase rumah makan Chinese food di Glodok atau Pecinan Semarang, nggak akan ada yang curiga ini makanan Thailand. Dari warnanya aja udah keliatan banget kalau ini dimasak lama pakai kecap asin, dan kulitnya yang transparan bergelatin itu hampir identik sama babi kecap versi Indonesia.
Kalau dengar makanan Thailand, yang kepikiran duluan pasti tom yum atau pad thai dengan bumbu rempah yang kuat. Tapi khao kha moo ini bukan dari keluarga itu — rasanya justru lebih dekat ke babi kecap ala Chinese Indonesian. Ini memang makanan yang dibawa imigran Tionghoa ke Thailand, makanya berbasis kecap asin dan gula khas masakan Asia Timur. Akarnya mirip sama babi kecap kita, jadi wajar kalau hasilnya juga mirip.
Semangkuk khao kha moo, nasi kaki babi ala Thailand yang komplit



Ini dia khao kha moo yang udah lengkap — nasi kaki babi ala Thailand. Istriku yang pesen, tapi kami bagi dua. Di atas nasi, ditumpukin kaki babi yang udah empuk banget, lalu disiram kuah kecap manis dari rebusan dagingnya. Di sebelahnya ada sawi hijau rebus dan acar daun sawi.
Kalau di Indonesia, babi kecap biasanya disajikan di piring terpisah sebagai lauk dengan nasi putih di sebelahnya. Atau kadang dipotong-potong kecil jadi hidangan ala rumah makan Tionghoa. Posisinya sebagai lauk pendamping nasi. Tapi di Thailand, dagingnya langsung ditaruh di atas nasi jadi semacam rice bowl komplit satu mangkuk. Kuah kecapnya meresap ke nasi, bikin setiap butir nasi punya rasa, dan ini yang bikin sendok terus balik ke mangkuk nggak bisa berhenti.
Harganya? Satu mangkuk cuma 60 baht, atau sekitar Rp27.000. Kalau di Indonesia, semangkuk babi kecap di rumah makan Chinese food biasanya Rp45.000 sampai Rp70.000 tergantung tempatnya. Memang porsi dan potongannya beda jadi nggak bisa dibandingin langsung, tapi sebagai satu porsi makan siang komplit dengan nasi, harga segitu beneran nggak masuk akal murahnya. Pertama kali aku makan khao kha moo itu di food court Terminal 21 di daerah Asok, Bangkok, dan waktu itu juga udah kaget sama harganya. Warung di SPBU Rayong ini bahkan lebih murah lagi. Di pasar malam dekat rumah kami di Rayong juga sering beli, dan di mana-mana harganya kurang lebih segitu.
Babi kecap Indonesia vs khao kha moo Thailand, teksturnya beda banget



Kalau dilihat dari dekat, khao kha moo itu kayak gini. Nasi jasmine di bawah, kaki babi di atasnya, di satu sisi ada acar daun sawi, sisi lainnya sawi hijau rebus. Kuah kecap menggenang tipis di dasar piring.
Waktu dimakan, teksturnya ternyata cukup beda sama babi kecap ala Indonesia.
🇮🇩 Babi Kecap Indonesia
Teksturnya cenderung lebih kenyal dan padat. Kulit babi masih ada gigitannya, dagingnya masih terasa seratnya dan enak digigit-gigit. Bumbunya biasanya pakai kecap manis, bawang putih, jahe, dan kadang ada sedikit kecap asin. Sering disajikan dengan sayur atau tahu sebagai pelengkap.
🇹🇭 Khao Kha Moo Thailand
Teksturnya lembut banget sampai hampir meleleh di mulut. Kulitnya langsung larut, dagingnya cukup ditekan pakai sendok langsung terurai ikut seratnya. Basisnya kecap asin dan gula, jadi lebih manis dibanding versi Indonesia. Tanpa saus tambahan, langsung campur sama nasi aja udah pas banget rasanya.
Tampilannya mirip banget, tapi tekstur dan arah rasanya cukup berbeda. Keduanya sama-sama enak dan memuaskan.
Acar daun sawi ternyata punya peran yang nggak disangka-sangka. Kaki babinya manis dan berminyak, dan kalau dimakan terus-terusan bisa terasa enek. Nah, acar yang asam ini bertugas "membersihkan" mulut di antara suapan. Kalau di Indonesia, fungsinya mirip kayak acar timun yang nemenin nasi goreng — penyegar mulut. Istriku yang orang Thailand bilang, tanpa acar sawi ini, khao kha moo itu belum lengkap.
Tom yum mama, dunia mie instan pedas asam ala Thailand


Ini pesananku — tom yum mama, mie instan pedas asam ala Thailand. Ingat rak mie tadi? Hasilnya kayak gini setelah dimasakin. Mama itu merek mie instan paling legendaris di Thailand — posisinya kayak Indomie di Indonesia. Mie Mama dimasak di kuah tom yum, lalu di atasnya ditambahin bakso ikan, potongan daging babi, kacang tanah cincang, minyak cabai, daun bawang, dan udang kering yang banyak banget. Di 7-Eleven Thailand juga bisa beli Mama lalu minta dimasakin di sana, tapi kalau makan di warung, toppingnya jauh lebih royal.
Jujur ya, pertama kali aku nggak sanggup habisin semangkuk
Aku mau jujur. Mie ini, kebanyakan orang yang bukan dari Asia Tenggara nggak akan sanggup habisin semangkuk di percobaan pertama. Bukan karena terlalu pedas atau asin. Tapi karena profil rasa ini benar-benar asing buat lidah yang belum terbiasa. Serai, lengkuas, dan daun jeruk purut menciptakan kombinasi asam dan aroma herbal yang unik banget. Orang Indonesia mungkin sedikit lebih familiar karena kita juga punya serai dan lengkuas di masakan kita, tapi konsentrasi rasa asam-pedas-herbal di tom yum itu tetap beda level. Pertama kali makan, otak bingung ini enak atau nggak.
Aku sendiri juga nggak langsung bisa makan ini dari awal. Dua kali jalan-jalan ke Thailand sebelumnya, tom yum itu sama sekali nggak aku sentuh. Baru di kunjungan ketiga, pelan-pelan mulai masuk sesendok-sesendok, dan begitu akhirnya "klik" sama lidah, malah jadi ketagihan. Pas tinggal di Rayong, seminggu pasti makan satu-dua kali. Sekarang udah balik ke Korea, aku masih sering pesan Mama tom yum secara online, tapi jujur rasanya nggak sama. Versi segar dengan rempah asli yang dimakan langsung di sana sama versi bumbu kering di bungkusan impor itu jelas beda jauh. Harganya? Semangkuk cuma 50 baht, atau sekitar Rp22.000.
Kuay tiew nam tok, mie kuah gelap Thailand yang rasanya dalam



Ini pesanan istriku — kuay tiew nam tok, mie kuah daging babi Thailand dengan kuah yang gelap dan pekat. Warna kuahnya intens banget, hampir hitam. Ini karena ada darah babi yang dijadikan basis kuah, yang bikin teksturnya kental dan warnanya cokelat tua. Nam tok artinya "air terjun" dalam bahasa Thailand, dan kalau lihat warna kuahnya, namanya jadi masuk akal.
Istriku makan ini sejak kecil. Buat orang Thailand, kuay tiew nam tok itu posisinya kayak soto ayam atau bakso buat kita di Indonesia. Bukan makanan spesial, tapi makan siang sehari-hari yang diseruput cepat-cepat di sela kesibukan.
Rasanya beda total dari soto atau bakso Indonesia
Kalau dicicipin sesendok kuahnya, ada kesan mirip kuah daging kita tapi arahnya beda jauh. Soto atau bakso Indonesia punya basis kaldu tulang yang gurih dengan bumbu kuning atau bawang goreng. Kuah nam tok Thailand ini campuran kecap asin, cuka, cabai bubuk, dan gula — jadi asam-manis-pedas sekaligus. Di atasnya ada serpihan cabai bubuk kasar dan daun bawang cincang, dan waktu daging babinya diangkat, seratnya langsung terurai karena udah dimasak lama banget sampai super empuk.
Kalau kamu lagi nyusun daftar kuliner Thailand wajib coba, masukin ini. Tingkat keberhasilan buat orang Asia Tenggara jauh lebih tinggi dibanding tom yum mama. Tom yum punya dinding pertama yang tinggi karena aroma herbalnya yang intens, tapi kuay tiew nam tok basisnya kecap asin yang relatif lebih familiar buat lidah kita. Kuah pekatnya yang dimakan bareng mie itu kasih kepuasan yang mirip kayak makan semangkuk bakso kuah kental di Indonesia. Harganya juga 50 baht, atau sekitar Rp22.000.
Kemangi dan taoge yang menciptakan keseimbangan


Dari dekat, kelihatan kayak gini. Daun kemangi Thailand ditaruh mentah di atas kuah. Kalau dicelup sebentar ke kuah panas lalu dimakan bareng dagingnya, aroma herbalnya naik pelan-pelan dan bikin segar. Mie-nya pakai bihun beras yang teksturnya transparan dan licin, dan di antaranya ada taoge yang kasih sensasi kriuk segar. Kuah yang pekat dengan mie doang bisa terasa berat, tapi kemangi dan taoge inilah yang bikin seimbang.
Sepotong daging diangkat pakai sumpit


Ini sepotong daging yang diangkat pakai sumpit. Keliatan kan seratnya udah terurai semua. Dari warnanya aja udah keliatan kalau ini dimasak berjam-jam, dan meskipun dijepit pakai sumpit masih bisa menjaga bentuk, begitu masuk mulut langsung hancur tanpa perlu dikunyah keras. Aku takjub warung di dalam SPBU bisa nyajiin kualitas kayak gini. Aku tanya istriku, emang di sini selalu seenak ini? Dia cuma ketawa dan bilang, "Di Thailand, makanan pinggir jalan itu yang paling enak." Setelah 3 tahun tinggal di sana, aku bisa konfirmasi omongannya itu benar adanya.
Tiga mangkuk cuma Rp30 ribu, jangan lewatkan SPBU Thailand
Waktu aku bilang ke teman-teman di Indonesia kalau aku makan siang di pom bensin, semua orang ketawa. Tapi ini faktanya: khao kha moo 60 baht, kuay tiew nam tok 50 baht, tom yum mama 50 baht — tiga porsi yang bikin kenyang pol, total 160 baht atau kurang dari Rp30.000. Di Indonesia, segitu cuma dapet semangkuk bakso sama es teh.
Kekurangannya kalau mau jujur? Ya panasnya. Makan mie kuah panas di tempat duduk semi outdoor pas cuaca 35 derajat itu keringetan luar biasa. Toiletnya juga toilet umum SPBU, jadi ya kebersihannya nggak bisa diharapin banyak. Tapi ada satu hal yang aku bener-bener sadari setelah 3 tahun di Thailand: makanan terenak bukan di restoran mahal ber-AC. Justru di warung SPBU kayak gini, di pasar malam, di gerobak pinggir jalan — tempat-tempat di mana orang lokal beneran makan sehari-hari. Itu yang paling enak dan paling berkesan.
Kalau kamu lagi rencana ke Thailand, inget ini: jangan lewatkan SPBU. Kalau kamu perjalanan dari Bangkok ke arah Pattaya atau Rayong lewat jalan nasional, SPBU PTT di pinggir jalan hampir pasti punya warung yang jual khao kha moo atau kuay tiew. Anggap aja kayak rest area tol di Indonesia, tapi dengan makanan lokal yang autentik banget. Soal khao kha moo, nggak perlu khawatir nggak cocok di lidah — ini makanan yang akarnya sama persis kayak babi kecap di rumah makan Chinese food Indonesia, jadi kemungkinan besar bakal langsung suka. Dan kalau tom yum awalnya terasa aneh, jangan nyerah. Aku sendiri baru "klik" di percobaan ketiga.
Artikel ini pertama kali dipublikasikan di https://hi-jsb.blog.