
Kafe Kabin Kayu Tersembunyi di Tengah Hutan Metasequoia
Daftar Isi
14 item
Kafe kabin kayu tersembunyi di dalam hutan, tepat di depan taman wisata alam
Awalnya kami mau lihat daun musim gugur di Taman Wisata Alam Jangtaesan, sebuah hutan rekreasi di Daejeon — kota besar sekitar 2 jam ke selatan dari Seoul. Kafe ini sama sekali nggak ada di rencana.
Awal November 2025, aku dan istri berangkat pagi-pagi naik mobil ke Jangtaesan. Sudah tahu sih kalau Jangtaesan musim gugur itu rame banget, dan bener aja, sampai sekitar jam 9 pagi parkiran sudah penuh sesak. Untungnya, tepat di depan pintu masuk taman ada parkiran khusus kafe, jadi kami parkir di situ. Pikiran awalnya cuma, "Sudah dikasih parkir, ya minimal beli kopi satu gelas lah." Tapi begitu turun dari mobil dan mendongak ke atas melihat bangunannya, langsung kerasa — ini bukan tempat buat sekadar beli kopi terus cabut.
Bangunan dari kayu gelondongan, atap segitiga runcing, pintu masuk berbentuk lengkungan. Di belakangnya, gunung yang lebat dan hutan metasequoia dengan campuran daun merah musim gugur membungkus seluruh bangunan. Sedetik aku bingung, ini Korea atau lodge pegunungan di Eropa sana. Padahal cuma 30 menit naik mobil dari pusat kota Daejeon, tapi begitu sampai, udaranya langsung beda.
Istriku berasal dari negara yang musim panasnya sepanjang tahun. Sudah 3 tahun di Korea, tapi dia tumbuh besar di negara yang nggak mengenal musim gugur. Makanya setiap musim gugur Korea datang, dia lebih lama menatap ke luar jendela. Yang pertama kali bilang "ayo ke Jangtaesan" juga istri. Katanya, sekalian pergi, mending pas lagi cantik-cantiknya.
Semua foto di tulisan ini aku ambil sendiri hari itu.
Eksterior Coffee Interview Jangtaesan — kabin yang disempurnakan oleh hutan

Ini tampilan luar kafenya. Jujur, kalau bangunan ini berdiri sendiri tanpa konteks, mungkin agak nanggung buat dibilang lodge Eropa. Yang bikin kafe ini benar-benar terasa seperti kabin pegunungan itu karena Jangtaesan. Gunung dan pepohonan yang rapat di belakang membungkus bangunannya, jadi alam dan bangunan menyatu dan suasananya jadi lengkap. Batu-batu di halaman depan, pohon-pohon kecil, dek kayu yang sedikit terlihat di samping — semuanya terasa tenggelam di dalam hutan, dan kafe ini jadi bagian dari pemandangan itu sendiri. Kalau bangunan ini ada di tengah kota, ya cuma jadi kafe cantik biasa. Tapi dengan latar belakang Jangtaesan, dia jadi ruang yang sama sekali berbeda.
Karena awal November, daun-daunnya belum rontok semua. Ada campuran hijau, kuning, dan merah, dan saat warna-warna itu bertemu dengan bangunan kayu gelondongan, makin terlihat seperti lukisan. Langsung paham kenapa parkiran penuh sesak.

Kalau mendekat, pintu masuk berbentuk lengkungannya lebih gagah dari yang dibayangkan. Di atas tiang kayu gelondongan terpasang papan nama 'COFFEE INTERVIEW', dan bagian dalam lengkungannya dilapisi kayu gelap. Di sebelah kanan terlihat parkiran dan gunung sekaligus, dan karena hari itu langitnya cerah, angle ini hasilnya bagus banget.

Dari samping, ternyata bangunannya lebih besar dari yang dikira. Dinding kayu gelondongan dengan jendela kisi berjajar panjang, dan di depan ada dek luas tempat kamu juga bisa minum kopi. Lihat orang yang keluar dari pintu di dekat entrance? Buka satu pintu itu, langsung gunung. Nggak ada batas antara kafe dan hutan — itu ciri khas terbesar kafe ini.

Aku coba foto lengkungannya dari bawah ke atas. Garis lengkung, tiang kayu gelondongan, papan nama emas di atasnya. Dengan latar belakang langit biru, lumayan keren. Detail-detail kecil kayak gini yang bikin perbedaan antara "kafe yang cantik biasa" dan "kafe yang punya vibe."
Tips kunjungan — Parkir
Kafe ini punya parkiran sendiri. Tapi musim gugur di Jangtaesan beneran rame banget. Kami sampai jam 9 pagi awal November dan parkiran taman wisata sudah penuh. Kalau parkiran kafe penuh, bisa pakai parkiran taman wisata juga, tapi sebaiknya datang pagi-pagi.
Interior — plafon tinggi dan kayu yang menciptakan ruang hangat

Dari luar dapat kesan lodge Eropa, masuk ke dalam ternyata beda lagi. Plafonnya mengikuti bentuk atap segitiga, tinggi banget, jadi nggak ada rasa sesak sama sekali, dan di dinding-dinding ada pintu berbentuk lengkungan. Secara keseluruhan bernuansa kayu cokelat, tapi beda dengan kesan eksotis di luar, di dalam yang terasa duluan itu kehangatan dan kenyamanan. Bisa dibilang nuansa Eropa di luar, ditambah kehangatan Asia di dalam. Tempat duduknya juga beragam. Ada meja biasa, meja bar, sampai area lesehan — tinggal pilih sesuai selera.
Karena masih pagi, pengunjung cuma dua-tiga kelompok. Suara kopi yang diseduh memenuhi ruangan, dan terasa aromanya meresap di antara kayu-kayu itu. Istri begitu masuk langsung berhenti mendongak ke plafon — kaget pertama karena tingginya, kaget kedua karena lampu-lampu yang menggantung. Berkat sepinya, kami bisa pilih tempat duduk pelan-pelan dan foto-foto dengan santai.
"Sudah dikasih parkir, kopi satu gelas lah" — itu niat awalnya, tapi begitu duduk, langsung sadar nggak bakal bisa cepat-cepat keluar dari sini.
Area lesehan — kenyamanan lepas sepatu dan bersantai

Ini area lesehan, dan bagiku ini yang paling bikin nyaman. Strukturnya lantai kayu dengan bantal bulat dan meja rendah. Lepas sepatu, naik, dan rasanya seperti lagi main ke rumah teman — santai banget. Di sampingnya ada bukaan berbentuk lengkungan yang menghubungkan ke ruang lain secara natural, jadi meskipun lesehan, sama sekali nggak terasa terkurung. Kalau datang sama keluarga atau rombongan, area ini yang aku rekomendasikan.

Meja reguler juga nggak bisa dilewatkan begitu saja. Meja oval gelap dengan kursi yang ditaruh bantal merah, kombinasi warnanya pas banget sama ruangan kayu ini. Letaknya tepat di samping jendela, jadi begitu duduk, pemandangan luar langsung masuk ke mata secara natural. Rasanya Jangtaesan awal November terbingkai di kusen jendela.

Aku foto area lesehan dari sudut lain. Di sisi ini, pintu menuju dek luar ada tepat di sebelah, jadi cahaya matahari membanjir masuk. Kalau sore hari duduk di sini sambil berjemur minum kopi, itu pasti healing banget. Sayangnya kami datang pagi jadi nggak kebagian momen itu. Lain kali mau sengaja datang sore.
Lampu plafon — detail yang menyempurnakan ruangan

Coba dongak ke atas. Ada lampu-lampu bulat besar berjajar menggantung, dan ini kunci utama yang menyempurnakan suasana interior kafe ini. Bentuknya yang menggantung di antara balok kayu membuat ruangan terasa jauh lebih luas, dan cahayanya menyebar lembut sehingga keseluruhan tone jadi hangat.

Dari dekat, bentuknya seperti dua-tiga bola yang bertumpuk dan bahannya mirip hanji — kertas tradisional Korea. Di belakang terlihat juga jendela bulat dan lentera yang tergantung di dinding. Setiap spot punya gaya pencahayaan yang berbeda-beda, jadi tergantung kamu duduk di mana, suasananya sedikit berubah. Di sinilah terasa kalau kafe ini beneran serius soal interior.
Interior di awal November
Karena jam pagi, di dalam sangat tenang. Aroma kayu, suara kopi diseduh, daun-daun musim gugur terlihat dari jendela. Ada momen ketiga hal ini bertemu, dan di momen itu kamu paham kenapa kafe ini harus ada di pintu masuk Jangtaesan.
Teras outdoor — ngopi dengan hutan tepat di depan mata

Di dalam memang bagus, tapi kalau cuacanya oke, coba duduk di luar. Di teras ada meja dan kursi besi, dan di balik pagar, pohon-pohon langsung ada di depan mata. Jaraknya beneran dekat sama hutan, sampai kalau duduk di situ bisa dengar suara daun bergoyang ditiup angin. Kopi yang diminum di dalam dan kopi yang diminum di sini itu jelas beda. Latte-nya sama, tapi karena udaranya beda, rasanya juga ikut berubah.

Di samping bangunan juga ada kursi outdoor. Tepat di depan dinding kayu gelondongan ada kursi-kursi warna pastel, dan ada atap kecil yang menaungi sedikit, jadi meskipun matahari terik kamu tetap bisa duduk di tempat teduh. Kalau di dalam sudah penuh pun, kadang di sini masih ada kursi kosong, jadi jangan dilewatkan begitu saja.
Dek bawah — tempat duduk tersembunyi yang dikelilingi hutan

Ini dek bawah dilihat dari atas. Ada tiga payung yang terbuka, dan meja-meja diletakkan di atas dek kayu dengan sekeliling yang benar-benar hutan. Ini tempat di mana kamu bisa minum kopi sambil dikelilingi pohon-pohon, tapi kayaknya banyak pengunjung yang nggak tahu ada area ini dan langsung pergi. Wajib coba turun ke sini.
Mau duduk di mana? — Rekomendasi sesuai situasi
Kalau datang sama keluarga atau rombongan, area lesehan di dalam paling nyaman. Kalau pasangan, meja dekat jendela sambil lihat daun musim gugur bareng juga oke. Kalau cuaca bagus, teras outdoor. Kalau mau tenggelam di hutan dengan tenang, dek bawah. Jenis tempat duduknya beragam, jadi siapa pun yang datang dan dalam mood apa pun, pasti ada tempat yang pas.
Etalase dessert — konter yang bikin bingung milih

Setelah dapat tempat duduk, aku ke konter, dan langsung berhenti di depan etalase pendingin. Di rak atas ada gateau chocolat mugwort — permukaannya hijau mugwort pekat dengan lapisan krim kuning di atas, potongannya langsung menarik perhatian. Di rak tengah ada chocolate terrine dan burnt basque cheesecake berjejer, dan di rak bawah ada cold-pressed juice berbaris sesuai warna, jadi yang nggak minum kopi pun tetap ada pilihan. Berdiri di depan etalase ini, pilih satu aja susah banget.

Di sebelah etalase ada rak pastry panggang. Salt bread Rp 45.000, salt bread kastanye Gongju Rp 67.000 berjejer, di sampingnya ada dark chocochip cookie Rp 50.000, apple soboro cookie Rp 48.000, matcha white macadamia cookie Rp 50.000 di atas piring. Di belakang juga terlihat financier dan madeleine. Cookie-nya satu per satu besar dan berat, kayaknya pesan satu sama kopi sudah cukup.

Aku foto palmier Rp 56.000 dan salt bread Rp 45.000 dari dekat. Palmier-nya berbentuk puff pastry yang dilapisi cokelat, ukurannya cukup besar, dan salt bread-nya berbentuk bulat dengan butiran garam di atasnya. Ternyata jenisnya lebih banyak dari yang kukira, jadi kalau kamu suka roti, pasti seru milih-milihnya.
Catatan soal dessert
Dessert etalase pendingin (gateau mugwort, chocolate terrine, burnt basque cheesecake) itu menu populer, jadi harus datang awal biar bisa pilih. Pastry panggang biasanya bertahan lebih lama, tapi salt bread habisnya cepat.
Menu yang kami pesan — Citrus Love, cafe latte, dan salt bread

Setelah lama bingung, akhirnya kami pesan ini. Aku pilih teh yang namanya Citrus Love, istri pilih cafe latte, dan satu salt bread. Citrus Love itu teh di dalam poci kaca, di mana kelopak bunga kering dan herbal larut dalam air sambil mengeluarkan warna. Di sampingnya ada gelas kaca kosong untuk dituang sendiri.
Sambil menunggu di tempat duduk setelah pesan, aku lihat ke luar jendela. Pohon-pohon dengan campuran hijau dan merah memenuhi kaca jendela. Istri diam saja cukup lama menatap ke luar. Buat orang yang tumbuh di negara tanpa musim gugur, daun yang berubah warna itu sendiri kayaknya masih jadi pemandangan yang ajaib setiap kali. Sudah 3 tahun di Korea tapi setiap musim gugur tiba, dia lebih lama memandang ke luar. Aku teringat waktu pertama kali lihat daun musim gugur di Korea dia tanya, "Daunnya sakit ya?" — dan aku ketawa sendiri.
Citrus Love — teh yang bikin senang cuma dari melihatnya

Di dalam poci ada kelopak bunga oranye dan herbal hijau mengambang — visualnya bikin happy cuma dari lihat doang. Aromanya juga naik perlahan. Setiap buka tutup poci, aroma citrus menyebar, dan ini jelas beda level sama teh celup biasa.

Ini tampilan dari atas keseluruhannya. Poci Citrus Love, cafe latte, dan salt bread sama-sama di atas nampan. Kalau berdua ke kafe dan bingung mau pesan apa, kombinasi kayak gini — satu teh, satu kopi, satu roti — itu solusinya. Set ini ternyata oke banget.
Cafe latte dan salt bread

Ini cafe latte pesanan istri. Ada latte art bentuk hati di atasnya, dan foam-nya halus banget sampai dia liatin dulu agak lama sebelum diminum. Setelah sesap pertama, katanya lembut. Proporsi susunya memang lebih banyak, jadi rasa pahitnya hampir nggak ada — cocok buat yang biasanya nggak minum kopi.

Ini salt bread-nya. Permukaannya dipanggang mengkilap dan di atasnya terlihat butiran garam. Ukurannya sebesar telapak tangan, luarnya renyah dan dalamnya kenyal. Dimakan bareng latte, rasa asin dan gurihnya bergantian datang, bikin tangan terus meraih. Agak nyesel cuma pesan satu untuk berdua. Lain kali pasti masing-masing satu.

Aku foto latte-nya lagi dari sudut berbeda. Kena cahaya, tekstur foam-nya makin terlihat jelas. Banyak review yang bilang kafe ini terkenal kopinya enak, dan setelah coba latte-nya, aku paham kenapa orang bilang begitu.
Kombinasi yang direkomendasikan
Kalau suka kopi, cafe latte + salt bread paling aman. Kalau nggak minum kopi, menu teh seperti Citrus Love itu rekomendasiku. Kalau mau lebih nikmatin dessert, pilih burnt basque cheesecake atau gateau mugwort dari etalase.
Jalan-jalan di Jangtaesan, dan kafe yang terlihat saat pulang
Setelah habis kopi, kami keluar jalan-jalan di Jangtaesan. Ini kan tujuan utama hari itu.
Kami menyusuri jalur hutan metasequoia. Karena awal November, daun-daunnya sedang transisi dari hijau ke merah, dan campuran warna itu justru lebih bagus daripada satu warna saja. Istri sambil jalan terus mendongak ke atas. Cahaya matahari turun di antara pohon-pohon yang cukup tinggi, dan aku sempat berpikir — kalau setahun penuh cuma lihat hijau, terus tiba-tiba lihat warna-warna ini, rasanya gimana ya? Aku teringat waktu pertama kali lihat daun musim gugur di Korea, dia tanya "Daunnya sakit ya?" — dan aku ketawa sendiri.
Setelah selesai jalan-jalan dan kembali ke parkiran, aku melirik kafe sekali lagi. Sudut matahari berbeda dari saat pagi, jadi bangunannya terasa lain. Pengunjung juga sudah jauh lebih banyak. Saat naik mobil, secara natural keluar kalimat "Lain kali datang musim panas yuk." Kalau kalimat itu keluar sendiri, artinya kafe ini benar-benar membekas di hati.
Empat musim berbeda di Jangtaesan, empat suasana kafe yang berbeda
Musim semi, daun-daun muda hijau terang memenuhi jendela kafe. Musim panas, duduk di teras di bawah naungan hijau lebat sambil merasakan angin. Musim gugur, metasequoia berubah merah dan seluruh kafe tenggelam dalam warna musim gugur. Musim dingin, ranting-ranting telanjang memperlihatkan garis punggung gunung dan pemandangan jadi tenang dan damai. Katanya, musim apa pun datang, kafe ini dan pemandangan sekitarnya selalu cocok.
Kenapa aku rekomendasikan ini sebagai trip sehari dari sekitar Daejeon
Jujur, aku nggak sengaja mencari kafe ini. Aku tahu karena parkirannya, dan masuk cuma karena rasa terima kasih mau beli kopi satu gelas — tapi pada akhirnya, yang paling lama teringat dari hari itu bukan jalan-jalannya, bukan daunnya, tapi waktu yang dihabiskan duduk di kafe kabin kayu ini.
Kalau kamu sedang cari kafe di tengah alam sekitar Daejeon, kalau kamu merencanakan trip sehari ke Jangtaesan, atau kalau kamu ingin memperlihatkan musim gugur Korea ke seseorang dari negara yang setahun penuh musim panas — coba datang ke sini. Mampir sebelum jalan-jalan di taman juga oke, atau setelah jalan-jalan sambil istirahatkan kaki dengan secangkir kopi juga mantap. Aku sudah keliling banyak kafe estetik di Daejeon, tapi tempat di mana kamu bisa duduk dengan alam tepat di sebelahmu itu nggak banyak. Di sini bisa.
Lain kali aku mau datang musim panas. Di Jangtaesan yang penuh hijau pekat, duduk di tempat yang sama, pesan latte yang sama. Tapi kali itu, salt bread-nya dua.
Informasi dasar Coffee Interview Jangtaesan
Coffee Interview Jangtaesan
Alamat: 452 Jangan-ro, Seo-gu, Daejeon, Korea Selatan (Jangan-dong 292-2)
Telepon: +82 10-7426-1018
Jam operasional: Setiap hari 09:00 ~ 19:00 (bisa berubah, disarankan telepon dulu sebelum datang)
Parkir: Parkiran khusus kafe tersedia (kalau penuh, bisa pakai parkiran Taman Wisata Alam Jangtaesan)
Instagram: @coffee_interview
Artikel ini pertama kali diterbitkan di https://hi-jsb.blog.