KategoriKafe
BahasaBahasa Indonesia
Tanggal Terbit5 Mei 2026 pukul 22.36

Surga Roti Korea di Daejeon: Tur Lengkap Harehare Bakery

#bakery Korea#roti artisan#kue ulang tahun unik
Sekitar 12 menit membaca
🚨

Kenapa Daejeon Dijuluki Kota Roti?

Kalau ngomongin Daejeon, sekarang rasanya nggak bisa lepas dari topik roti. Siapa pun yang bilang mau ke Daejeon, pasti ada aja yang nyeletuk, "Di sana kan bakery-nya banyak banget." Dan memang nggak salah juga sih, bakery bagus di sana ternyata lumayan banyak. Bakery Korea itu sering banget nyampurin gaya roti Eropa dengan bahan-bahan lokal Korea, atau bikin kombinasi yang sama sekali nggak terduga — dan Daejeon adalah kota yang budaya bakery-nya berkembang pesat. Citranya sudah terlanjur melekat. Makanya tiap kali ada urusan ke Daejeon, rasanya sayang kalau nggak mampir ke bakery satu pun. Kebetulan musim panas kemarin aku ada keperluan ke sana, dan tempat yang aku datangi adalah Harehare cabang Gasuwon, sebuah bakery besar di kawasan perumahan kota Daejeon.

Harehare Cabang Gasuwon

Tampak luar Harehare Bakery cabang Gasuwon Daejeon

Gedungnya cukup besar. Posisinya pas di pojok gang, jadi dari jauh logo bentuk matahari itu sudah langsung kelihatan duluan. Eksteriornya campuran batu bata dan beton, kesannya lebih solid dari yang aku bayangkan. Lebih mirip concept store daripada bakery biasa. Aku parkir di parkiran umum dekat situ dan jalan kaki ke sana.

Rak pajangan roti di dalam Harehare Bakery

Dari balik pintu kaca, kesan pertama yang muncul justru: lebih kecil dari yang dikira. Kalau cuma lihat reputasinya atau eksterior gedungnya, kayaknya bakal luas banget. Tapi begitu masuk, ternyata nggak seluas itu. Beberapa rak pajangan berisi roti-roti yang tertata rapi, dan kalau ada sepuluh orang saja ruangannya sudah terasa penuh. Tapi sistem ambil rotinya lumayan teratur — tray bertumpuk, dan pengunjung pakai sarung tangan plastik untuk mengambil sendiri, bukan pakai penjepit.

Rak Pajangan Pertama

Melon Cream Bun dan Jukpa Pretzel

Roti krim melon di rak pajangan bakery
Strawberry breadoro roti stroberi
Jukpa pretzel roti daun bawang

Baru masuk langsung berhenti di depan rak. Soalnya aku masuk tanpa rencana mau beli apa. Melon cream bun menguasai lebih dari separuh rak, dan di sebelahnya ada yang namanya strawberry breadoro — bentuknya roti dengan stroberi dan krim di atasnya. Dari label harga, tertulis 5.000 won (sekitar Rp57.000), dan melon cream bun 3.200 won (sekitar Rp36.500). Awalnya agak bingung karena nggak ada satuan, ternyata memang dalam ribuan won.

Pindah ke rak sebelah, ada croissant buah musiman. Stroberi ditaruh di atas croissant lalu ditaburi gula halus — bentuknya agak berlebihan sih. Ada juga mochi stroberi. Dari yang aku lihat, sepertinya menu-menu di sini memang disesuaikan dengan musim stroberi.

Tapi yang bikin aku kaget itu Jukpa Pretzel. Bayangkan di bakery ada donat dengan topping daun bawang dan drizzle mayo. Di antara deretan roti-roti manis, dia sendirian yang asin. Posisinya di sebelah sandwich yang dibungkus kertas koran, dan entah kenapa justru cocok di situ.

Rak pajangan roti manis beragam jenis
Lemari kaca corner roti sehat Harehare

Rak pajangannya terbagi jadi dua area. Satu sisi isinya roti-roti manis — ada roti panjang mirip éclair, soboro (roti crumble manis khas Korea), dan roti sosis yang bertumpuk-tumpuk. Di rak paling atas ada roti-roti besar yang dipanggang agak rustic, letaknya tinggi banget sampai aku ragu apa tangan bisa sampai ke sana.

Area Yakisoba Bun

Rak pajangan terbuka berisi aneka roti

Begitu pindah ke rak terbuka, suasananya beda lagi. Croissant, roti mirip apple pie, roti pizza, roti tawar dalam kemasan, sandwich — semuanya campur di satu meja. Nggak ada kategori, pokoknya cuma "tempat ada roti". Gitu aja. Di antaranya ada roti kemasan berlabel beras, kayaknya roti berbahan dasar tepung beras. Awalnya cuma mau beli satu, tapi sampai sini malah makin susah milihnya.

Roti manis asin daun bawang keju
Cream cheese ban-hotteok roti manis Korea
Yakisoba bun roti mie goreng Jepang
Cream soba bun produk baru bakery

Dari area ini, batasnya mulai kabur antara bakery dan warung jajanan. Di Korea ada istilah "danjjan-danjjan" — manis-asin-manis-asin yang silih berganti — dan roti danjjan-danjjan-pa ini memang sesuai namanya: keju yang meleleh gosong di atasnya mengeluarkan aroma yang bikin ngiler. Cream cheese ban-hotteok seharga 4.200 won (sekitar Rp48.000) punya nama yang membingungkan dan bentuknya juga bikin bingung. Entah itu hotteok (pancake manis isi gula Korea) atau scone, bulat pipih, dan ada sekitar dua puluh buah bertumpuk rapi.

Tapi yang bikin aku berhenti lama itu yakisoba bun. Mie goreng, alias yakisoba, dijepit di dalam roti — kombinasi yang umum banget di Jepang. Harganya 3.800 won (sekitar Rp43.000), dan di sebelahnya ada cream soba bun dengan stiker "produk baru". Katanya soba yang diaduk saus krim dimasukkan ke dalam roti. Aku mandangin itu cukup lama.

Castella dan Roti Bam-moss

Castella logo Harehare dengan cap logo matahari
Set castella keju Harehare dalam kotak

Tepat di sebelah kasir ada ini. Castella dengan logo Harehare yang dicap satu per satu — versi butter dan cokelat berjejer rapi. Satuan 5.600 sampai 6.100 won (sekitar Rp64.000–Rp69.500), kalau beli set 12.200 atau 12.700 won (sekitar Rp139.000–Rp145.000). Banyak yang ambil di sini buat oleh-oleh. Cap logo itu memang punya efek magis — roti biasa jadi terlihat seperti sesuatu yang dikemas khusus.

Roti mammoth kastanye nostalgia Harehare

Nah ini yang sering dibicarakan kalau soal Harehare: roti mammoth kastanye nostalgia. Harganya 5.600 won (sekitar Rp64.000). Kalau dilihat dari samping, ada layer krim dan entah selai kacang merah atau selai stroberi yang berlapis-lapis di antara roti. Tahu roti mammoth yang dulu dijual di toko roti kampung? Roti tawar tebal dan berat yang diisi whipped cream banyak-banyak. Nah ini versi upgrade-nya. Ada stiker "simpan di kulkas", jadi bisa dibawa pulang.

Corner Roti Sehat

Roti Kastanye, Campagne, dan Bagel

Roti tawar kastanye Gongju almond
Penampang corn cheese campagne roti artisan
Onion bagel wijen hitam best seller

Lemari kaca di sisi seberang punya suasana yang beda. Di sana ada corner roti sehat tersendiri. Papan pengumuman bertuliskan tanpa mentega, tanpa telur, tanpa gula — dan di bawahnya berjejer roti-roti berat seperti rye bread dan baguette. Ada yang isinya cranberry, ada yang dipanggang mirip kerak nasi. Yang ditempeli stiker "produk populer" sepertinya cranberry cheese campagne, tapi waktu aku datang tinggal beberapa buah.

Roti tawar kastanye Gongju berbaris rapi dalam cetakan kertas — potongan kastanye menyembul dari adonan dan aroma kayu manis menguar dari situ. Harganya 6.000 won (sekitar Rp68.500). Di sebelahnya ada corn cheese campagne, roti bergaya rustic dengan kulit tebal, tapi di sini diisi jagung dan keju. Kalau lihat potongannya, isi kuningnya cukup padat. Ini juga 6.000 won.

Onion bagel ditempeli stiker best seller plus catatan "simpan di freezer, nikmati dingin untuk rasa terbaik". Harganya 4.600 won (sekitar Rp52.500), wijen hitam tercampur di adonannya dan kelihatan dari luar, bentuknya padat dan berat. Untuk ukuran bagel dari bakery, ini nggak kecil sama sekali.

Area yang Bikin Mata Nggak Bisa Pindah

Gateau marshmallow berlapis kelapa parut
Roti basil tomat panjang dengan wijen
Tiga jenis financier cokelat karamel dan ara
Roti pizza olive baru matang

Tadinya mau berhenti, tapi nggak bisa.

Gateau marshmallow langsung menarik perhatian. Bentuknya bulat pipih berlapis kelapa parut, dan menurut keterangan di papan, isinya kue cokelat beras dan marshmallow. 3.800 won (sekitar Rp43.000). Ada stiker best seller, berarti memang laris.

Di tray sebelah ada roti panjang yang kelihatan baru keluar dari oven, penuh wijen menempel rapat, dan bertuliskan basil tomat. 5.900 won (sekitar Rp67.000). Keterangannya bilang pakai adonan organik utuh dengan basil dan tomat, diakhiri cream cheese. Aroma panggangnya menyebar dari situ. Yang ini beneran bikin aku galau.

Financier juga susah dilewatkan begitu aja — di satu piring ada tiga jenis: cokelat, salted caramel, dan buah ara. Masing-masing 2.900 won (sekitar Rp33.000). Financier itu kue kecil pipih persegi panjang khas Prancis yang dipanggang pakai banyak mentega. Di sebelahnya, roti pizza dengan olive juga baru matang.

Scone walnut dalam cup logo Harehare
Rusk renyah ageujakk dalam cup transparan
Irisan roti gaya panettone dengan kismis

Dekat kasir ada sesuatu dalam cup biru yang menarik perhatian. Walnut scone yang dipanggang langsung di dalam cup berlogo Harehare. Di cup-nya juga tercetak tulisan bahwa produk ini terpilih sebagai produk unggulan bakery Daejeon tahun 2020. Bentuknya mirip cup es krim jadi sempat bikin bingung sekilas.

Ageujakk rusk ada dalam cup transparan berkubah, warnanya semua gelap. 4.800 won (sekitar Rp54.800). Ini potongan roti yang dipanggang dua kali sampai renyah — dijual dalam cup begini cukup jarang, makanya langsung kena mata. Di sebelahnya ada irisan roti tebal dalam kantong transparan berstiker Harehare. Dari penampangnya terlihat ada kismis atau buah kering tertanam di dalamnya, mirip panettone — roti Italia yang biasa disajikan saat perayaan. Letaknya dekat jendela jadi kena cahaya, dan justru itu yang bikin potongannya terlihat makin menggugah selera.

Roti panjang penuh whipped cream berlapis
Roti isi pasta kacang hijau dengan almond
Roti sosis besar taburan quinoa

Roti panjang yang dibelah tengah lalu diisi penuh whipped cream berjajar di tray. Krimnya hampir tumpah, dan dari samping kelihatan lapisannya berlipat-lipat seperti croissant. Aku nggak sempat lihat namanya, tapi dari tampilan aja sudah banyak orang yang langsung ambil.

Roti isi pasta kacang hijau harganya 3.500 won (sekitar Rp40.000). Adonannya diiris-iris seperti disayat lalu dipanggang, dan di antara celah-celahnya terisi pasta kacang hijau berwarna hijau cerah. Di atasnya ada irisan almond, jadi warnanya cukup mencolok. Tahu roti isi pasta kacang merah? Nah ini versi kacang hijaunya. Roti sosisnya berukuran besar — ujung sosis menyembul keluar dari roti, dan di atasnya ada butiran yang mirip quinoa atau biji-bijian kasar yang dipanggang rapat.

Area Roti Tawar

Roti tawar gandum utuh whole wheat 70 persen
Roti tawar kotak putih klasik
Roti tawar beras gluten free enam potong
Roti tawar susu lembut ukuran besar

Ada area khusus yang isinya cuma roti tawar. Roti tawar gandum utuh seharga 4.500 won (sekitar Rp51.300), dengan keterangan 70% tepung gandum utuh di label harganya — warnanya jelas beda, cokelat jauh lebih gelap dari roti tawar biasa dan kelihatan berat. Roti tawar beras 5.000 won (sekitar Rp57.000), dibuat dari tepung beras alih-alih tepung terigu, dipanggang dalam bentuk enam kotak yang bisa disobek satu-satu. Roti tawar susu 4.800 won (sekitar Rp54.800), sisinya mengembang bergelombang dan ukurannya paling besar di antara yang lain — ini yang paling mendekati roti tawar standar di sana.

Mau cuma beli roti tawar satu pun, area ini bisa bikin kamu lama milihnya.

Etalase Kue

Kue tart stroberi ladang stroberi berlapis
Kue tart vegan krim non-dairy
Kue stroberi gluten free berbahan beras

Mungkin karena musim stroberi, semua kue didominasi stroberi. Strawberry Field seharga 39.000 won (sekitar Rp445.000), versi cokelat stroberi 40.000 won (sekitar Rp456.000), dan yang berbahan beras 30.000 won (sekitar Rp342.000) dengan label gluten-free. Dari samping, potongan stroberi terlihat berlapis-lapis di dalam kue, jadi dari balik kaca semuanya kelihatan jelas.

Di sebelahnya ada dua jenis kue vegan — vegan whipped cream cake 35.000 won (sekitar Rp399.000) dan vegan choco whipped cream cake 36.000 won (sekitar Rp411.000). Ada keterangan tanpa telur dan tanpa susu, tapi tampilan luarnya hampir nggak beda dari kue biasa. Di daftar bahan tertulis pakai krim berbasis oat. Tadinya nggak ada niat beli kue, tapi area ini memang bikin kamu berdiri lama di depan kacanya.

Kue karakter mungnyo lucu dengan berry
Kue karakter kelinci telinga panjang
Kue naga biru cheongryong dekorasi unik
Kue kirish krim mangga kuning
Kue chocolat heart dalam wadah kaca

Jenis kuenya ternyata lebih banyak dari yang aku kira. Ada beberapa kue berbentuk hewan — Mungnyo-ju seharga 35.000 won (sekitar Rp399.000) dengan krim putih bulat-bulat dihias stroberi dan blueberry. Di sebelahnya ada kelinci 36.000 won (sekitar Rp411.000), kue karakter lengkap dengan telinga, dan mango cream cake 34.000 won (sekitar Rp388.000) yang warna kuningnya langsung mencolok.

Kue naga biru seharga 36.000 won (sekitar Rp411.000) — ada hiasan naga biru di atas kuenya. Entah ini dibuat karena tahun naga atau memang desain tetap, tapi pandanganku paling lama berhenti di sini. Chocolat heart 29.000 won (sekitar Rp331.000), yang paling murah di antara kue-kue lainnya, disajikan dalam wadah mirip mangkuk kaca.

Corner Sandwich

Pemandangan corner sandwich bakery lengkap
Sandwich ciabatta ayam BBQ dalam kertas koran
Sandwich ciabatta udang basil pesto berlapis
Sandwich ciabatta dada ayam protein
Sandwich mozzarella ciabatta bungkus koran
Sandwich mozzarella dalam kotak transparan
Salad tomat almond segar dalam wadah
Sandwich bierham ham tebal potongan pink

Setelah melewati area kue, muncul corner sandwich yang ternyata juga cukup luas. Sandwich ciabatta dibungkus kertas bergaya koran dengan pita warna, memenuhi tray. Di sebelah kanan ada sandwich bergaya burger dalam wadah transparan yang berjajar terpisah. Buat bakery, variasi sandwich-nya bikin kaget.

Sandwich ciabatta-nya terbagi jadi chicken BBQ ciabatta, shrimp basil pesto ciabatta, chicken breast ciabatta, dan mozzarella ciabatta. Yang kemasannya setengah dibuka memperlihatkan isian yang berbeda-beda — chicken BBQ warnanya gelap seperti ayam panggang, sementara shrimp basil pesto kelihatan lapisan udang dan kejunya.

Mozzarella ciabatta hadir dalam dua bentuk: yang dibungkus kertas koran dan yang ditaruh di roti bulat dalam kotak transparan. Yang dalam kotak isinya penuh sampai selada menyembul keluar, tutupnya kelihatan nyaris nggak bisa ditutup.

Sandwich bierham ada dalam kotak transparan dengan potongan yang memperlihatkan isinya — bierham (ham babi press), telur, selada, dan saus. Warna pink-nya kelihatan jelas dari irisan itu. Tadinya datang dengan mindset bakery, tapi di area ini rasanya bisa sekalian makan siang.

Kue Kering dan Kemasan Hadiah

Kantong kue kering logo Harehare transparan
Tray kue kering choco roubaix royal chocolat kelapa
Kue kering dengan cap logo Harehare di permukaan
Set kotak kue kering biru Harehare untuk oleh-oleh

Yang langsung menarik perhatian itu tulisan di kemasannya: "Rumah sang juara World Baking Cup Paris, Prancis". Kue kering pipih berlapis cokelat dan cookies bundar dengan irisan almond dikemas dalam kantong transparan berlogo Harehare — kemasannya sudah siap langsung dijadikan hadiah.

Di sebelahnya ada choco roubaix, royal chocolat, dan coconut cookie yang dikemas individual, bertumpuk rapat di atas tray hitam. Beberapa berlabel 50% tepung beras. Ada juga yang permukaannya langsung dicap logo Harehare — capnya jelas banget, jadi tanpa buka kemasan pun langsung tahu dari mana asalnya.

Di satu sisi ada kotak set kue kering yang dipajang terpisah. Tersedia dua ukuran, isi lima dan isi delapan, dalam kotak biru berisi berbagai jenis kue kering yang dikemas individual. Sepertinya orang-orang yang cari oleh-oleh khas Daejeon atau bingkisan kebanyakan ambilnya di sini.

Yang Akhirnya Kupilih

Jukpa pretzel roti asin daun bawang mayo
Levitating mocha bun dalam kantong kertas
Shopping bag biru Harehare Bakery Daejeon

Akhirnya aku pilih jukpa pretzel dan mocha bun, dua buah. Justru yang sendirian asin di tengah lautan roti manis itulah yang paling menarik perhatian. Mocha bun keluar dalam kantong kertas, dan di kantongnya tertulis "Levitating Mocha Bun" — alias mocha bun melayang. Nama yang cukup percaya diri untuk sebuah kantong roti.

Begitu keluar, matahari ternyata lebih terik dari yang kukira. Namanya juga musim panas — beda suhu antara dalam toko dan luar cukup kerasa. Jalan ke parkiran sambil bawa shopping bag biru Harehare, keringat mulai keluar.

Satu hal yang agak disayangkan, nggak ada tempat duduk yang enak buat makan di dalam. Di dekat pintu masuk memang ada beberapa kursi, tapi posisinya di jalur lalu-lalang orang, jadi duduk makan di situ rasanya nanggung. Akhirnya aku bawa kantong keluar dan mondar-mandir sebentar sebelum balik ke mobil.

Di dalam mobil, aku buka kantong jukpa pretzel. Aroma daun bawang yang gurih langsung naik, dan istriku yang duduk di kursi penumpang langsung bilang "Ini apaan?" sambil nyomot satu gigitan. Tiap kali ke bakery Korea dia selalu heran sama kombinasi-kombinasi anehnya, tapi kali ini tanpa bilang apa-apa langsung ambil gigitan kedua. Entah itu pujian atau bukan, tapi ya segitu cukuplah.

Mocha bun-nya baru kumakan di rumah, dan ternyata namanya "melayang" itu ada alasannya — teksturnya ringan banget. Luarnya agak crispy tipis tapi dalamnya lembut. Rasa mocha-nya subtle, jadi kalau mengharapkan kopi yang kuat, mungkin agak beda dari ekspektasi.

Keliling satu putaran ternyata makan waktu lebih lama dari yang kukira. Memang begitu sih kalau sudah lihat-lihat roti, di mana pun tempatnya.

Tanggal Terbit 5 Mei 2026 pukul 22.36
Tanggal Diperbarui 5 Mei 2026 pukul 22.50