KategoriMakanan
BahasaBahasa Indonesia
Tanggal Terbit31 Maret 2026 pukul 03.37

Jajanan Kaki Lima Korea: Set Tteokbokki Sundae Gorengan

#jajanan kaki lima
Sekitar 10 menit membaca
🚨

Waktu itu aku lagi perjalanan pulang kerja. Karena musim dingin, langit sudah gelap lebih cepat, dan begitu keluar dari stasiun kereta bawah tanah, anginnya langsung nusuk. Males masak makan malam yang proper, tapi perut juga sudah bunyi. Pas jalan masuk gang, aku lihat papan kedai bunsik, kedai jajanan kaki lima Korea, dan rasanya pengin langsung makan tteoksuntwio.

Kalau dengar street food Korea, banyak orang langsung kepikiran samgyeopsal atau ayam goreng. Padahal camilan yang benar-benar sering dimakan orang Korea itu lain: bunsik. Tteokbokki, sundae, gorengan, eomuk. Kalau empat ini dipesan sekaligus, di Korea disebut tteoksuntwio. Nama itu diambil dari suku kata awal tteokbokki, sundae, twigim, dan odeng. Sebelum lanjut, buat pembaca Muslim, perlu dicatat dari awal kalau sundae, sosis darah Korea isi bihun, biasanya dibuat dari usus dan darah babi, jadi bagian itu bisa dilewati dan fokus ke tteokbokki, gorengan, serta eomuk yang lebih umum dicoba. Kedai bunsik ada di mana-mana di seluruh Korea, hampir sebanyak minimarket. Mau di Seoul, Busan, kota kecil, gerai waralaba, atau toko tua di dalam gang, pasti ada tempat yang jual tteokbokki. Bahkan kalau pesan empat item ini sekaligus, totalnya sekitar Rp113.000 dan sudah bikin kenyang. Masuk sendirian lalu pesan satu set tteoksuntwio, itu sudah bisa jadi makan malam.

Hari itu juga begitu. Baru duduk, aku langsung pesan set tteoksuntwio. Padahal makan sendiri, porsinya lumayan banyak. Awalnya sempat mikir, ini bakal habis nggak ya? Tapi biar aku bocorin dari awal, sampai kuahnya pun habis total.

Set tteoksuntwio, ini paket bunsik Korea yang paling klasik

Set tteoksuntwio berisi tteokbokki sundae gorengan dan eomuk di atas nampan merah

Begitu datang, empat macam makanan langsung tersaji di atas nampan merah. Inilah set tteoksuntwio, paket bunsik Korea yang paling klasik dan gampang ditemukan. Tempat yang kudatangi ini adalah Jaws Tteokbokki, salah satu jaringan kedai bunsik yang cabangnya lumayan banyak di seluruh Korea. Tapi tulisan ini bukan review tokonya, jadi soal tempatnya cukup sampai sini saja.

Meja kedai bunsik Korea dengan set tteoksuntwio dari sudut lain

Mau masuk ke kedai bunsik mana pun, susunannya biasanya mirip begini. Tteokbokki merah, eomuk berkuah bening, satu piring sundae, dan satu keranjang gorengan. Aku sudah pernah makan di Daejeon dan juga di Seoul, dan yang beda cuma nuansa rasa kecilnya saja.

Tteokbokki — tteok kenyal yang tenggelam di saus merah

Close-up tteokbokki dari tteok beras kenyal dalam saus gochujang merah

Aku mulai dari tteokbokki dulu. Tteok yang gemuk-gemuk terendam saus merah, dan di atasnya ada satu kerupuk. Awalnya aku sempat mikir, ini kenapa ditaruh di atas? Tapi begitu dicocol ke saus, tekstur renyahnya ketemu bumbu pedas manis dan malah bikin nagih. Cuma ada satu masalah: kalau terlalu lama kena kuah, kerupuknya langsung letoy. Aku baru sadar setelah telat ambil.

Tteok beras vs tteok tepung, bedanya apa?

Tteok yang dipakai di sini adalah tteok beras. Di Korea, tteok untuk tteokbokki biasanya dibagi jadi dua jenis: tteok beras dan tteok tepung.

Tteok beras vs tteok tepung, bedanya apa?

Tteok beras

Ini tteok yang dibuat dari beras. Ciri utamanya teksturnya kenyal dan agak liat, lalu makin dikunyah malah keluar rasa gurihnya. Karena sausnya tidak terlalu meresap sampai ke dalam, bagian luar terasa pedas sementara bagian dalam tetap ringan. Begitu dingin, teksturnya cepat keras, jadi paling enak dimakan pas baru datang.

Tteok tepung

Ini tteok yang dibuat dari tepung terigu. Teksturnya lebih lembut dan lentur dibanding tteok beras, dan sausnya meresap sampai ke tengah, jadi sekali digigit rasa bumbunya langsung pecah. Saat sudah dingin pun, teksturnya tidak sekeras tteok beras. Dulu tteokbokki di depan sekolah di Korea kebanyakan pakai jenis ini, makanya banyak orang langsung nostalgia kalau makan tteok tepung.

Belakangan ini tteok beras memang lebih populer. Tapi aku pribadi justru kangen tteok tepung. Dulu habis pulang sekolah, bawa uang saku sekitar Rp11.000 pun sudah bisa masuk kedai bunsik dan makan tteokbokki jenis ini. Di Korea, debat mana yang lebih enak antara tteok beras dan tteok tepung sudah lama banget, dan rasanya mirip debat makanan favorit kaki lima yang nggak bakal ada jawaban finalnya. Semua balik ke selera.

Rahasia saus tteokbokki

Saus tteokbokki gochujang kental melapisi potongan tteok
Close-up potongan tteokbokki yang diangkat dengan sumpit

Inti dari tteokbokki ada di saus merah kental ini. Biasanya dibuat dari gochujang, gula, sirup jagung, dan kecap asin, jadi manis dan pedas datang barengan. Buat yang tidak terlalu kuat pedas, tteokbokki biasa sebenarnya masih aman. Rasa manisnya datang dulu, lalu pedasnya naik pelan di belakang. Kalau benar-benar nggak bisa pedas, ada juga jajang tteokbokki. Warnanya hitam, bukan merah, dengan saus kacang hitam yang manis gurih dan tidak pedas.

Tapi sebaliknya, ada juga tteokbokki yang memang dibuat buat orang yang doyan pedas banget.

Tantangan tteokbokki pedas

Di Korea ada banyak tempat yang jual tteokbokki pedas dengan level bertingkat. Mulai dari level 1 sampai level 5, bahkan ada yang sampai level 10, dan orang-orang menikmati itu seperti tantangan. Kalau cari kata kunci tentang challenge tteokbokki pedas di video, bakal muncul ratusan orang makan sambil mukanya merah dan matanya berair.

Level tinggi itu memang benar-benar pedas. Kalau tteokbokki biasa masih di area manis dengan sentuhan pedas, versi challenge sudah masuk level bikin mulut terasa terbakar. Ada juga toko yang menempelkan foto pelanggan di dinding atau menggratiskan menu kalau berhasil habis.

Kalau mau coba saat liburan ke Korea, mulai dari level 2 saja. Bahkan level 1 pun bisa terasa cukup pedas untuk lidah orang asing.

Aku juga pernah sekali pesan level 3. Belum sampai setengah sudah menyerah dan cuma minum kuah eomuk terus. Sejak hari itu, aku pensiun dari challenge begituan.

Gorengan — begitu dicocol ke kuah tteokbokki, rasanya jadi makanan lain

Keranjang gorengan bunsik Korea berisi mandu goreng dan cumi goreng

Setelah makan tteokbokki, aku pindah ke gorengan. Hari itu isinya setengah mandu goreng dan setengah cumi goreng. Gorengan bunsik Korea beda dari tempura Jepang. Kalau tempura adonannya tipis dan ringan, versi Korea lebih tebal. Sekali digigit, lapisan luarnya pecah renyah dulu, lalu isi di dalamnya baru terasa.

Gorengan ini sebenarnya enak dimakan begitu saja, tapi cara Korea itu dicocol ke kuah tteokbokki. Awalnya aku sayang, jadi kumakan polos. Tapi habis lihat orang di meja sebelah mencelupkannya sampai basah, aku ikut coba. Sejak itu, aku selalu makan begitu. Memang kerenyahannya berkurang, tapi saus pedas manisnya meresap dan rasanya jadi benar-benar beda.

Jenis gorengan bunsik Korea itu banyak banget

Jenis gorengan bunsik Korea itu banyak banget

Yachae twigim — gorengan sayur pipih dari bawang, wortel, dan kucai. Ini yang paling umum dan biasanya paling murah.

Kimmari twigim — gulungan bihun rumput laut goreng, salah satu gorengan bunsik yang paling populer.

Goguma twigim — ubi jalar iris tebal yang digoreng. Rasanya manis, jadi anak-anak biasanya suka banget.

Ojingeo twigim — cumi yang dibalut adonan tebal lalu digoreng. Enak karena teksturnya mantap saat digigit.

Mandu twigim — pangsit Korea yang digoreng lagi dalam minyak. Luar renyah, dalamnya tetap lembap.

Saeu twigim — udang goreng yang biasanya ada di kedai bunsik yang lebih proper. Harganya juga cenderung lebih mahal dari yang lain.

Kalau datang ke pojangmacha, kios tenda kaki lima Korea, gorengan ini biasanya disusun rapi di atas rak kawat peniris minyak. Tinggal tunjuk pakai jari lalu pilih yang diinginkan. Harganya sekitar Rp5.500 sampai Rp11.000 per buah.

Kimmari twigim, bintang utama gorengan bunsik

Close-up gorengan kimmari dengan bagian dalam terlihat

Kalau dilihat dari dekat, ketebalan adonannya langsung kelihatan. Yang agak kehijauan itu kimmari twigim, dan ini gorengan bunsik favoritku. Isinya bihun yang digulung pakai rumput laut lalu digoreng. Luarannya renyah, tapi di dalam bihunnya tetap kenyal memanjang saat digigit. Begitu dicelupkan ke kuah tteokbokki, kerenyahannya memang hilang, tapi gantinya jadi lembap, pedas, dan nagih. Kalau tteokbokki itu pemeran utama, kimmari rasanya partner yang wajib ada.

Eomuk — kuah bening yang menenangkan setelah rasa pedas

Kuah eomuk bening di kedai bunsik Korea dengan fish cake di dalamnya

Begitu pedas tteokbokki mulai terasa naik, tangan langsung nyari ini: eomuk. Di Korea, makanan ini juga sering disebut odeng. Potongan fish cake Korea direbus dalam kuah bening, dan jujur saja, justru kuahnya yang jadi inti sebenarnya.

Kalau kaldu dari ikan teri kering dan rumput laut direbus bersama eomuk, rasa umaminya keluar dan kuahnya jadi dalam banget. Saat musim dingin, satu tegukan kuah ini rasanya langsung melegakan sampai ke perut. Aku pernah beberapa kali coba bikin ulang di rumah. Sudah beli ikan teri, beli rumput laut, beli eomuk yang mirip, lalu direbus. Tetap saja rasanya beda. Mungkin karena di kedai bunsik, panci itu mendidih dari pagi sampai malam, jadi ada rasa yang cuma bisa keluar dari waktu. Rebus 30 menit dan rebus 12 jam jelas hasilnya beda.

Cara makan eomuk beda-beda tergantung bentuknya

Berbagai bentuk eomuk seperti kotak gulung dan bulat ditusuk dalam kuah

Bentuk eomuk itu macam-macam. Ada yang kotak, ada yang digulung, ada yang bulat. Yang pipih menyerap kuah lebih banyak, sementara yang gulung menyimpan kuah di bagian dalam, jadi saat digigit kaldu panasnya bisa langsung muncrat. Satu tips buat yang baru pertama kali makan: jangan gigit eomuk gulung terlalu besar sekaligus. Kuah panas di dalamnya bisa bikin langit-langit mulut kepanasan. Aku sudah pernah kena.

Sundae — sosis ala Korea yang dibuat dengan darah babi

Sepiring sundae yang dipotong-potong dengan hati dan jeroan serta saus garam

Ini sundae. Disajikan dalam potongan-potongan sejajar, dengan hati dan jeroan di sampingnya, lalu ada saus garam di bawah. Garam ini dicampur bubuk cabai, dan sundae biasanya memang dimakan dengan cocolan seperti itu.

Sundae adalah makanan yang dibuat dari usus babi berisi bihun, sayuran, dan darah babi lalu dikukus. Kedengarannya mungkin bikin orang berhenti sejenak, tapi sebenarnya di banyak negara juga ada versi sejenis. Kalau di Indonesia mungkin paling gampang dibayangkan sebagai sosis tradisional dengan karakter kuat, cuma versi Korea ini isi bihunnya bikin teksturnya lebih kenyal dan rasanya lebih ringan. Jadi meski konsepnya terdengar berat, rasanya tidak seberat bayangan awal.

Sundae Korea vs blood sausage Eropa

Sundae Korea

Makanan ini dibuat dari usus babi yang diisi bihun, sayuran, dan darah babi lalu dikukus. Karena ada bihun di dalamnya, teksturnya khas, kenyal, dan tidak terlalu berat. Biasanya dimakan dengan saus garam atau dicocol ke saus tteokbokki. Rasanya cenderung gurih ringan.

Blood sausage Eropa

Ini jenis sosis yang dibuat dari darah babi, lemak, biji-bijian, dan rempah-rempah. Namanya beda-beda di tiap negara. Dibanding sundae Korea, versi Eropa biasanya lebih berlemak dan rasa rempahnya lebih tegas.

Aku sendiri lebih suka makan sundae dengan cocolan saus tteokbokki daripada saus garam. Kalau pakai saus garam, rasa asli sundae lebih keluar. Kalau dicocol ke saus tteokbokki, nuansanya berubah total jadi pedas manis. Dua-duanya layak dicoba, tinggal cari yang paling cocok di lidahmu.

Bedanya sundae kedai bunsik dan sundae buatan tangan

Potongan sundae kedai bunsik dengan bihun padat terlihat di dalam
Close-up sundae yang diangkat dengan sumpit

Yang ini bukan sundae buatan tangan. Di kedai bunsik, kebanyakan sundae memang produksi pabrik. Sundae buatan tangan biasanya dijual di pasar tradisional, dan isi di dalamnya lebih kasar, bentuknya juga tidak seragam. Rasanya jelas beda. Tapi jujur saja, sundae versi kedai bunsik yang dimakan bareng tteokbokki begini pun sudah enak banget.

Hati dan jeroan yang datang satu piring itu memang tipe menu yang bikin orang langsung terbagi dua. Ada yang merasa kurang kalau itu tidak ada, ada juga yang sama sekali tidak mau lihat. Kalau tidak suka, saat pesan tinggal bilang tanpa bagian tambahan. Biasanya nanti sundae-nya ditambah sedikit sebagai ganti. Aku sendiri suka hati, tapi jeroannya jarang kumakan.

Aku angkat satu per satu

Eomuk yang diangkat dengan tusuk gigi
Close-up potongan sundae dengan bihun penuh di dalam
Cumi goreng yang diangkat dengan kaki cumi terlihat di antara adonan

Eomuk diangkat pakai tusuk gigi lalu sekali hap. Sundae kuangkat sambil memperlihatkan bagian dalamnya yang padat isi bihun. Cumi goreng juga kuangkat, dan kaki cuminya kelihatan menyembul dari sela adonan. Serunya bunsik memang di situ. Dibanding makan terlalu rapi pakai sumpit, nusuk satu-satu dengan tusuk gigi justru lebih cocok dengan suasana kedainya.

Bunsik itu benar-benar bagian dari keseharian

Bunsik bukan makanan yang perlu dipesan jauh-jauh hari, dan juga bukan tempat yang harus didatangi dengan pakaian rapi. Tempatnya selalu ada di sekitar lingkungan, dan kalau lapar ya tinggal masuk saja.

Tapi justru makanan sederhana ini tertanam lumayan dalam buat banyak orang Korea. Ingatan habis pulang sekolah lalu patungan recehan sama teman buat beli tteokbokki. Ingatan menghangatkan tangan di pojangmacha sambil minum kuah eomuk saat musim dingin. Ingatan keluar lembur malam lalu pesan satu piring sundae sendirian. Bunsik bukan sekadar makanan, tapi potongan adegan dari hidup sehari-hari.

Hari itu aku juga begitu. Tanpa mikir panjang, aku masuk ke kedai bunsik pas pulang kerja, lalu menghabiskan set tteoksuntwio di atas nampan merah seorang diri. Perut kenyang, tapi yang lebih terasa justru mood jadi bagus. Memang begitu rasanya bunsik. Masuk tanpa alasan besar, makan lebih banyak dari perkiraan, lalu keluar sambil merasa puas.

Kalau nanti ke Korea, coba mampir setidaknya sekali. Dan kuah eomuk itu wajib diminum. Justru di situlah letak pesona aslinya.

Postingan ini awalnya diterbitkan di https://hi-jsb.blog.

Tanggal Terbit 31 Maret 2026 pukul 03.37
Tanggal Diperbarui 15 April 2026 pukul 18.40