KategoriMakanan
BahasaBahasa Indonesia
Tanggal Terbit21 April 2026 pukul 02.00

Cara Makan Sundaegukbap di Warung Gukbap Daejeon

#cara makan sundaegukbap
Sekitar 10 menit membaca
🚨

Warung sundaegukbap di gang Daejeon setelah lembur

Pagi ini, habis lembur aku jalan pulang bareng istriku. Pas lagi lewat gang perumahan di Daejeon, tiba-tiba ada aroma gukbap, sup nasi hangat, yang lagi mendidih dari entah mana. Masih bulan April, tapi angin pagi dingin, perut kosong, dan di kondisi begini rasanya memang cuma kuah panas yang bisa nolong. Di Korea ada sarapan gaya habis lembur yang sering dimakan buat memulihkan badan, yaitu sundaegukbap (sundaegukbap), sup nasi dengan sundae, sosis darah Korea isi bihun. Buat pembaca Muslim di Indonesia, ini perlu dicatat dari awal: menu ini jelas bukan halal karena memakai daging babi dan darah. Buat orang Korea, ini makanan lokal yang semua orang tahu, enak buat makan sendirian, dan di hampir setiap lingkungan pasti ada satu papan nama warung seperti ini. Aku bilang ke istriku, “Masuk situ, yuk,” tapi begitu lihat papan namanya dia langsung bilang, “Kamu tahu aku nggak bisa makan sundae.” Aku jawab, “Ada dwaejigukbap (dwaejigukbap), sup nasi babi juga.” Cuma dengan satu kalimat itu, kami langsung masuk. Bukan tempat yang kami cari dari awal, cuma ketemu pas lewat lalu spontan masuk.

Satu sundaegukbap, satu dwaejigukbap. Masing-masing sekitar Rp100.000, jadi total berdua sekitar Rp200.000. Harga segini buat gukbap di Korea sudah cukup bikin kenyang dari pagi. Karena masih pagi banget, pelanggan cuma kami berdua.

Istriku orang asing, tapi sejak tinggal bareng di Korea dia jadi suka gukbap secara umum. Cuma sundae masih belum bisa. Karena di dalam sundae ada seonji, darah sapi beku, dan darah babi, dia masih merasa agak susah menerimanya, jadi setiap ke warung gukbap dia selalu pesan dwaejigukbap. Bahkan di antara orang Korea sendiri juga banyak yang nggak bisa makan sundae, jadi ini bukan soal orang asing atau bukan, memang murni soal selera masing-masing.

Sundaegukbap

Sarapan habis lembur, pemulih badan setelah minum, makan sendiri saat cuaca dingin — momen-momen saat orang Korea masuk ke warung gukbap

🫀 Wajib tahu kalau ini bisa bikin orang pro-kontra

Karena ada jeroan babi dan seonji di dalamnya, makanan ini bisa terasa asing saat pertama kali dicoba. Bahkan di Korea pun ada cukup banyak orang yang memang tidak bisa memakannya.

🍚 Aman buat makan sendiri

Satu mangkuk sudah cukup jadi satu kali makan. Datang sendirian juga sama sekali tidak canggung. Memang dari awal warung gukbap di Korea penuh dengan orang yang datang sendiri buat makan cepat.

💰 Kisaran harga

Sekitar Rp100.000~Rp135.000. Tempat yang aku makan hari ini harganya sekitar Rp100.000 per mangkuk.

Kalau sundae terasa terlalu berat?

Di warung yang sama kamu bisa pesan dwaejigukbap. Kuahnya sama, harganya sama, tapi isinya irisan daging babi rebus, bukan sundae. Istriku juga selalu pesan yang ini.

Cuma pesan semangkuk sundaegukbap, tapi meja langsung penuh

Set lengkap di warung sundaegukbap gang Daejeon — sundaegukbap, dwaejigukbap, kkakdugi, kimchi, bawang, cabai Cheongyang, saeujeot, dan lauk kecil memenuhi meja kayu

Padahal kami cuma pesan satu sundaegukbap dan satu dwaejigukbap, tapi meja sampai nggak ada ruang kosong. Waktu pertama kali datang ke restoran Korea, istriku pernah lihat set begini lalu bilang, “Ini semua yang kita pesan?” Ya nggak, memang di Korea biasanya begini. Pesan satu menu utama saja, lauk pendamping langsung keluar sendiri. Nggak ada biaya tambahan, dan kalau kurang tinggal bilang “tambah, ya,” biasanya langsung dibawakan lagi.

Kimchi dimakan setelah dipotong pakai gunting

Kimchi sawi utuh yang keluar di warung sundaegukbap sebelum dipotong dengan gunting
Momen memotong kimchi sawi dengan gunting restoran Korea menjadi ukuran yang gampang dimakan

Kimchi keluar dalam bentuk utuh. Kalau langsung mau masukin satu lembar penuh ke mulut, ya jelas repot. Di restoran Korea hampir selalu ada gunting, jadi tinggal dipotong jadi ukuran yang enak dimakan seperti ini. Budaya memotong makanan dengan gunting memang ada di Korea. Awalnya bisa terasa aneh, tapi di sini itu hal yang biasa banget. Istriku juga dulu sempat bengong sambil pegang gunting, sekarang malah lebih cepat ngambil gunting daripada aku.

Kkakdugi, cabai Cheongyang, dan lauk-lauk pendamping

Lauk sundaegukbap berupa kkakdugi — kimchi lobak potong dadu yang renyah tersaji di piring putih

Kkakdugi, kimchi lobak potong dadu. Teksturnya renyah banget. Aku biasanya makan tiga atau empat sendok kuah, lalu ambil satu potong kkakdugi, lalu balik lagi ke kuah, lalu kkakdugi lagi. Harus selang-seling begini supaya sampai akhir rasanya nggak bikin bosan.

Lauk sundaegukbap berupa cabai Cheongyang — cabai pedas Korea yang dimakan dengan ssamjang

Cabai Cheongyang. Tinggal dicelup ke ssamjang, pasta kedelai pedas, lalu digigit, tapi ini termasuk cabai yang lumayan pedas di Korea. Dulu istriku pernah tanpa mikir langsung gigit satu utuh, terus habis tiga gelas air. Kalau baru pertama kali, gigit sedikit ujungnya dulu buat cek level pedasnya.

Lauk dasar warung sundaegukbap berupa tumis jamur — budaya lauk pendamping di warung gukbap Korea yang bisa beda tiap tempat

Lauk pendamping beda-beda tergantung warungnya. Di tempat ini keluarnya tumis jamur, tapi di tempat lain bisa saja sayur bayam atau kecambah. Yang hampir pasti muncul di mana pun di Korea cuma kimchi dan kkakdugi, sisanya tergantung kondisi dapur hari itu.

Kuah dan isi sundaegukbap

Kuah putih sundaegukbap — kuah keruh pucat hasil rebusan tulang babi lama tersaji dalam ttukbaegi
Isi di dalam kuah sundaegukbap — saat diaduk dengan sendok, sundae, daging rebus, dan jeroan naik ke permukaan

Warna kuahnya putih banget. Itu karena direbus lama dari tulang babi, tapi kalau baru lihat sekilas memang bisa kelihatan hambar. Begitu diaduk sekali pakai sendok, dari bawah langsung naik sundae, daging rebus, dan jeroannya. Istriku melongok ke mangkukku lalu langsung geleng-geleng, “Yang itu sih aku nggak bisa.” Soalnya di dwaejigukbap miliknya memang nggak ada isi seperti ini.

Daging babi rebus — tokoh utama dwaejigukbap

Daging babi rebus di dalam sundaegukbap — potongan dengan kulit yang matang kenyal

Ini daging babi rebusnya. Ada bagian yang masih menempel kulit, tapi teksturnya bukan lembek, malah kenyal enak. Karena direbus lama di kuah, sama sekali nggak ada bau aneh. Istriku juga makan bagian ini dengan lahap. Kalau jeroan terasa berat, tinggal pesan dwaejigukbap karena biasanya isinya lebih fokus ke irisan daging rebus seperti ini.

Sundae — kelihatan asing saat pertama lihat, tapi...

Sundae di dalam sundaegukbap — potongan sosis darah Korea berisi bihun dan seonji di dalam usus babi

Ini sundae-nya. Karena usus babi diisi bihun dan seonji, warnanya jadi gelap. Aku sempat bilang ke istriku, “Mau coba sekali aja?” Dia ambil pakai sumpit, menatapnya lama, lalu taruh lagi. Katanya, “Lain kali, deh...” tapi dari ekspresinya sih rasanya lain kalinya juga belum tentu datang. Soal rasa, sebenarnya cenderung ringan. Bahkan ada yang merasa terlalu datar, makanya biasanya dicelup ke bumbu merah atau dimakan bareng kuah. Rasanya mirip kasus jeroan sate di Indonesia: buat yang terbiasa itu nagih, tapi buat yang baru lihat pertama kali, momen awalnya memang bikin mikir dua kali.

Cara makan sundaegukbap — bumbunya harus diracik sendiri

Nah, mulai dari sini yang paling penting. Sundaegukbap waktu datang biasanya hampir belum diberi garam atau bumbu. Kalau dimakan begitu saja, rasanya hambar. Jadi kamu memang harus menyesuaikan rasanya sendiri dengan bahan-bahan yang ada di meja.

Menambahkan air kkakdugi

Momen menuangkan air kkakdugi dengan sendok ke dalam sundaegukbap
Warna kuah sundaegukbap berubah setelah bercampur dengan air kkakdugi

Ada orang yang suka mengambil sedikit air kkakdugi lalu menuangkannya ke sundaegukbap. Aku sendiri biasanya nggak sampai segitunya, tapi memang benar, air kkakdugi itu asam segar dan sedikit pedas, jadi begitu bercampur dengan kuah putih rasanya langsung berubah.

Menyeimbangkan rasa dengan bumbu merah dan saeujeot

Satu sendok bumbu merah masuk ke sundaegukbap — momen saat kuah putih berubah jadi lebih pedas dan berwarna

Aku masukin satu sendok bumbu merah. Dasarnya cabai bubuk dan bawang putih, dan begitu masuk, kuah putihnya langsung berubah jadi hangat pedas. Lebih dari setengah orang Korea makan menu ini seperti ini. Kalau tahan pedas, satu sendok. Kalau nggak terlalu kuat, setengah saja dulu.

Menambahkan saeujeot ke sundaegukbap — cara bumbu ala Korea untuk menaikkan umami, bukan sekadar asin

Saeujeot, udang asin fermentasi. Fungsinya beda dengan bumbu merah. Ini bukan buat bikin pedas, tapi buat mengangkat rasa umami kuah. Waktu pertama kali aku tunjukkan saeujeot ke istriku, dia buka tutupnya lalu langsung bilang, “Ini apaan?” sambil refleks menutup hidung. Wajarlah, namanya juga udang fermentasi, aromanya memang ada. Tapi begitu kuaduk sedikit ke dalam kuah dan kusuruh dia cicip, dia langsung bilang, “Rasanya beda banget dari tadi.” Garam cuma menambah asin, sementara saeujeot menambah satu lapisan rasa lagi.

Menambahkan sedikit garam ke sundaegukbap untuk menyesuaikan rasa

Kalau masih terasa kurang asin, tinggal tambah garam. Tapi jangan langsung banyak, karena sekali kebanyakan, selesai sudah, susah diselamatkan. Sedikit dulu, aduk, cicip, lalu kalau masih kurang baru tambah lagi sedikit. Dan memang harus diaduk. Kalau nggak, satu sisi akan terlalu asin dan sisi lain tetap hambar.

Menambahkan bubuk perilla ke sundaegukbap — rasa gurih naik dan aroma babinya terasa lebih ringan

Kalau di meja ada bubuk perilla, coba tambahkan juga. Rasanya jadi lebih gurih, dan aroma khas babinya sedikit berkurang. Aku juga menyuruh istriku memasukkannya ke dwaejigukbap miliknya, dan habis itu dia bilang, “Nah, kalau pakai ini jauh lebih enak.” Nggak wajib, tapi kalau tersedia, patut dicoba.

Tambahkan kucai — ini langkah terakhirnya

Menumpuk banyak kucai di atas sundaegukbap
Sundaegukbap dengan kucai di atasnya — warna kuah berubah setelah dibumbui dengan bumbu merah dan saeujeot

Tambahkan kucai. Tadi setelah masuk saeujeot dan bumbu merah, warna kuahnya sudah jauh beda dari awal, kan? Begitu kucai masuk, aroma babinya jadi berkurang dan rasanya jadi lebih segar. Jangan pelit. Semakin banyak, biasanya semakin enak.

Kucai mulai layu dan matang di dalam kuah sundaegukbap yang panas
Sendaok penuh sundaegukbap yang sudah jadi — kucai, sundae, dan daging rebus diambil dalam satu sendok

Karena kuahnya panas banget, kucainya cepat langsung layu. Jadi habis ditaruh, langsung makan. Begitu kucai yang setengah layu, sundae, dan daging rebus diambil bareng dalam satu sendok — setelah kerja semalaman dan perut kosong, rasanya badan langsung longgar. Serius, susah berhenti.

Berbagai bagian isi di dalam sundaegukbap

Isi sundaegukbap — campuran daging rebus, kulit, dan bagian kepala babi dengan tekstur yang beragam

Isi sundaegukbap itu bukan cuma satu bagian saja. Biasanya ada campuran daging rebus, kulit, daging kepala, dan bagian-bagian lain, dan komposisinya beda tergantung warung. Dalam satu mangkuk, tiap bagian punya tekstur yang beda, jadi makin dimakan justru terasa terus ada hal baru.

Kalau baru pertama kali makan sundaegukbap, ingat ini saja

Rasa asin dan bumbunya memang harus kamu atur sendiri. Kalau dimakan polos, rasanya hambar.

1. Saeujeot setengah sendok dulu

Masukkan saeujeot lebih dulu daripada garam. Jadi bukan cuma asin, tapi rasa dasar kuahnya juga langsung kebentuk. Garam dipakai belakangan kalau setelah itu rasanya masih kurang.

2. Bumbu merah itu soal selera

Kalau kamu tambahkan bumbu merah berbasis cabai bubuk, kuah putihnya berubah jadi merah dan terasa lebih hangat pedas. Nggak pakai juga bisa, tapi kalau dipakai rasanya jadi benar-benar berbeda.

3. Kucai yang banyak

Aroma babinya jadi berkurang dan kuahnya terasa lebih segar. Jadi jangan pelit.

4. Bubuk perilla saat terasa terlalu berat

Rasa gurihnya naik dan kesan eneknya berkurang. Nggak semua warung punya, tapi kalau ada, sayang banget kalau nggak dicoba.

5. Selipkan kkakdugi di tengah-tengah

Tiga atau empat sendok kuah, lalu satu potong kkakdugi. Tekstur renyahnya seperti mereset mulut.

Nasinya mau dicampur ke kuah atau dimakan terpisah, dua-duanya boleh

Nggak ada aturan mutlak

Sebagian besar warung

Biasanya nasi dan kuah keluar terpisah. Mau nasinya dicampur ke kuah atau dimakan terpisah, tinggal pilih sendiri sesuai gaya makanmu.

Tapi ada warung yang perlu diperhatikan

Di beberapa tempat, nasi sudah langsung dicampur ke kuah sejak dari dapur. Kalau kamu ingin nasi terpisah, harus bilang dari awal saat memesan.

Hal-hal yang enak diketahui sebelum pesan

Apalagi buat yang belum bisa bahasa Korea

Menu berbahasa Inggris hampir nggak ada

Kecuali di area wisata, kebanyakan tempat cuma punya papan menu berhuruf Korea. Tapi menunya biasanya tidak rumit, jadi cukup arahkan aplikasi penerjemah di ponsel ke papan menu. Ucapkan “hana” untuk satu mangkuk, lalu selesai.

Bisa pilih cuma sundae / cuma jeroan / campur

Saat memesan, kadang kamu bisa memilih isi apa yang mau masuk ke dalam gukbap. Kalau cuma bilang “satu sundaegukbap,” biasanya yang datang versi campur.

Buka dari pagi

Banyak tempat buka dari jam 6 atau 7 pagi, bahkan ada yang 24 jam. Di Korea, gukbap memang sering dimakan sebagai sarapan atau makanan pemulih badan setelah minum, jadi cukup banyak warung yang sudah buka sejak pagi buta. Aku sendiri juga makan ini pas pulang kerja pagi tadi.

Harga

Biasanya sekitar Rp100.000~Rp135.000. Tempat yang aku makan hari ini harganya sekitar Rp100.000. Di dekat area wisata Seoul, ada juga yang lewat Rp145.000 per mangkuk.

Sulit untuk vegetarian

Kuahnya dibuat dari rebusan tulang babi, dan isi di dalamnya juga semuanya bagian babi. Di antara gukbap Korea, yang paling mendekati vegetarian mungkin kongnamulgukbap, sup nasi tauge, tapi bahkan itu pun di banyak tempat kaldu dasarnya tetap memakai babi.

Ulasan jujur

Setelah istriku menghabiskan semangkuk dwaejigukbap, dia bahkan minum kuahnya sampai habis. Aku tanya, “Enak?” Dia mengangguk, lalu bilang, “Tapi lihat kamu makan yang itu, aku tetap beneran nggak sanggup makan sundae.” Sementara aku menumpuk kucai banyak-banyak di sundaegukbap, lalu menghabiskan sampai kuah terakhir. Kuahnya sama, warungnya sama, tapi kami pesan yang beda dan keluar sama-sama kenyang.

Kalau aku harus jujur ke orang yang baru pertama kali makan sundaegukbap, suapan pertama itu memang yang paling sulit. Tampilan asing, aromanya juga khas. Tapi begitu lewat titik itu, rasanya berubah. Aku sendiri juga ada hari-hari saat lagi kurang mood buat ini, tapi kalau seperti hari ini, habis kerja sampai subuh dan perut kosong, satu sendok kuah panas masuk lalu rasanya susah berhenti.

Kalau sundae ternyata nggak cocok, pesan dwaejigukbap saja. Kalau dwaejigukbap juga terasa terlalu berat, coba cari warung seolleongtang, sup tulang sapi, karena kuahnya dari tulang sapi jadi sama sekali tidak punya aroma babi, dan istriku juga suka itu. Kongnamulgukbap juga cenderung paling ringan karena dagingnya hampir tidak ada. Jenis gukbap di Korea banyak banget, jadi kalau satu jenis tidak cocok, bukan berarti kamu harus menyerah sama semua gukbap.

Postingan ini pertama kali diterbitkan di https://hi-jsb.blog.

Tanggal Terbit 21 April 2026 pukul 02.00
Tanggal Diperbarui 21 April 2026 pukul 02.10