KategoriMakanan
BahasaBahasa Indonesia
Tanggal Terbit24 Maret 2026 pukul 02.51

Ceker Pedas Korea — Dakbal, Camilan Bikin Nangis tapi Nagih

#ceker ayam pedas#camilan pedas bikin nagih#kolagen ceker ayam
🤲

Kami menghormati iman dan budaya kuliner Anda

Artikel ini mungkin membahas makanan yang tidak sesuai dengan standar diet keagamaan Anda. Meskipun Anda tidak mengonsumsinya, kami berharap perjalanan mengenal beragam budaya kuliner dunia ini menjadi pengalaman yang menyenangkan. Selamat membaca dengan hati yang tenang.

Ceker ayam pedas ala Korea — atau yang disebut dakbal — ini dianggap sebagai rajanya camilan pedas teman minum di Korea. Mau di Seoul, Busan, Daejeon (kota besar sekitar 1,5 jam di selatan Seoul), atau Daegu, di kota mana pun kamu pergi, pasti ada di gang-gang kecilnya warung tenda atau bar yang jualan ceker merah menyala. Dakbal ini nggak bisa dipisahkan dari budaya makan malam (ngemil larut malam) di Korea, dan kalau bicara soal street food pedas, ini juaranya.

Aku orang Korea yang tinggal di Korea, tapi jujur bukan tipe yang sering makan ceker. Cuma pas musim dingin 2025, aku sama istri akhirnya ke Hanshinpocha lagi — bar yang cukup terkenal di sini. Rumahku lumayan jauh, jadi nggak gampang buat ke sana. Tapi kalau udah kangen rasa pedasnya, ya mau nggak mau akhirnya tetap pergi juga.

Ceker ayam bukan makanan eksklusif Korea

Sebenarnya ceker ayam itu bukan cuma dimakan di Korea — banyak negara lain yang juga makan ceker. Di Tiongkok, ceker ayam disebut "fengzhao" dan bisa dipesan sebagai menu dim sum, bahkan bisa dibeli dalam kemasan siap makan di minimarket — sepopuler itu. Di Thailand, ceker goreng dan ceker rebus juga gampang ditemui di warung-warung pinggir jalan. Di Filipina, ceker ayam punya julukan "adidas" dan terkenal sebagai sate BBQ kaki lima. Di Meksiko, ceker biasa dimasukkan ke dalam sup, dan di Jamaika, sup ceker itu makanan sehari-hari. Di Indonesia sendiri, ceker mercon atau ceker pedas manis kan juga populer banget, jadi pasti nggak asing lah ya.

Tapi yang beda banget dari ceker Korea dibanding semua negara itu adalah satu hal: di kebanyakan negara, ceker dimakan buat nikmatin teksturnya yang kenyal atau buat bikin kaldu, tapi di Korea, ceker itu identik dengan pedas. Dilumuri bumbu berbasis gochujang (pasta cabai Korea) dan bubuk cabai, tampilannya aja bikin orang bilang "ini beneran bisa dimakan?" — tapi begitu nyoba satu, nggak bisa berhenti. Orang Korea sengaja nyari makanan ini buat ngerasain sensasi itu. Sambil nangis dan meler sekalipun.

Jenis-jenis ceker pedas yang umum di Korea

Kalau kamu masuk ke tempat makan yang jual dakbal di Korea, menunya ternyata lebih beragam dari yang dibayangkan. Ceker yang sama tapi beda cara masak, rasanya bisa beda total.

🍲 Gukmul Dakbal (Ceker Kuah)

Ceker disajikan dalam kuah bumbu merah pedas, lalu kamu rebus sendiri di atas kompor gas di meja. Makin lama direbus, bumbunya makin mengental dan nempel ke ceker — kamu bisa atur tingkat kematangan sesuai selera, itu intinya.

🔥 Masak sendiri · kuah mengental
🔥 Sutbul Dakbal (Ceker Panggang Arang)

Ceker yang langsung dipanggang di atas arang dan disajikan sudah matang — tinggal makan aja. Aroma smoky khas arang yang bercampur sama bumbu pedas bikin rasanya beda total dari versi kuah. Luarnya sedikit garing, dalamnya tetap kenyal.

🔥 Sudah matang · rasa smoky
🦴 Mubyeo Dakbal (Ceker Tanpa Tulang)

Ini ceker yang tulangnya sudah dibuang duluan. Cocok buat yang males ngunyahin daging di sela-sela tulang kecil, dan biasanya dipanggang arang. Teksturnya lebih lembut dari ceker biasa, dan sering direkomendasikan buat pemula yang baru pertama coba dakbal.

🦴 Tanpa tulang · cocok pemula
🫕 Ttongjip Dakbal (Ceker + Ampela)

Ini combo ceker ayam dan ampela yang ditumis bareng dalam bumbu pedas. Tekstur kenyal ceker ditambah ampela yang renyah-renyah kriuk bikin sensasi ngunyahnya dua kali lipat lebih seru. Combo ini terkenal banget sebagai teman minum.

🫕 Ceker + ampela combo
🧀 Chijeu Dakbal (Ceker Keju)

Ceker pedas yang ditumpukin keju mozzarella banyak-banyak terus dilelehkan. Bahkan yang nggak kuat pedas pun, kalau celup ceker ke kejunya, rasa pedasnya langsung jauh berkurang — pilihan sempurna buat yang pengen coba dakbal tapi takut kepedasan.

🧀 Keju menetralkan · pedas berkurang

Ceker kuah, ceker pedas yang direbus sendiri di meja

Ceker ayam pedas kuah merah di atas loyang hitam dengan taburan wijen dan daun bawang di Hanshinpocha

Ini gukmul dakbal alias ceker kuah yang aku pesan di Hanshinpocha. Di atas loyang hitam, ceker bertumpuk-tumpuk dilumuri bumbu merah, dengan taburan wijen dan daun bawang di atasnya — cuma lihat aja udah kerasa pedasnya, kan?

Waktu datang memang kelihatan sudah jadi, tapi sebetulnya belum selesai. Kamu harus nyalain kompor gas di meja dan merebus lagi sampai bumbu mengental. Awalnya bumbunya masih agak encer, tapi begitu mulai mendidih dan menggelembung, kuahnya perlahan menyusut dan bumbu mulai nempel beneran ke ceker. Konsep ceker kuah itu memang pelanggan yang atur sendiri apinya sambil masak, jadi tergantung berapa lama kamu rebus, kekentalan bumbunya akan beda-beda. Waktu yang pas buat makan itu saat kuahnya tinggal sedikit dan bumbunya sudah kental menyelimuti setiap ceker.

Harga dan tingkat kepedasan

Di Hanshinpocha, harga ceker bertulang dengan tauge sekitar 22.000 won (kurang lebih Rp275.000), dan ceker tanpa tulang sekitar 23.000 won (sekitar Rp287.000). Untuk level pedas, ada 3 tingkat: level 1 rasa dasar, level 2 pedas, level 3 sangat pedas. Jujur ya, level 1 aja udah lumayan pedas. Kalau kamu nggak terlalu kuat makan pedas, mendingan mulai dari level 1 dulu.

Cara masak dengan menuangkan kuah tauge

Mangkuk putih berisi kuah tauge bening dengan sumpit dan sendok di samping

Waktu ceker datang, kuah tauge juga ikut disajikan terpisah kayak gini. Pas pertama lihat cekernya aja tanpa kuah, pasti mikir "ini katanya ceker kuah?" — nah, kuah tauge inilah yang harus kamu tuang ke loyang panas lalu rebus bareng cekernya. Begitu kuahnya dituang, bumbu langsung larut dan berubah jadi merah pekat. Dari situ baru beneran mulai.

Close-up ceker pedas

Close-up ceker ayam berlumur bumbu pedas merah dengan jari-jari ceker terlihat jelas

Kalau dizoom gini, begini tampilannya. Buat orang yang belum pernah lihat ceker, jujur bisa sedikit kaget sih visualnya. Jari-jari cekernya keliatan jelas banget. Tapi orang Korea kalau lihat ini, reaksi pertamanya malah "wah, pasti enak." Kalau kamu orang Indonesia sih mungkin nggak terlalu kaget ya, soalnya ceker mercon juga tampilannya mirip-mirip — bedanya bumbu Korea ini jauh lebih merah dan pedasnya level lain.

Proses merebus sendiri di meja

Sendok sayur mengaduk ceker di atas kompor gas dengan bumbu merah mendidih bergelembung

Ini saat kompor gas sudah dinyalakan dan proses masak dimulai serius. Kalau kuahnya masih banyak, tinggal biarin aja mendidih, tapi kalau kuahnya sudah sedikit kayak gini, harus terus diaduk pakai sendok sayur supaya nggak gosong di dasar. Kuah tauge kalau mau tambah bisa minta sebanyak-banyaknya, gratis dan unlimited.

Ceker pedas yang sudah selesai direbus close-up dengan bumbu kental mengkilap melapisi setiap potong

Kalau sudah selesai direbus, hasilnya kayak gini. Beda banget sama yang tadi, kan? Bumbu sudah mengental dan melapisi setiap ceker dengan lapisan kental yang mengkilap. Kalau diangkat satu pakai sumpit, bumbunya melar-melar lengket — nah itu tandanya sudah waktunya dimakan.

Tambahkan tauge untuk kurangi pedas

Tauge putih ditumpuk banyak di atas ceker pedas merah

Kalau terlalu pedas, tinggal tambahin tauge di atas terus masak bareng. Tauge menambah tekstur renyah-renyah segar, sekaligus bantu netralin rasa pedasnya.

Tauge yang sudah meresap bumbu pedas bercampur dengan ceker kontras warna putih dan merah

Begitu taugenya mulai menyerap bumbu, kombinasinya beneran juara. Tauge renyah yang sudah meresap bumbu pedas dimakan bareng ceker kenyal dalam satu suapan — langsung paham kenapa ceker kuah itu nggak lengkap tanpa tauge.

Cara makan ceker — gaya Korea, pakai tangan langsung

Tangan memakai sarung tangan plastik memegang satu ceker pedas dengan jari-jari ceker terlihat jelas

Pakai sarung tangan plastik, pegang langsung pakai tangan, terus gigit daging dari tulangnya — itu cara makan ceker ala Korea. Sensasi mengerat daging kecil-kecil di sela tulang memang seru sih, tapi jujur ini salah satu makanan yang paling ribet cara makannya. Tulangnya kecil-kecil dan bentuknya rumit, orang Korea sendiri pertama kali makan juga agak susah payah.

Jadi kalau kamu lagi liburan ke Korea dan pengen coba dakbal tapi males urusan sama tulang, mendingan pesan yang tanpa tulang (mubyeo dakbal). Rasa dan teksturnya hampir sama persis, tapi karena nggak ada tulang jadi jauh lebih gampang makannya.

Sahabat ceker — nasi kepal jumeokbap

Mangkuk putih berisi nasi dengan taburan nori bubuk acar lobak kuning wijen dan daun bawang logo Hanshinpocha terlihat

Setiap kali makan ceker kuah, pasti ada satu menu yang wajib ikut dipesan. Nasi kepal alias jumeokbap. Di Hanshinpocha, harga nasi kepal self-service sekitar 3.500 won (kurang lebih Rp44.000). Isinya simpel banget: nasi ditaburi nori bubuk, acar lobak potong dadu, wijen, dan daun bawang — itu aja, nggak lebih.

Tapi rasa nagihnya itu luar biasa. Pakai sarung tangan plastik, aduk-aduk semua pakai tangan terus kepalkan jadi bulatan seukuran satu gigit. Hati-hati, nasinya agak panas jadi awalnya bisa sedikit panas di tangan. Tapi begitu satu bulatan masuk mulut, nggak bisa berhenti. Lagi makan ceker super pedas, ambil satu nasi kepal — rasa pedasnya langsung hilang, terus tangan otomatis balik lagi ke ceker. Siklus ini yang bikin nggak ada habisnya.

Proses bikin nasi kepal

Close-up nasi dengan taburan nori bubuk acar lobak kuning dan biji wijen sebelum diaduk

Dari dekat tampilannya begini. Nasi, nori bubuk, acar lobak, wijen, daun bawang. Beneran cuma ini aja isinya.

Nasi yang sudah diaduk rata dengan tangan nori bubuk menyebar di antara butiran nasi berwarna gelap

Pakai sarung tangan plastik terus aduk-aduk semuanya pakai tangan, hasilnya kayak gini. Nori bubuknya masuk ke sela-sela butiran nasi dan warnanya langsung berubah total.

Beberapa bulatan nasi kepal jumeokbap yang sudah jadi tersusun rapi di piring siap dimakan

Terus dikepalkan jadi bulatan-bulatan kecil seukuran satu gigit, selesai. Proses bikinnya sendiri udah seru. Dan makan nasi kepal selang-seling sama ceker pedas — dari pedas ke gurih, dari gurih balik lagi ke pedas — sekali masuk siklus ini, beneran nggak bisa berhenti.

Review jujur

Ceker pedas itu makanan yang bahkan di antara orang Korea sendiri pun bagi dua kubu: suka banget atau nggak doyan sama sekali. Visualnya memang nggak buat semua orang, dan proses gigit-gigitin daging dari tulang kecil juga cukup merepotkan kalau belum terbiasa. Tapi sekali ketagihan, susah banget lepas. Bumbu pedasnya bikin bibir mati rasa tapi tangan terus aja ambil lagi, diselingi nasi kepal buat nenangin mulut terus balik lagi ke ceker — kalau kamu rasakan sendiri, baru deh ngerti kenapa orang Korea nggak bisa lepas dari makanan ini.

Oh iya, ceker juga terkenal sebagai makanan kaya kolagen, dan di Korea cukup banyak orang yang makan ceker karena percaya bagus buat kulit.

Kalau bicara kekurangan secara jujur, Hanshinpocha itu dasarnya bar, jadi tempatnya agak berisik. Bukan tempat yang cocok buat makan dengan suasana tenang. Dan dari rumahku lumayan jauh, jadi nggak bisa langsung datang kapan aja pengen — itu yang paling bikin sebel menurut aku pribadi. Tapi namanya juga bar, berisik itu ya memang sudah naturnya.

Ada juga pilihan ceker tanpa tulang, jadi kalau merasa repot sama tulang tinggal mulai dari situ. Dan karena level pedasnya bisa dipilih, coba dari level 1 dulu pelan-pelan baru naik ke yang lebih pedas.

Artikel ini pertama kali diterbitkan di https://hi-jsb.blog.

Tanggal Terbit 24 Maret 2026 pukul 02.51
Tanggal Diperbarui 2 April 2026 pukul 04.20