
8 Lauk Pauk Cuma Rp50 Ribu? Ini Masakan Rumahan Korea Asli
Daftar Isi
11 item
Sampai tahun lalu, aku kerja di Daejeon — kota besar sekitar 1,5 jam naik kereta cepat dari Seoul. Setiap jam makan siang, aku turun ke kantin kantor bareng tiga-empat rekan kerja. Di sana ada seorang ibu yang kami panggil "imo-nim" (panggilan akrab untuk wanita paruh baya di Korea), dan dia menjalankan seluruh kantin sendirian. Setiap pagi belanja bahan sendiri, potong-potong sendiri, masak sendiri — semua dikerjakan satu orang. Masakan rumahan Korea yang dia sajikan selalu berubah tiap hari. Kadang ikannya ganti, kadang supnya beda, lauk pauk pendampingnya juga dirotasi sedikit-sedikit, tapi kerangka dasarnya selalu sama: nasi, satu panci sup, lima-enam macam lauk. Di Korea, hidangan seperti ini disebut baekban, dan susunannya praktis sama persis dengan apa yang orang Korea makan di rumah setiap hari.
Kalau dengar makanan Korea, kebanyakan orang pasti langsung kepikiran samgyeopsal, bibimbap, atau tteokbokki. Padahal yang sehari-hari dimakan pekerja kantoran Korea untuk makan siang ya baekban sederhana kayak gini. Campur nasi ke sup, ambil satu suap sayur, taruh sepotong ikan di atas sendok — itu makan siang kami setiap hari. Harga satu porsi cuma 5.000 won, sekitar Rp55.000. Lauk pauknya lebih dari delapan macam dan cuma Rp55.000? Sampai sekarang aku masih nggak habis pikir betapa murahnya.
Hari ini aku mau bongkar satu per satu menu yang pernah ada di meja makan itu.
Ikan goreng tepung, lauk andalan masakan rumahan Korea

Ikan jogi (sejenis ikan kuning kecil) goreng tepung adalah lauk yang paling sering muncul di meja makan rumahan Korea — ikan dilumuri tepung tipis lalu dipanggang di wajan sampai keemasan, renyah di luar dan lembut di dalam. Ini kondisi sebelum masuk minyak, makanya masih putih kayak dipoles bedak. Imo-nim membaluri satu per satu ikan bolak-balik di tepung, dan kalau sudah ditata di piring begini artinya sebentar lagi masuk wajan. Ikan jogi punya posisi penting di Korea — selalu hadir di meja sajian hari raya, bahkan jadi hadiah set di Chuseok (lebaran Korea di musim gugur) atau Seollal (tahun baru Korea). Tapi kalau digoreng pakai tepung kayak gini, ini bukan hidangan spesial — ini cuma lauk pauk biasa masakan rumahan sehari-hari.

Masuk wajan berminyak. Begitu suara desisan mulai terdengar, dari ujung kantin pun sudah tercium aroma gurihnya. Pasti ada satu rekan kerja yang langsung bilang duluan, "Wah, hari ini ikan ya." Cuma dari satu kalimat itu, semua orang langsung semangat nungguin makan siang.

Setelah satu sisi matang, diangkat ke tisu dapur untuk menyerap minyak. Yang tadi putih sekarang sudah berubah kuning keemasan. Imo-nim punya kalimat andalan: "Gorengan pertama itu jatahku, mulai gorengan kedua baru punya kalian." Tapi jujur, aku sudah beberapa kali diam-diam nyomot gorengan pertama. Bedanya ikan yang baru banget diangkat sama yang sudah agak dingin sebentar aja itu kerenyahannya beda jauh banget.
Ikan yang diingat setiap orang Korea sejak kecil

Dari dekat kayak gini penampakannya. Kulitnya tipis dan renyah, dagingnya putih dan masih lembap. Kalau kamu tanya orang Korea, "Waktu kecil ibu goreng ikan apa di rumah?", mayoritas pasti jawab jogi atau galchi (ikan pedang). Sepenting itu posisinya di meja makan keluarga Korea — mirip seperti ikan goreng di warteg buat orang Indonesia, semua orang pernah makan. Tapi sekarang kalau cek di supermarket, harganya sudah naik lumayan. Dulu dianggap cuma lauk ikan biasa, sekarang nggak semurah itu lagi. Makanya kalau kantin menyajikan ikan jogi goreng, di antara rekan kerja pasti ada yang bercanda, "Wah, kayaknya imo-nim lagi senang nih hari ini."
Telur gulung, lauk pauk dasar masakan Korea

Telur gulung Korea (gyeran mari) adalah lauk yang frekuensi kemunculannya di meja makan Korea cuma kalah dari kimchi — telur dikocok, ditambah sayuran dan daging olahan, lalu digoreng tipis dan digulung. Waktu itu aku ngintip imo-nim yang lagi mencampur sesuatu di mangkuk. Keliatan ada potongan kecil ham, daun bawang, dan wortel, tapi saat itu aku belum tahu mau jadi apa.

Begitu dituang ke wajan, baru ngeh. Telur gulung. Telur gulung ala Korea beda sama omelet barat. Caranya dituang tipis-tipis melebar di wajan, dimasak setengah matang, lalu digulung. Isinya beda-beda tergantung rumah masing-masing. Versi imo-nim pakai ham cukup banyak.

Kalau sudah cukup matang, dilipat lalu dibalik kayak gini. Timing-nya ternyata cukup tricky. Kalau kecepatatan balik, dalamnya masih cair dan tumpah. Kalau kelamaan, luarnya gosong. Imo-nim cuma butuh satu gerakan pergelangan tangan dan beres. Aku sendiri setiap coba bikin di rumah selalu robek. Kelihatannya gampang, tapi bikin yang bener itu susah banget.



Ini telur gulung yang sudah jadi. Di antara permukaan keemasan itu kelihatan ham dan daun bawang tertanam di dalamnya. Wadah hijau di belakang itu isinya sayuran yang sudah dipotong untuk lauk berikutnya. Kalau kamu berdiri di sebelah imo-nim, kamu bakal lihat dia sambil menggoreng satu lauk, tangannya sudah menyiapkan bahan untuk lauk selanjutnya. Di meja makan rumahan Korea, telur gulung adalah lauk yang paling sering muncul setelah kimchi. Mau di kantin kantor atau di warung baekban, kalau nggak ada telur gulung rasanya ada yang kurang — ini benar-benar lauk paling basic.
Donggeurangttaeng, lauk yang paling makan waktu dan tenaga

Donggeurangttaeng adalah perkedel ala Korea yang dibuat dari campuran tahu, daging cincang, dan sayuran, dibentuk bulat pipih lalu dicelup kocokan telur dan digoreng — ini lauk paling memakan waktu dan tenaga di antara semua banchan Korea. Ini namanya donggeurangttaeng. Tahu, daging cincang, sayuran diaduk rata lalu dibentuk bulat-bulat, dicelup telur, dan digoreng. Di antara semua lauk pauk Korea, ini yang paling repot buatnya. Satu per satu dibentuk, satu per satu dicelup telur, satu per satu dimasukkan wajan. Lihat tumpukannya di piring — pasti imo-nim sudah mulai dari pagi-pagi buta.


Kalau dilihat potongannya, ada campuran tahu dan daging berwarna abu-abu di dalam. Lapisan telurnya nggak rata karena memang buatan tangan. Donggeurangttaeng frozen yang dijual di supermarket bentuknya terlalu sempurna dan seragam, tapi yang homemade ukuran dan bentuknya pasti beda-beda. Baru digoreng, luarnya renyah dan dalamnya lembut berkat tahu. Sudah dingin pun masih enak, makanya di Korea ini sering masuk ke dalam bekal makan siang. Di Korea ada tradisi seluruh keluarga duduk melingkar dan menggoreng berbagai jeon (gorengan Korea) saat hari raya — donggeurangttaeng selalu jadi salah satu yang nggak pernah absen. Kalau lauk ini muncul di hari kerja biasa, pasti ada rekan kerja yang komentar, "Emangnya hari ini lebaran?"
Lauk sayuran yang menyeimbangkan seluruh meja makan

Tumis tauge (kongnamul muchim) adalah salah satu lauk yang paling sering muncul di meja makan Korea — tauge direbus sebentar lalu dicampur bubuk cabai, minyak wijen, daun bawang, dan wortel. Ini tauge Korea yang direbus lalu dibumbui. Rasanya renyah saat digigit dan cocok banget dimakan bareng nasi. Tauge bumbu yang sama pun bisa beda rasa tergantung siapa yang bikin. Punya imo-nim nggak terlalu banyak bubuk cabainya, jadi lebih ke arah segar-asam daripada pedas.

Ini acar timun pedas, gayanya hampir mirip kimchi timun. Timun dipotong agak besar, dicampur bubuk cabai, bawang putih, dan wijen. Di musim panas ini sering banget muncul. Kalau lagi gerah dan nggak nafsu makan, taruh ini satu sendok di atas nasi dan itu sudah cukup.
Sayuran tanpa nama dan tumis terong

Yang ini aku nggak tahu persis namanya. Entah batang ubi jalar atau batang rumput laut, warnanya hijau tua, ada campuran wortel dan taburan wijen — yang pasti ini tumisan dengan bumbu kecap. Di masakan rumahan Korea selalu ada setidaknya satu lauk sayuran yang kamu nggak bisa sebutin namanya, dan justru lauk kayak gini yang berperan menyeimbangkan keseluruhan meja makan. Di antara lauk-lauk berminyak, ambil satu suap sayuran ini dan mulutmu langsung terasa bersih.

Ini tumis terong. Terong dikukus lalu dicampur bumbu. Di Korea, terong itu sayuran yang cukup kontroversial — banyak yang nggak suka karena teksturnya lembek. Tapi tumis terong yang dibuat dengan benar itu bukan lembek, lebih tepatnya lumer di mulut. Kecap dan minyak wijen meresap ke dalamnya jadi gurih-asin yang enak. Aku sendiri waktu kecil juga sama sekali nggak mau makan terong, tapi entah sejak kapan mulai suka. Di antara rekan kerja ada satu orang yang sampai akhir tetap nggak mau makan terong — jatah dia selalu aku yang habiskan.
Menu utama, sup kimchi

Kimchi jjigae (sup kimchi) adalah jiwa dari masakan rumahan Korea — satu panci sup panas yang dimasak dari kimchi fermentasi lama, daging, tahu, dan sayuran, disantap dengan nasi putih hangat. Dari sini mulai masuk ke menu utama. Kimchi yang sudah difermentasi lama sedang mendidih bersama kuahnya. Sup kimchi harus pakai kimchi tua yang sudah asam, bukan kimchi baru — dari situlah rasa dalamnya keluar. Daging dan kimchi sudah dimasak cukup lama sampai kimchinya hampir hancur, dan di titik inilah kuahnya baru benar-benar jadi.
Cara masak Korea: memasukkan bahan secara bertahap

Jamur tiram dan cabai hijau diiris lalu ditaruh di atasnya. Pakai jamur atau nggak di sup kimchi itu tergantung masing-masing rumah, tapi imo-nim selalu pakai dan banyak. Kalau jamurnya sudah menyerap kuah dan matang, saat digigit rasa sup kimchi langsung meledak di mulut — ini diam-diam bikin ketagihan.

Bawang bombay juga masuk. Sup Korea nggak memasukkan semua bahan sekaligus. Yang perlu dimasak lama dimasukkan duluan, yang gampang hancur belakangan. Bawang bombay kalau dimasak terlalu lama bakal larut dan hilang, makanya baru ditambahkan di tahap ini.

Terakhir tahu. Dipotong besar-besar lalu dimasukkan. Kalau sup kimchi tanpa tahu, orang Korea beneran kecewa. Tahu yang mendidih dalam kuah itu luarnya jadi sedikit kenyal tapi dalamnya tetap lembut. Di tengah kuah pedas, ambil sepotong tahu dan masukkan ke mulut — rasanya kayak pedasnya berhenti sejenak. Satu tempo jeda yang nyaman banget.
Sup kimchi yang sudah jadi, langsung naik ke meja sepanci-pancinya

Taburi daun bawang dan selesai. Dalam kondisi begini, panci langsung dinaikkan ke tengah meja. Di Korea, sup nggak dipindah ke mangkuk masing-masing. Satu panci ditaruh di tengah dan semua orang menyendok sendiri-sendiri. Nasi ditaruh di mangkuk, lalu kuah dan isinya disendok dari panci ke atas nasi. Satu hal yang agak kurang sih, AC kantin ini agak lemah. Musim panas makan sup kimchi yang panas, keringat langsung banjir di kening. Ada rekan kerja yang bilang, "Habis makan sup ini siang-siang, harusnya langsung mandi dulu sebelum kerja lagi," dan semuanya ketawa. Terus jujur aja, sup kimchi ini agak terlalu sering muncul. Seminggu bisa tiga-empat kali sup kimchi. Aku pernah diam-diam bilang ke imo-nim, "Besok bikin doenjang jjigae (sup pasta kedelai) dong." Imo-nim senyum-senyum setuju, tapi besoknya tetap aja sup kimchi lagi.
Meja makan masakan rumahan Korea, hidangan lengkap satu porsi

Ini hidangan lengkap hari itu. Di atas meja stainless ada nasi, sup kimchi, ikan jogi goreng, telur gulung, donggeurangttaeng, tumis tauge, acar timun, namul sayuran, tumis terong, dan kimchi — semuanya tertata memenuhi meja. Ini beda banget sama hanjeongsik (set menu Korea mewah) yang keluar satu per satu kayak fine dining. Mangkuknya beda-beda ukuran, plating juga nggak ada — tapi justru inilah yang beneran dimakan orang Korea setiap hari. Sendok dan sumpit diletakkan berdampingan, itu juga khas Korea. Nasi dan sup pakai sendok, lauk pakai sumpit. Pakai dua alat makan bergantian mungkin awalnya canggung, tapi beberapa hari juga langsung terbiasa. Kalau dihitung lauk pauknya lebih dari delapan macam, dan semua ini disiapkan imo-nim sendirian setiap pagi. Segini isinya satu porsi baekban seharga Rp55.000.
Sederhana tapi dimakan setiap hari pun nggak pernah bosan
Masakan rumahan Korea itu bukan soal satu lauk yang jadi bintang. Nasi di tengah, satu panci sup, sepotong ikan, beberapa macam sayuran melingkarinya — komposisi itu sendiri sudah jadi satu porsi makan yang utuh. Kalau lauk pauknya dimakan satu per satu memang terasa biasa aja, tapi begitu disuapkan bareng nasi, di saat itulah rasanya baru benar-benar lengkap. Nggak mewah, dan mungkin dari foto aja kamu nggak bisa merasakan apa-apa. Tapi kalau suatu hari kamu datang ke Korea, coba sekali deh masuk ke warung baekban di pinggir jalan dan pesan masakan rumahan kayak gini. Samgyeopsal dan ayam goreng Korea memang enak, tapi makanan yang beneran dimakan orang Korea setiap hari itu seperti ini. Celupkan sesendok nasi ke sup panas, ambil lauk satu per satu — jam makan siang seperti itu, meskipun aku sudah resign, kadang masih tiba-tiba teringat. Entah yang aku kangenin itu rasa masakannya, atau orang-orang yang dulu duduk bareng di depan meja makan itu. Mungkin dua-duanya.
Artikel ini pertama kali dipublikasikan di https://hi-jsb.blog.