
Bakar Kerang di Pinggir Laut Korea, Seru Banget!
Daftar Isi
15 item
Sebenernya nggak ada rencana khusus sih. Cuma lagi bosen aja sama rutinitas, jadi aku, mama, adik, dan istri — berempat naik mobil sampai ke Gunsan, kota pesisir sekitar 3 jam ke barat daya dari Seoul. Awalnya mau ke kafe di Kepulauan Gogunsan, gugusan pulau-pulau kecil yang terhubung jembatan dari pantai, tapi pas lihat ada restoran seafood persis di sebelahnya, ya udah langsung masuk aja. Dan ternyata, restoran itu jauh lebih berkesan daripada kafe mana pun hari itu.
Tulisan ini bukan buat ngerekomendasiin restoran tertentu ya. Ini lebih buat nunjukin gimana cara makan seafood di pinggir laut Korea. Mau itu di Busan, Incheon, Gangneung, atau Jeju — asal deket laut, restoran bakar kerang kayak gini tuh banyak banget. Di Korea itu ada budaya di mana seafood hidup ditaruh langsung di atas panggangan meja, terus tamu yang bakar sendiri. Nah, inilah yang disebut seafood BBQ ala Korea.

Set Bakar Kerang, Semua Ada di Satu Panggangan
Kami pesan set bakar kerang dan yang keluar kayak gini. Abalon, kerang kampak (scallop), kerang hijau, udang, sampai daging sapi chadolbagi — ditambah tauge, jamur enoki, kucai, tahu, dan keju, sayuran dan side dish-nya penuh banget berjajar. Di restoran bakar kerang pinggir laut Korea, yang keluar tuh bukan cuma seafood doang — banyak tempat yang ngasih daging sapi juga sebagai bagian dari set-nya. Kami berempat makan habis sekitar 100.000 won, jadi per orang sekitar 25.000 won, kalau dirupiahin kurang lebih Rp280.000–310.000-an. Buat tempat wisata, porsinya bener-bener royal. Malah kami sempet mikir, ini bisa habis nggak ya.

Abalon Bakar, Dipanggang Utuh dengan Cangkang Ala Korea
Memanggang abalon utuh dengan cangkangnya langsung di atas grill — itu cara khas Korea. Di luar negeri juga abalon dikenal sebagai bahan makanan mewah, tapi pengalaman memanggang abalon hidup langsung di tempat kayak gini susah ditemuin kalau bukan di pinggir laut Korea. Kalau dipanggang sama cangkangnya, kuah di dalamnya mulai mendidih pelan-pelan sambil dagingnya matang perlahan. Begitu matang, tinggal diambil dan dimakan — teksturnya kenyal tapi lembut, dan aroma laut langsung meledak di mulut.
Aku udah sering makan abalon di Busan dan Jeju, dan jujur rasa abalon-nya sendiri nggak terlalu beda jauh antar daerah. Yang bikin beda itu lebih ke situasinya — kenyataan bahwa kamu lagi makan sesuatu yang baru banget dipanggang tepat di depan laut. Itu yang bikin rasanya kerasa beda menurut aku.

Kerang Kampak, Teksturnya Beda dari Abalon
Kerang kampak (scallop) juga wajib ada di restoran bakar kerang Korea. Begitu ditaruh di grill, cangkangnya terbuka dan kuah di dalamnya mulai mendidih hebat. Bagian otot adduktor yang bulat di tengah — itu bintang utamanya. Kalau udah matang, rasanya manis-manis gurih gitu. Kalau abalon itu kenyal, otot kerang kampak ini lebih ke lembut dan meleleh di mulut.

Dari deket keliatan udang gede-gede juga ikut berjajar, dan otot kerang pen shell (kerang kipas besar) juga dipotong tebal-tebal terpisah. Yang bulat-bulat di sebelahnya itu bakwan seafood, dan jujur yang paling berkesan hari itu bukan abalon atau kerang kampak — tapi justru bakwan seafood ini. Luarnya matang garing renyah, tapi begitu digigit, isi seafood-nya pecah dan kuahnya muncrat keluar. Di menu kayaknya nggak mencolok sama sekali, tapi begitu dicoba, ini yang paling enak.
🐙 Pertama Kali ke Restoran Bakar Kerang Korea? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Di restoran bakar kerang pinggir laut Korea, kamu yang memanggang sendiri di grill meja. Mungkin awalnya agak bingung, tapi biasanya pelayannya akan datang buat ngatur api dan ngasih tau urutan masaknya, jadi nggak perlu khawatir. Anggap aja kayak BBQ seafood — versi Korea.

Seafood, Daging, dan Sayuran Semua di Satu Grill
Kalau dilihat keseluruhan, susunannya kayak gini. Kerang kampak, udang, kerang hijau, dan daging chadolbagi ada di satu panggangan, dikelilingi tauge dan jamur enoki. Kebanyakan restoran bakar kerang di pinggir laut Korea formatnya persis kayak gini.

Kerang kampaknya kami makan dua cara. Yang satu dimasak di dalam cangkang, satunya lagi otot adduktor-nya dipisah terus dipanggang langsung di grill. Yang pakai cangkang itu kuahnya terjebak di dalam jadi lembab dan lembut, sementara yang dipanggang langsung bagian luarnya agak kecokelatan dan teksturnya kenyal-kenyal gurih. Seru banget sih, kerang yang sama tapi rasanya kayak dua makanan yang beda banget tergantung cara masaknya. Orang yang nggak suka bau amis laut pun kalau yang dipanggang langsung ini biasanya doyan-doyan aja.

Keju di Atas Kerang Pen Shell, Serius?
Ini nampan terpisah — otot kerang pen shell yang dipotong tebal-tebal dengan keju mozzarella menumpuk di atasnya. Yang bulat di sebelahnya itu bakwan seafood, dan ini juga ikut dipanggang bareng di grill. Di Korea, nambahin keju di atas kerang bakar itu udah hal yang lumrah banget. Kalau otot kerangnya ditaruh keju terus dipanggang bareng, kejunya meleleh dan nyatu sama rasa asin gurih seafood-nya. Buat yang baru denger, mungkin kedengerannya aneh. Tapi sekali nyoba, langsung ngerti deh.

Chadolbagi dan Samhap, Kombinasi Dasar Bakar Kerang Korea
Chadolbagi juga termasuk dalam set-nya. Ini daging sapi dari bagian bawah dada yang diiris tipis-tipis, ciri khasnya ada lapisan lemak putih yang selang-seling di antara daging merahnya. Begitu ditaruh di grill, lemaknya meleleh duluan dan minyak gurihnya menyebar ke mana-mana — matangnya cuma butuh beberapa detik. Di Korea, chadolbagi yang ikut keluar bareng set bakar kerang itu udah kayak standar. Seafood, daging, dan sayuran dibungkus jadi satu suapan — itu namanya samhap (artinya "kombinasi tiga harmoni"). Yang disajiin di sini pakai daging hanwoo (sapi premium Korea), jadi rasa umami dari lemaknya jelas lebih pekat dibanding daging sapi biasa.
💰 Referensi Harga
Sekitar 100.000 won untuk 4 orang (per orang sekitar 25.000 won, atau Rp280.000–310.000). Di kota-kota non-wisata yang jauh dari pantai, dengan harga segitu kamu bisa dapat mini course termasuk sashimi. Harga tempat wisata emang agak lebih mahal, itu fakta — tapi dengan porsi dan kualitas segini, nggak ada rasa rugi sama sekali.

Sayuran dan Side Dish, Segini Sudah Termasuk Set
Bukan cuma seafood dan daging — sayurannya juga keluar menumpuk di satu sisi kayak gini. Tauge ditumpuk kayak gunung, dan di sampingnya ada kimchi sama lauk-lauk kecil lainnya.

Dari deket, di samping tauge ada rice paper yang direndam air, plus jamur enoki dan tahu berjajar rapi. Bungkus daging chadolbagi panggang, otot kerang, dan tauge pakai rice paper terus digulung-gulung itu juga enak — rasanya mirip-mirip kayak makan lumpia Vietnam, jadi turis asing pun pasti bisa makan tanpa canggung.

Jamur enoki, tahu, dan kucai juga keluar satu piring penuh. Dan ini bukan pesan tambahan ya — ini semua udah termasuk dalam set-nya. Restoran bakar kerang di pinggir laut Korea emang cenderung royal banget kasih side dish-nya.
Lauk Pauk di Restoran Korea Semuanya Gratis
Sebentar, aku mau bahas soal lauk pauk dulu. Di restoran Korea, kalau kamu pesan menu utama, lauk-lauk kecil (banchan) otomatis ikut keluar, dan ini semua gratis tanpa biaya tambahan. Bukan semacam tip atau apa — emang budaya makan di Korea kayak gitu. Turis dari luar negeri biasanya cukup kaget sama bagian ini.

Ini namanya jangajji. Sayuran kayak lobak dan bawang putih yang diasinkan pakai kecap Korea. Rasanya manis-manis asin, cocok banget buat penyegar mulut pas lagi makan daging.

Kimchi. Ini sih nggak perlu penjelasan lagi ya. Mau ke restoran Korea mana pun, kimchi pasti selalu ada — lauk paling basic dari yang paling basic.

Kkakdugi. Lobak dipotong dadu terus dilumuri bubuk cabai. Teksturnya lebih kriuk dibanding kimchi biasa, jadi kalau dimakan bareng daging berminyak atau seafood, mulut jadi seger.

Ini namanya myeongyi namul. Daun bawang putih liar yang direndam kecap. Kalau daging panggang atau otot kerang ditaruh di atas daun ini terus dibungkus, aromanya harum banget dan bisa ngilangin rasa eneg. Fungsinya kayak daun pembungkus (ssam) gitu.
🥬 Apa Itu Banchan?
Di Korea, mau ke restoran mana pun, kalau pesan menu utama pasti dapat banchan (lauk pauk kecil) gratis. Kimchi, acar sayuran, kkakdugi, daun bawang putih marinasi — semua ini bagian dari budaya makan Korea. Kalau habis, refill-nya juga gratis. Ini salah satu hal yang paling bikin kaget turis yang pertama kali makan di restoran Korea.

Mulai Memanggang Beneran
Chadolbagi-nya ditaruh di atas tauge dan kucai kayak gini, dimasak bareng kayak ditumis. Sayurannya ditaruh duluan sebagai alas, terus dagingnya ditaruh di atasnya — uap air dari sayuran naik ke atas jadi dagingnya nggak gosong dan matangnya tetep juicy. Begitu matang, daging dan sayuran udah tercampur jadi satu dan bisa diambil sekaligus pakai sumpit — ini jauh lebih enak daripada makan terpisah.

Begitu mulai ditaruh di panggangan, pemandangan yang terbentang itu kayak gini. Abalon bergerak-gerak di atas cangkangnya kena panas, di sampingnya otot kerang kampak lagi menguning matang, dan udang pelan-pelan berubah dari abu-abu kebiruan jadi merah cerah. Pelayannya dateng di awal buat ngatur api dan ngasih tau urutan masaknya. Abalon dan kerang kampak duluan, terus kalau udah agak matang baru daging chadolbagi ditaruh, terakhir tauge dan kucai ditumpuk di atasnya. Udang tinggal ditaruh di sela-sela yang kosong kapan aja.

Proses Memanggang Sendiri Itu Sendiri yang Jadi Daya Tarik Seafood Korea
Begitu beneran mulai manggang, panggangan jadi rame banget. Minyak dari chadolbagi keluar mendesis-desis, tauge berbunyi "ciiiss" ngeluarin uap, udang udah merah matang duluan. Asap, suara, bau — proses ini sendiri yang menurut aku jadi daya tarik terbesar dari restoran seafood pinggir laut Korea. Bukan soal nerima makanan jadi yang tinggal dimakan — tapi kamu yang manggang sendiri, ngeliat prosesnya matang, nunggu timing yang pas buat diambil dan dimakan. Seluruh proses itu ADALAH makanannya.

Abalon kalau kena panas di grill, badannya meliuk-liuk di dalam cangkang. Karena ini dipanggang hidup-hidup, orang yang baru pertama lihat mungkin agak kaget. Sambil matang, kuahnya mulai mendidih keluar dari pinggiran cangkang — kalau kuah itu ikut dimakan bareng dagingnya, rasa laut beneran masuk langsung ke mulut.

Kalau kerang kampak dimasak di dalam cangkangnya kayak gini, kuahnya menggenang di dalam. Rasanya beda lagi dari yang tadi otot adduktor-nya dipanggang langsung di grill — yang pakai cangkang ini kuahnya masih utuh jadi lebih lembab dan lembut. Suara mendesis-desis, bau asap yang naik, makan sambil lihat pakai mata, dengar pakai telinga, dan cium pakai hidung — rasanya jadi kerasa dua kali lipat lebih enak.
🔥 Pengalaman Langsung Manggang Sendiri
Ikutin urutan yang dikasih tau pelayannya, ternyata nggak susah kok. Abalon dan kerang kampak duluan, terus chadolbagi, terakhir sayuran. Abalon digunting jadi potongan kecil seukuran satu suap terus ditaruh di atas daun bawang putih, otot kerangnya dicelup ke keju yang udah meleleh — kombinasi ini juara banget hari itu.
Pas udah hampir habis semua, pelayannya goreng nasi di panggangan pakai sisa minyak dan sayuran. Kuah seafood dan minyak chadolbagi meresap ke butiran nasi — rasa gurihnya bener-bener mantap.
Jujur Aja dari yang Udah Coba Banyak Tempat
Satu hal yang mau aku bilang jujur — aku udah makan seafood pinggir laut Korea di cukup banyak tempat, dan nggak bisa dibilang tempat ini yang paling enak secara meyakinkan. Pasar Jagalchi di Busan pilihannya jauh lebih beragam, dan kalau nggak salah ingat abalon di Jeju ukurannya lebih besar. Di kota-kota yang jauh dari pantai pun, dengan harga segitu kamu bisa dapat mini course termasuk sashimi. Tapi dengan mempertimbangkan ini tempat wisata, kualitasnya oke, dan porsinya melebihi ekspektasi. Yang paling penting, nilai sesungguhnya dari restoran ini bukan makanannya sendiri — tapi situasi makan tepat di depan laut.

Bukan Cuma Soal Makanan — Pemandangan Laut dari Jendela
Tapi yang bikin restoran ini bagus bukan cuma makanannya. Kalau duduk di kursi dekat jendela, laut langsung keliatan di balik kaca besar. Waktu itu musim gugur tapi ternyata lebih panas dari yang dikira, jadi kami pilih duduk di dalam dekat jendela daripada di teras luar. Ada juga teras dengan pohon palem dan payung — kalau cuacanya bagus, makan di luar pasti asik juga.

Setiap meja udah ada panggangan terpasang, dan jarak antar meja cukup lapang jadi bisa makan santai tanpa terganggu meja sebelah. Karena manggang seafood itu emang ngebul asapnya, jarak segini emang perlu sih.

Makan di Restoran Pesisir Korea Sambil Lihat Laut
Keluar ke luar, pemandangannya kayak gini. Persis di depan ada pelabuhan dan di belakangnya pulau-pulau berjajar. Restoran seafood pinggir laut Korea banyak banget yang punya view laut kayak gini — dan makanan yang sama pun kalau dimakan di depan laut rasanya beda, itu kayaknya berlaku di negara mana pun deh.

Di depan restoran ada pohon palem berdiri, dan teras dengan rumput sintetis plus payung dan kursi. Restoran seafood tapi dari luar kayak resort. Restoran-restoran pinggir laut Korea sekarang emang udah banyak yang perhatiin banget sama tampilan luar. Dulu kebanyakan kesan warung ikan kumuh, tapi sekarang beda banget.

Ini tampilan luarnya. Keluar ke sisi teras, langsung di depan itu laut, dan ada kursi-kursi warna-warni berjajar. Cukup banyak orang yang duduk di sini sebelum atau sesudah makan buat ngeliatin laut.

Segini jaraknya laut yang keliatan dari sela-sela pohon palem. Kalau cuaca bagus, pasti pengen makan di luar daripada di dalam. Ini difoto pakai HP jadi kualitasnya agak kurang, tapi mudah-mudahan suasananya tetap kerasa ya.
Seafood Pinggir Laut Korea, Nggak Harus Jauh-Jauh Kok
Makan seafood di pinggir laut Korea itu bukan cuma soal ngisi perut. Abalon hidup menggeliat di depan mata, otot kerang kampak menguning matang, minyak chadolbagi mendesis-desis mengalir di atas tauge — seluruh proses itu adalah bagian dari makannya. Sebelum sumpit diangkat pun, kelima indera udah penuh sesak. Itulah yang menurut aku jadi daya tarik sesungguhnya dari restoran bakar kerang di pinggir laut Korea.
Sekali lagi ya, ini bukan tulisan buat ngerekomendasiin satu restoran tertentu. Di pesisir Korea mana pun, restoran bakar kerang kayak gini gampang banget ditemuin. Haeundae di Busan, Yeongjongdo di Incheon, Gangneung, Pohang, Tongyeong, Yeosu, sampai Jeju — di mana ada laut, hampir pasti ada. Kalau kamu lagi jalan-jalan di Korea dan kebetulan lewat deket pantai, coba deh masuk satu aja restoran yang ada papan tulisan bakar kerang.
✈️ Tips untuk Wisatawan Asing
Pulau yang kami kunjungi — Jangjado — sekitar 3 jam naik mobil dari Seoul, dan dari situ masih harus melewati tanggul laut Saemangeum untuk masuk ke pulaunya. Kalau pakai transportasi umum, harus naik bus nomor 99 dari pusat kota Gunsan (interval 60 menit), dan tanpa rental mobil setengah hari habis cuma buat perjalanan.
Sebaliknya, Haeundae di Busan atau Yeongjongdo dekat Incheon bisa dicapai dari Seoul pakai transportasi umum cuma 1–2 jam, dan restoran seafood-nya ada langsung deket stasiun, jadi aksesnya jauh lebih gampang. Nggak harus jauh-jauh buat dapetin pengalaman seafood pinggir laut Korea yang lengkap.
Informasi Restoran yang Dikunjungi di Tulisan Ini
Nama: Jangjado Noeulbada (장자도 노을바다, artinya "Laut Senja")
Alamat: 62, Jangjado 1-gil, Okdo-myeon, Gunsan-si, Jeollabuk-do, Korea Selatan
Telepon: +82-507-1430-5003
Jam Buka: 11:00 – 21:00 (Last order 20:20)
Hari Libur: Setiap hari Rabu
Instagram: @jangjado_sunset_beach
Google Maps: Lihat Peta
Menu
Set Samhap Kerang Pen Shell: 2 orang ₩55.000 (~Rp620.000) / 3 orang ₩75.000 (~Rp845.000) / 4 orang ₩85.000 (~Rp960.000)
Sashimi Campur: 2 orang ₩135.000 (~Rp1.520.000)
Sup Pedas Ikan Rockfish Segar: 2 orang ₩50.000 (~Rp565.000)
Sup Belut Conger Kering: 2 orang ₩50.000 (~Rp565.000)
Mie Potong Kerang: ₩10.000 (~Rp113.000)
Ramyeon Seafood: ₩10.000 (~Rp113.000)
Nasi Goreng: ₩3.000 (~Rp34.000)
* Menu lain juga tersedia termasuk mulhoe (sashimi dingin), rice bowl sashimi, bubur abalon, dll.
Harga dan jam operasional bisa berubah sewaktu-waktu — harap konfirmasi langsung sebelum berkunjung.
Artikel ini pertama kali dipublikasikan di https://hi-jsb.blog.