
Seafood Tower 5 Tingkat — Review Jujur, Harga, Cara Makan
Daftar Isi
13 item
Menara seafood kukus yang pasti kamu temui di kota pesisir Korea
Kalau kamu jalan-jalan ke pesisir Korea, ada satu pemandangan yang pasti bakal kamu lihat: meja-meja restoran dengan tumpukan kukusan aluminium bertingkat 3, 4, bahkan 5 tingkat, dengan uap mengepul dari sela-selanya. Itu namanya jogaejjim, menara seafood kukus. Makanan laut segar disortir berdasarkan jenisnya, ditumpuk berlapis-lapis di dalam kukusan, lalu dikukus sekaligus. Restoran kayak gini bisa kamu temuin dengan gampang di semua kota pesisir Korea — Tongyeong, Busan, Taean, Sokcho, Jeju, di mana aja.
Kalau ngomongin seafood Korea ke wisatawan, kebanyakan langsung kepikiran sashimi atau ikan mentah. Tapi hampir semua orang yang pernah coba jogaejjim bilang ini lebih oke. Sashimi itu ikan mentah di piring. Jogaejjim itu pengalaman yang beda total. Kamu dapat lobster, abalon, scallop, keong laut, kepiting, dan udang — semuanya dikukus bareng dalam satu kali makan. Sebagai sajian seafood, variasi dan dramanya itu jauh lebih kena. Makanya aku pengen bikin review yang lengkap soal pengalaman ini.
Strukturnya begini: setiap tingkat kukusan isinya jenis seafood yang berbeda. Selama dikukus, sari-sari makanan laut menetes ke bawah dan terkumpul di tingkat paling dasar, jadi kaldu yang super kaya rasa. Di akhir, kamu masukin mie potong tangan (kalguksu) ke dalam kaldu itu sebagai penutup. Kamu pilih jumlah tingkat sesuai ukuran rombongan — biasanya 3 sampai 5 tingkat — dan harganya beda-beda tergantung daerah, tapi menara 5 tingkat untuk 3–4 orang kira-kira sekitar Rp1.400.000.
Jogaejjim Sekilas
Ketemu jogaejjim 5 tingkat di musim dingin Tongyeong
Ini ceritanya waktu musim dingin, aku dan keluarga lagi di Tongyeong, kota pelabuhan di pesisir selatan Korea yang jaraknya sekitar 4 jam dari Seoul. Istri, ibu, adik, dan aku — berempat — lagi jalan-jalan di dekat pantai, terus ngeliat restoran jogaejjim dan langsung masuk aja. Lagi low season dan masih sore, jadi langsung dapat meja tanpa antri. Di luar dingin banget, jadi cuma duduk di tempat hangat aja udah bikin seneng. Di menu ada pilihan 3 tingkat, 4 tingkat, dan 5 tingkat. Karena lagi liburan, ya udah sekalian aja pesan yang 5 tingkat. Sekitar Rp1.400.000. Jujur, nggak murah. Tapi dibagi empat jadi sekitar Rp350.000 per orang — yang berhasil aku yakinin ke diri sendiri sebagai harga wajar buat makan seafood di tempat wisata.

Banchan yang datang duluan sebelum menara seafood
Sebelum menaranya datang, yang disajiin duluan itu banchan alias lauk pendamping. Kami dapat kimchi, tauge bumbu, tteok (kue beras), dan mandu (pangsit kukus). Di restoran Korea, semua banchan ini gratis total. Mereka otomatis datang bareng hidangan utama, dan kalau kurang tinggal minta tambah tanpa bayar lagi. Turis dari luar negeri biasanya kaget pertama kali ngalamin sistem ini, tapi di Korea ini hal yang sangat biasa.

Banchan-nya masih terus datang. Salad ikan mentah pedas, salad rumput laut, acar timun isi, dan jeli ek. Karena ini restoran pinggir pantai, seneng banget salad ikan mentahnya jadi banchan — hal yang nggak bakal kamu temuin di restoran pedalaman.
Momen menara kukusan 5 tingkat mendarat di meja
Dan akhirnya datang juga. Jogaejjim 5 tingkat. Lima kukusan aluminium ditumpuk satu di atas yang lain dan ditaruh langsung di meja — setinggi itu sampai aku nggak bisa ngeliat muka ibu yang duduk di seberang. Meja sebelah juga ikut nengok. Isinya apa ya, buka dari atas dulu atau dari bawah? Dua jenis saus udah disiapkan: chojang (saus merah asam-pedas dari cuka) dan saus berbasis kecap asin.

Tingkat paling atas — lobster dan gurita
Detik kami buka tutup paling atas, berempat langsung teriak bareng. Satu ekor lobster utuh duduk di sana, dan di sebelahnya gurita dengan tentakel melingkar. Ibu langsung bilang, "Kalau ini cuma tingkat pertama, di bawahnya isinya apa dong?" Aku juga penasaran setengah mati, pengen langsung buka tingkat selanjutnya. Adik udah sibuk keluarin HP buat foto, istri malah ngeliatin capit lobster sambil khawatir gimana cara bongkarnya. Dari tingkat pertama aja udah segini, Rp1.400.000 kayaknya nggak terlalu mahal juga deh.

Aku cabut daging ekor lobster-nya dan ternyata lebih tebal dari yang aku kira. Karena dikukus, dagingnya nggak kering sama sekali — lembab dan empuk. Kalau kamu bayangin lobster panggang mentega, ini beda banget rasanya. Karena dikukus tanpa bumbu, rasa manis alami dagingnya jauh lebih kelihatan. Terus kalau dicocol ke chojang, rasa asam-pedas khas seafood Korea itu langsung nendang. Bayangin bedanya kayak makan udang rebus biasa sama udang yang baru ditarik dari laut terus langsung dikukus — tingkatannya beda.

Guritanya datang dengan tentakel dikukus utuh. Pengisapnya masih kelihatan jelas banget, yang mungkin agak bikin kaget kalau pertama kali lihat, tapi tinggal potong pakai gunting jadi ukuran satu suap. Makin dikunyah makin keluar rasa gurihnya, dan nggak alot sama sekali — kenyal pas.

Pelayannya datang, potong gurita pakai gunting, pisahin capit lobster dari badannya, terus tata semuanya di piring buat kami. Di restoran jogaejjim Korea, pelayan yang nyiapin semuanya kayak gini itu hal yang umum banget. Mau pertama kali datang juga nggak perlu bingung gimana cara makannya.
Cara Makan Jogaejjim — Kalau Ini Pertama Kalinya
Tingkat penuh scallop

Tingkat selanjutnya isinya scallop penuh banget. Cangkangnya berbenjol-benjol dan ukurannya beda-beda, dan karena Tongyeong memang terkenal dengan budidaya scallop dan tiram, ekspektasinya tinggi. Begitu tutupnya dibuka, uap beraroma laut langsung menyembur keluar. Di hari yang dingin, uapnya terasa makin dramatis. Inilah daya tarik sesungguhnya dari jogaejjim — sensasi penasaran setiap kali buka tingkat baru, nggak tahu isinya apa.

Kalau scallop dikukus, cangkangnya terbuka dan daging di dalamnya kelihatan. Bagian oranye itu telurnya, dan bagian putih bulat itu otot adduktor — nah ini bintang utamanya. Copot, masukin ke mulut: lembut tapi ada gigitannya yang mantap, dan rasa manisnya naik cukup kuat. Bayangin bedanya kayak scallop beku dari supermarket sama scallop yang baru diangkat dari kapal nelayan — yang ini jelas masuk kategori kedua.

Dari dekat, keliatan banget otot dan telurnya masih nempel di cangkang dalam keadaan baru dikukus. Tinggal copot pakai sumpit — gampang. Bagian jeroan hitam dibuang aja, fokus makan otot putih dan telur oranyenya. Adikku nangkring di tingkat ini, cuma makan scallop terus-terusan. Aku tanya kenapa, dia bilang ini tingkat paling enak. Jujur? Aku setuju.
Keong laut, abalon, kepiting, udang — paket komplit seafood

Tingkat selanjutnya itu paket komplit seafood. Keong laut, abalon, kepiting biru, dan udang semuanya ada di satu tingkat. Sisa gurita dari atas yang belum habis kami turunin ke tingkat ini, dan cangkang kosong sama piring di meja mulai numpuk cepet banget. Istri cuma milih-milih udang doang, ibu diam aja agak lama sibuk bongkar kaki kepiting.
Abalon — kuahnya harus diminum, itu kuncinya

Abalon-nya datang dikukus di dalam cangkang, dengan kuahnya yang mendidih bergolak di dalam. Kuah ini yang penting. Itu kaldu asin yang keluar dari jeroan abalon — sendokin dan rasanya kayak minum konsentrat lautan murni, gurih banget umaminya. Daging abalonnya sudah diiris-iris, jadi gampang dicabut pakai sumpit. Dengan keong laut, udang, abalon, dan kepiting semua campur di satu tingkat, kebingungan mau ambil yang mana duluan itu justru jadi bagian serunya.
Serunya mengeluarkan daging keong dari cangkang

Daging keong laut itu melingkar di dalam cangkang spiral, dan cara makannya diputar keluar pakai tusuk gigi. Kalau pertama kali coba, dagingnya pasti putus di tengah. Aku juga gagal dua kali, baru yang ketiga berhasil satu tarikan penuh — dan rasanya puas banget. Ibu berhasil sekali coba langsung, terus ngajarin tekniknya, tapi jujur dengerin juga tetep aja nggak bisa.

Di musim dingin yang beku, tiup-tiup abalon panas yang baru diangkat dari kukusan. Di situlah rasanya terbayar udah capek-capek ke pinggir laut. Ibu paling lama nongkrong di tingkat ini.
Jogaejjim 5 Tingkat — Isi Setiap Lapisan
Kerang kipas dan kerang keras — rasa kerang sejati

Tingkat selanjutnya isinya kerang kipas (kijogae) dan kerang keras (baekhap). Kerang kipasnya cukup besar — duduk di kukusan dengan cangkang terbuka, dan kelihatan jelas isi telur oranye sama otot putihnya. Otot kerang kipas ini bagian premium yang bahkan di restoran sashimi dijual mahal, dan rasanya beda lagi kalau dimakan kukus.

Dari dekat, dagingnya terekspos gitu aja. Yang oranye telur, yang putih otot. Otot kerang kipas ini teksturnya kenyal, hampir membal — kayak kualitas sashimi tapi hangat. Jujur, sampai tingkat ini perut udah lumayan penuh, jadi lebih ke arah masukin aja ke mulut daripada bener-bener nikmatin. Tapi tetep aja, otot kerang kipas ini emang enak banget nggak bisa dibantah.

Kerang keras-nya numpuk banyak banget. Bentuknya mirip kerang biasa tapi ukurannya jelas lebih besar, dan karena cangkangnya udah terbuka, tinggal buka tangan terus makan langsung. Porsinya melimpah — berempat makan masih sisa. Sampai tingkat ini, jujur aja, kupas scallop, kupas kerang, udah mulai males sih. Tadi di awal seru-seru aja, tapi kalau terus-terusan kupas, tangan beneran capek.
Penutupnya mie kalguksu — ini yang jadi highlight sesungguhnya

Tingkat paling bawah isinya kaldu. Selama seafood di atasnya dikukus, semua sari kerang menetes ke bawah dan terkumpul di dasar, jadi kaldu konsentrat. Kamu masukin porsi mie potong tangan (kalguksu) ke dalamnya, didihkan, dan itulah hidangan penutup. Di atasnya ada taburan rumput laut, cabai hijau pedas, dan tauge — segar tapi ada pedasnya yang nendang. Kalau ada sisa kerang dari tingkat atas, lempar aja ke kaldu ini dan rasanya makin dalam. Perut udah penuh banget setelah 5 tingkat, tapi kaldu ini tetep aja masuk. Ibu bilang kaldu ini bagian terenak dari semuanya, dan baru setelah makan 5 tingkat penuh aku akhirnya paham maksudnya.
Rincian Biaya Jujur
Yang jujur bikin agak kecewa
Lima tingkat itu BANYAK BANGET porsinya. Sampai tingkat ke-3, kamu masih semangat — "Wah ada ini juga! Ada itu juga!" — makan dengan antusias. Tapi dari tingkat ke-4, perut udah penuh banget jadi lebih ke arah ngabisin daripada nikmatin. Kupas scallop, kupas kerang terus-terusan, tangan beneran pegel. Dan Rp1.400.000 itu ya memang lumayan, nggak bisa bohong. Kalau pergi ber-2 atau ber-3, 3 tingkat itu udah cukup banget. Porsinya melimpah dan harganya jauh lebih ringan. Yang 5 tingkat, simpan buat rombongan 4 orang ke atas, dan cuma buat hari di mana kamu memang niat "hari ini kita makan yang bener-bener."
Tapi tetep harus dicoba setidaknya sekali
Meskipun begitu, kalau kamu lagi jalan-jalan di pesisir Korea, jogaejjim itu pengalaman yang beneran aku saranin buat dicoba minimal sekali. Sensasi penasaran setiap angkat tutup kukusan tanpa tahu isinya apa, suara gunting yang motong seafood, kupas-kupas cangkang sambil ngobrol dan ketawa bareng orang-orang yang kamu ajak — suasana itu yang jadi rasa sesungguhnya dari jogaejjim. Duduk di depan kukusan beruap di hari musim dingin yang beku, tiup-tiup makanan laut panas sampai kacamata berembun — itu sesuatu yang nggak bisa kamu rasakan lewat foto. Harus duduk sendiri di sana baru ngerti.
Dan bukan cuma di Tongyeong. Busan, Taean, Sokcho, Jeju — di kota pesisir mana aja di Korea, restoran seafood kukus bertingkat kayak gini gampang banget ditemuin. Kalau kamu lagi jalan-jalan di dekat pantai dan ngeliat restoran dengan menara kukusan mengepul kelihatan dari luar, langsung masuk aja.
Kota-Kota Pesisir Korea untuk Makan Jogaejjim
Artikel ini pertama kali diterbitkan di https://hi-jsb.blog.