KategoriKafe
BahasaBahasa Indonesia
Tanggal Terbit26 April 2026 pukul 03.27

Review Kafe 24 Jam di Korea — Hollys Coffee Subuh Jam 4 Pagi

#kafe 24 jam#review kafe estetik#nongkrong subuh
Sekitar 13 menit membaca
🚨

Subuh Jam 4, Hujan-Hujanan Nemu Kafe 24 Jam di Korea

Jam 4 subuh, hujan turun. Aku nggak bisa tidur, guling-guling di kasur sampai akhirnya ngajak istri, "Keluar yuk?" Dia langsung bangun. Kita berdua asal pakai baju terus keluar, tapi bingung juga — jam segini mau ke mana coba. Eh, ternyata ada cahaya kafe yang masih nyala. Hollys Coffee. Ternyata ini kafe 24 jam.

Tampak luar kafe Hollys Coffee yang terang benderang di tengah jalanan subuh yang basah karena hujan

Lantai basah kena hujan memantulkan cahaya dari dalam kafe, bikin suasananya terasa dramatis. Jalanan sepi tanpa satu orang pun, tapi lampu kafe menyala terang — itu aja udah bikin mood langsung naik. Mungkin banyak yang belum tahu kalau di Korea itu ada kafe 24 jam, dan memang nggak banyak sih, tapi di kota-kota besar kadang bisa ketemu. Cuma nggak semua Hollys Coffee buka 24 jam ya, yang ini kebetulan kasus spesial. Kalau kamu lagi traveling ke Korea dan butuh tempat nongkrong subuh-subuh, kafe 24 jam kayak gini bisa jadi penyelamat banget.

Cara Pesan di Kafe Korea Pakai Kiosk, Gampang Banget

Mesin kiosk pemesanan mandiri di pintu masuk kafe Hollys Coffee
Tampilan layar kiosk pemesanan Hollys Coffee dari dekat

Masuk ke dalam, langsung keliatan kiosk-nya. Sekarang di Korea, mau kafe mau restoran, pesan lewat kiosk itu udah jadi hal standar. Hollys juga sama. Tinggal pilih menu di layar, bayar pakai kartu atau dompet digital, selesai. Nggak bisa pakai uang tunai ya. Di kiosk cuma terima kartu atau pembayaran mobile. Tapi kalau kamu bingung atau cuma punya cash, bisa langsung ke kasir buat pesan manual. Pegawainya bakal bantu, jadi nggak usah khawatir.

Harga Menu Hollys Coffee dan Fitur Multi-Bahasa

Layar kiosk Hollys Coffee menampilkan harga Americano, Cafe Latte, dan Vanilla Delight

Ini tampilan layar kiosk-nya. Menu ditampilin lengkap dengan foto, jadi gampang milihnya. Ada fitur multi-bahasa juga, jadi turis yang nggak bisa bahasa Korea tetap bisa pesan. Tinggal tekan ikon bendera di bagian atas layar buat ganti bahasa. Harga: Americano Rp54.000, Cafe Latte Rp60.000, Vanilla Delight Rp71.000. Untuk ukuran kafe franchise Korea, harga segini standar. Kurang lebih mirip Starbucks, atau sedikit lebih murah. Buat yang belum tahu Hollys Coffee itu apa, ini adalah brand kafe espresso pertama di Korea, berdiri tahun 1998 di Gangnam, Seoul. Bahkan lebih dulu setahun dari Starbucks Korea. Sekarang ada sekitar 500 cabang di seluruh Korea, tapi dibanding Starbucks atau A Twosome Place, jumlahnya memang nggak sebanyak itu — makanya ada orang Korea yang rajin keliling kafe tapi belum pernah coba Hollys. Aku sendiri jujur lebih sering ke Starbucks atau A Twosome, tapi Hollys tiap kali dikunjungi selalu punya vibe yang beda, jadi kadang sengaja nyari.

Makan di Tempat atau Bawa Pulang, dan Aturan Gelas Sekali Pakai di Korea

Layar kiosk Hollys Coffee menampilkan pilihan makan di tempat atau bawa pulang

Setelah pilih menu, muncul layar ini. Makan di tempat atau bawa pulang. Ini bukan formalitas doang lho. Di Korea, penggunaan gelas plastik sekali pakai di dalam kafe diatur oleh hukum, jadi kalau kamu pilih makan di tempat, minumannya bakal disajikan pakai mug atau gelas reusable. Gelas sekali pakai cuma dikasih kalau kamu pilih bawa pulang. Dan yang penting: jangan pilih bawa pulang terus minum pakai gelas plastik di dalam kafe — itu bisa bikin kafe-nya kena denda. Aku pernah lihat beberapa turis asing yang bingung soal ini waktu pertama kali datang ke Korea. Kalau mau minum di tempat, tinggal pilih makan di tempat aja. Kalau ternyata nggak habis dan mau dibawa pergi, bilang ke kasir nanti dipindahin ke gelas sekali pakai.

Review Jujur Dessert Hollys Coffee, Langsung Coba Sendiri

Roll cake susu murni Hollys Coffee di atas piring putih, dessert kafe lembut

Ini roll cake susu murni yang dipesan istri. Luarnya roti castella lembut, dalamnya penuh whipped cream susu. Manis tapi nggak bikin eneg, cenderung ringan. Enak dimakan bareng kopi. Tapi Rp69.000 untuk ukuran segini rasanya agak kemahalan. Kalau dibandingin sama roll cake minimarket Korea, rasa memang lebih enak sih, tapi selisih harganya hampir tiga kali lipat — jadi agak mikir juga.

Dolce Latte Hollys, Latte Susu Kental Manis yang Pas

Dolce latte es Hollys Coffee dilihat dari atas, minuman kafe populer Korea
Dolce latte es Hollys Coffee dari samping dengan susu kental manis mengendap di dasar gelas

Istri pesan dolce latte. Ini latte yang dibuat dari espresso dicampur susu kental manis — salah satu menu populer Hollys yang udah ada sejak lama. Rasanya manis lembut karena susu kental manisnya nyatu sama kopi, tapi nggak manis sampai bikin sesak. Kalau kamu pernah minum kopi susu kental manis di Indonesia, bayangin versi yang lebih halus dan creamy — kira-kira seperti itu. Karena dipesan es, susu kental manisnya ngendap di dasar, jadi harus diaduk dulu sebelum diminum. Kalau nggak, bagian atas hambar dan bawahnya kemanisan. Istri langsung kena jebakan itu. Satu teguk pertama langsung bilang, "Kok rasanya gini?" Begitu aku adukin, baru deh bilang enak.

Mint Choco Hallycino, Pilihan untuk Tim Mint Choco

Mint choco Hallycino Hollys Coffee dengan whipped cream di atasnya, minuman blended kafe
Mint choco Hallycino Hollys Coffee dari dekat terlihat choco chip di dalamnya

Aku pesan mint choco Hallycino. Hallycino itu nama Hollys buat minuman blended mereka — gampangnya, minuman tipe slushie yang dibuat dari es diblender. Atasnya ditumpuk whipped cream banyak banget, dan di dalam minuman warna mint muda itu ada choco chip yang nyangkut-nyangkut. Aroma mint-nya nggak terlalu kuat, lebih ke arah lembut, jadi yang baru pertama kali coba mint choco kayaknya masih oke. Di Korea, mint choco itu topik debat seru — ada kubu mintchopa (pencinta mint choco) dan banchopa (pembenci mint choco). Dua kubu ini saling ejek sampai jadi semacam budaya bercanda sendiri. Aku termasuk tim mintchopa, jadi kalau lihat menu mint choco ya langsung pesan aja. Kalau foto ini aku kirim ke teman yang banchopa, udah pasti langsung dibales "jijik" — dan justru itu yang bikin seru.

Potongan roll cake susu murni Hollys yang sudah digigit, memperlihatkan isian krim yang melimpah

Roll cake tadi, ini setelah satu gigitan. Lihat deh penampangnya. Krimnya lebih banyak dari rotinya. Kalau dipotong pakai garpu, krimnya duluan yang meler keluar. Rasanya oke. Tapi ini Rp69.000 dan cuma dua-tiga suap udah habis lho. Buat teman ngemil subuh-subuh sih lumayan, tapi kalau ditanya bakal pesan lagi? Hmm, nggak yakin. Mending uangnya buat tambah satu minuman lagi kayaknya.

Etalase Kue Hollys Coffee, Daftar Harga Dessert Kafe Korea

Etalase kafe Hollys menampilkan tiramisu sso sweet box dan cookies and cream sso sweet box
Etalase kafe Hollys menampilkan kotak kue party pack

Aku sempat lihat-lihat etalase kue di kafe ini. Tiramisu Sso Sweet Box Rp75.000, Cookies and Cream Sso Sweet Box juga Rp75.000. Party Pack-nya Rp391.000. Itu dessert kotak isi empat potong, dan begitu lihat ini aku langsung teringat A Twosome Place. A Twosome juga jualan kue potong dalam kotak kayak gini, dan Hollys kelihatannya ikut arah yang sama. Sekarang memang kafe franchise Korea lagi gencar-gencarnya ngembangin lini dessert karena cuma andalin kopi udah nggak cukup. Ini bukan cuma Hollys, tapi tren pasar kafe Korea secara keseluruhan. Waktu itu perut udah kenyang jadi nggak pesan, tapi tiramisu-nya bikin penasaran buat lain kali.

Kue Kolaborasi Miffy dan Menu Musiman Kafe Korea

Kue krim mangga Miffy di Hollys Coffee dengan hiasan karakter Miffy di atasnya

Kue krim mangga Miffy, Rp75.000. Hollys lagi kolaborasi sama karakter Miffy, makanya ada hiasan Miffy di atas kuenya. Buat yang belum kenal, Miffy itu karakter kelinci dari Belanda yang cukup populer di Korea. Keliatan ada potongan mangga di sela-sela krimnya, dan visualnya gemas sih.

Kue matcha shu cream Miffy dengan lapisan matcha hijau pekat dan krim tebal terlihat dari potongannya

Kue matcha shu cream Miffy, ini juga Rp75.000. Lapisan matcha-nya hijau pekat banget, penampangnya cantik. Atasnya ditabur bubuk matcha dan lapisan krimnya tebal. Sekarang di kafe-kafe Korea, matcha itu lagi booming banget — bukan cuma Hollys, Starbucks, A Twosome, sampai kafe indie pun hampir semua punya menu matcha.

Milk crepe cake di etalase kafe Hollys Coffee

Milk crepe, Rp75.000. Tumpukan crepe tipis berlapis-lapis, tapi pencahayaan etalase kebetulan reflektif jadi fotonya kurang bagus. Yang bikin aku agak kagum itu, di Korea kue crepe kayak gini bisa gampang banget ditemuin di kafe franchise. Waktu aku tinggal di Bangkok dulu, mau makan crepe cake harus nyari kafe dessert khusus. Di Korea? Tinggal masuk kafe franchise biasa, udah ada di etalase. Teksturnya beda dari kue biasa karena berlapis-lapis tipis, dan seru aja makan sambil kupas per lapis.

Choco tiramisu roll dan triple choco cake di etalase kafe Hollys Coffee

Choco tiramisu roll Rp75.000, Triple Choco Cake Rp71.000. Maaf fotonya agak goyang karena lampu etalase flickering. Choco tiramisu roll itu kayak versi coklat dari roll cake susu yang tadi aku makan, sedangkan triple choco cake itu dari lapisan sponge sampai krimnya semuanya coklat. Cocok banget buat yang suka coklat pekat. Secara keseluruhan, harga kue potong di Hollys ada di kisaran Rp69.000 sampai Rp75.000, dan untuk standar dessert kafe Korea ini termasuk rata-rata. Kalau dibandingin Starbucks Korea yang kue potongnya di kisaran Rp69.000 ke atas sampai Rp80.000-an, Hollys sedikit lebih murah. Tapi jujur, di harga segitu kamu bisa dapat kue yang lebih digarap serius di kafe indie lokal. Itu memang keterbatasan dessert franchise sih.

Interior Kafe Hollys Coffee, Lihat-Lihat Desain Dalam Kafe Korea

Mulai dari sini aku ajak kamu keliling isi kafe-nya. Interior Hollys memang beda-beda tiap cabang, dan yang ini termasuk yang bagus. Jangan ekspektasi semua Hollys kayak gini ya.

Interior lantai 1 kafe Hollys Coffee dengan counter, kiosk, dan rak merchandise terlihat
Interior lantai 1 kafe Hollys Coffee dari sudut lain

Begitu masuk lantai 1, langsung keliatan semuanya. Kiri ada counter, tengah kiosk, kanan ada rak merchandise Hollys. Jam 4 subuh, nggak ada pengunjung sama sekali. Serasa nyewa satu kafe buat sendiri. Kafe franchise Korea umumnya memang berstruktur kayak gini — lantai 1 buat pesan dan ambil minuman, terus kursi duduknya ada di lantai 2. Kafe ini juga gitu, naik tangga merah nanti sampai lantai 2.

Camilan Unik yang Dijual di Counter Kafe Korea

Counter kafe Hollys Coffee dari dekat dengan mesin kopi dan layar iklan Vanilla Delight

Aku foto counter-nya dari dekat. Di layar belakang ada iklan Vanilla Delight yang gede, mesin kopi dan peralatan lainnya berjajar rapi. Di satu sisi counter ada jajanan kemasan juga — ada keripik kentang beras ketan dan rumput laut kering. Mungkin kamu mikir, "Kafe kok jualan begituan?" Tapi di Korea, naro camilan ringan di dekat counter kafe itu hal biasa. Keripik kentang beras ketan (bugak) itu camilan tradisional Korea — kentang diiris tipis, dilapisi beras ketan lalu digoreng. Hasilnya renyah dan agak asin, dan ternyata cocok banget dimakan bareng kopi. Temanku dari luar negeri yang pertama kali coba langsung kaget, "Ini beda dari keripik kentang biasa?"

Keunikan Budaya Kafe Korea, Jenis-Jenis Tempat Duduk

Area tempat duduk satu orang di lantai 2 Hollys Coffee dengan sekat dan stop kontak

Naik ke lantai 2, ada area tempat duduk khusus satu orang. Ada sekat pemisah antar-meja dan di dinding ada lampu plus stop kontak. Pas banget buat kerja pakai laptop. Salah satu hal unik dari budaya kafe Korea itu, datang sendirian ke kafe sama sekali bukan hal aneh. Orang buka laptop buat kerja, mahasiswa belajar, ada yang baca buku — duduk sendiri berjam-jam itu pemandangan yang sangat biasa. Makanya banyak kafe Korea yang sengaja bikin tempat duduk khusus satu orang kayak gini. Aku juga sering kerja di kafe, dan kalau tempat duduknya ada stop kontak, udah itu aja sih jadi kantor dadakan. Kadang justru lebih fokus di kafe daripada di rumah. Turis dari luar negeri yang lihat budaya tempat duduk solo di kafe Korea ini biasanya cukup takjub.

Merasakan Budaya Duduk di Lantai ala Korea di Kafe

Area duduk lesehan di lantai 2 Hollys Coffee dengan sekat berbentuk lengkungan dan tempat lepas sepatu

Di lantai 2 juga ada area lesehan. Harus lepas sepatu dulu baru naik. Tiap ruang dipisah sekat berbentuk lengkungan, jadi terasa semi-privat. Cukup buat dua orang duduk berhadapan, dan karena duduk di lantai bisa selonjoran, nggak gampang pegal walau lama-lama. Korea punya budaya duduk di lantai (jwasik), dan di kafe Korea kadang bisa nemuin tempat duduk model begini. Awalnya mungkin terasa aneh, tapi begitu dicoba ternyata enak juga. Apalagi kalau mau nongkrong lama, kadang lebih nyaman daripada kursi. Jam subuh gitu masih ada satu orang yang duduk sendiri di situ sambil makan sesuatu. Jam segini masih ada yang nongkrong — entah kenapa itu bikin aku merasa tenang.

Area meja besar untuk beberapa orang di tengah lantai 2 kafe Hollys Coffee

Di tengah lantai 2, area meja untuk banyak orang. Meja-meja yang muat empat orang ditata berdekatan, dan karena tempatnya terbuka, jujur privasi-nya kurang. Kalau meja sebelah dekat, obrolannya kedengaran. Nggak cocok buat ngobrol yang serius atau rahasia. Tapi langit-langitnya tinggi, jendelanya lebar jadi nggak sesak, dan pencahayaannya lembut — suasananya tetap enak. Kafe Korea hampir semuanya sediain Wi-Fi gratis ngomong-omong. Password-nya tinggal tanya ke kasir.

Deretan sofa panjang di dinding dengan meja bundar dan kursi kayu lengkung untuk dua orang di lantai 2 Hollys

Sepanjang dinding ada sofa panjang, di depannya meja bundar ditata berjarak sama rata — ini area dua orang. Ada kursi kayu lengkung yang beda dari area lain, jadi suasananya agak berubah. Warna terang dominan, kalau siang pasti beda lagi feel-nya. Kafe Korea memang sering kayak gini, dalam satu kafe aja tiap sudut punya gaya tempat duduk yang beda. Jadi meskipun datang ke Hollys yang sama, duduk di tempat berbeda bisa kasih pengalaman yang beda juga.

Ruang meeting di lantai 2 Hollys Coffee dengan sekat kayu kisi-kisi dan sofa berbentuk L

Ada juga ruangan bertulisan meeting room. Bukan ruangan tertutup dengan pintu sih, jadi privasi-nya nggak total — tapi dikelilingi sekat kayu kisi-kisi yang bikin terasa terpisah dari luar. Di dalamnya ada sofa bentuk L dan satu meja di tengah. Pas buat 4-5 orang kumpul. Di Korea banyak yang pakai kafe buat kelompok belajar atau meeting ringan, dan ruangan kayak gini berguna banget. Nggak semua Hollys punya ini ya — cuma cabang yang ukurannya besar yang kadang menyediakan.

Subuh-Subuh Masih Ada yang Kerja, Keseharian Kafe Korea

Panorama lantai 2 Hollys Coffee dengan langit-langit gelap, lampu track, dan tanaman hijau

Lantai 2 secara keseluruhan. Langit-langitnya bernuansa gelap, lampu track di sana-sini, suasana tenang. Di dinding ada tulisan kaligrafi, pot tanaman hijau tersebar di beberapa titik. Untuk kafe franchise, ini termasuk yang serius nggarap interior. Jam 4 subuh dan ada satu orang buka laptop lagi kerja. Seperti yang udah aku bilang, di Korea pemandangan kayak gini tuh sangat lumrah. Kafe Korea bukan cuma tempat minum kopi, tapi sudah jadi ruang kerja dan belajar. Tempat duduknya juga variatif — meja besar, sofa, kursi satu orang — jadi mau sendirian atau rame-rame, cari tempat nggak susah.

Sudut pojok lantai 2 Hollys Coffee dengan tempat duduk bertingkat, lampu mood, dan tanaman hijau
Tulisan extra efforts for extraordinary coffee di dinding sudut lantai 2 Hollys Coffee

Pojok dalam lantai 2. Secara pribadi, ini spot paling enak suasananya di Hollys ini. Tempat duduknya bertingkat kayak amphitheatre kecil, di setiap sudut ada tanaman hijau, dan lampu mood bundar menyala redup — cocok banget sama suasana subuh. Stop kontak juga ada di setiap kursi. Jujur aja, selama ini aku pikir Hollys kalah interior dibanding Starbucks atau A Twosome. Tapi cabang ini beda. Cuma memang, ini sangat tergantung cabangnya. Kafe franchise Korea tuh gitu — brand sama, tapi cabang yang satu bisa bagus banget dan yang lain biasa aja. Aku pernah ke Hollys lain terus langsung mikir "di sini bukan deh." Jadi jangan pasang ekspektasi tinggi soal interior, anggap aja kalau dapat yang bagus itu bonus.

Merchandise Hollys Coffee, Harga Tumbler Kafe Korea

Rak merchandise Moments of Delight di lantai 1 Hollys Coffee berisi tumbler dan mug

Di lantai 1 ada rak merchandise. Tumbler, mug, gantungan kunci, dan lainnya. Sama kayak Starbucks yang terkenal dengan merchandise-nya, Hollys juga bikin dan jual produk branded sendiri. Kafe franchise Korea memang banyak yang pakai merchandise sebagai sumber penghasilan tambahan selain minuman.

Tumbler keramik murni Hollys 650ml dengan harga Rp368.000
Tumbler all-day Hollys bertipe mug dengan pegangan seharga Rp288.000
Tumbler slim Hollys Coffee seharga Rp150.000
Tumbler city modern Hollys 350ml seharga Rp253.000

Aku foto merchandise-nya dari dekat. Tumbler keramik 650ml Rp368.000, mug dengan pegangan Rp288.000, tumbler slim Rp150.000, City Modern Tumbler 350ml Rp253.000. Harganya mulai dari Rp150.000 sampai Rp368.000, cukup beragam jadi bisa pilih sesuai budget. Desainnya simpel dan logo-nya kecil, jadi meskipun nggak kenal Hollys, tetap bisa dipakai sebagai tumbler biasa tanpa terasa aneh. Nggak kayak tumbler Starbucks yang bikin orang ngoleksi sih, tapi justru karena itu malah lebih praktis dari segi pemakaian sehari-hari. Katanya ada juga turis yang beli tumbler kafe Korea sebagai oleh-oleh — kalau gitu, yang tipe slim enak karena ringan dan nggak makan tempat di koper.

Aku sendiri pernah beli tumbler Hollys waktu tinggal di Bangkok dulu, di cabang yang ada deket Korean Cultural Center. Tapi cabang itu tutup sekitar tahun 2015 waktu Hollys narik operasi dari luar negeri. Sekarang tumbler itu jadi semacam memorabilia yang agak unik. Di luar Korea cabangnya udah hampir nggak ada, tapi di dalam Korea ternyata masih jalan terus kayak gini.

Hollys Coffee, Kesimpulan Jujur

Awalnya cuma keluar karena nggak bisa tidur, tanpa ekspektasi apa-apa — tapi ternyata jadi waktu yang cukup menyenangkan. Kafe 24 jam yang lampunya menyala di tengah hujan subuh — itu aja udah cukup bikin mood naik. Hollys memang bukan brand yang mewakili Korea kayak Starbucks, tapi sebagai kafe espresso pertama di Korea yang berdiri tahun 1998 dan bertahan sampai sekarang, ada nilai tersendiri. Harga menunya setara rata-rata kafe franchise Korea, dan suasana interiornya sudah jauh lebih baik dari dulu. Cuma, kualitas antar-cabang masih sangat nggak konsisten dan itu memang kekurangannya. Kue-kuenya juga jujur kurang worth it dari segi porsi dibanding harganya. Tapi kalau beruntung nemu kafe 24 jam di Korea, di saat subuh nggak tahu harus ke mana selama traveling, tempat kayak gini bisa jadi sangat berguna. Aku sama istri cuma duduk diam, minum kopi, bengong — dan kadang waktu kayak gitu yang justru dibutuhin kan.

Postingan ini pertama kali dipublikasikan di https://hi-jsb.blog.

Tanggal Terbit 26 April 2026 pukul 03.27
Tanggal Diperbarui 26 April 2026 pukul 03.40