
The King di Yangnam Gyeongju: Cafe Bakery Raksasa di Sisi Laut
Daftar Isi
14 item
Cafe The King di Yangnam Gyeongju — Cafe Bakery Raksasa Tepat di Sebelah Jusangjeolli
Kalau ngomongin soal liburan ke Gyeongju, kebanyakan orang pasti langsung kepikiran tempat-tempat bersejarah di daratan kayak Kuil Bulguksa, Observatorium Cheomseongdae, atau Kompleks Makam Daereungwon. Tapi, kalian tahu nggak sih kalau Gyeongju itu punya laut? Di pesisir Yangnam-myeon, sebelah timur Gyeongju, ada fenomena geologi keren namanya Jusangjeolli (kolom lava vertikal) yang merupakan Monumen Alam No. 536. Nah, tepat di sebelah tebing pantai ini, ada cafe ocean view super besar namanya The King (The King Bakery & Cafe). Cafe ini terkenal banget sama patung gorilla emas raksasanya. Begitu masuk, kalian bakal disambut pemandangan Laut Timur (East Sea) yang luas banget lewat jendela kaca setinggi langit-langit, dan di belakang cafe-nya langsung nyambung ke jalur jalan setapak Jusangjeolli Wave Sound Trail. Ini adalah cafe bakery yang rotinya dipanggang sendiri, lengkap dengan kids zone dan area bermain pasir outdoor, jadi cocok banget buat bawa keluarga (family-friendly).
Bagi teman-teman muslim yang mau berkunjung, kalian nggak perlu khawatir. Walaupun ini cafe bakery Korea, pilihan menu rotinya banyak yang berbasis buah dan krim. Karena ini artikel tentang makanan Korea, aku bakal bahas menunya dengan santai ya! Aku pergi ke sini akhir September 2025 bareng istriku. Waktu itu kami mampir setelah dari Seokguram Grotto pas mau jalan ke arah pantai. Jaraknya sekitar 30km atau 40 menit naik mobil dari Seokguram. Pas hari itu panasnya pol kayak musim panas padahal sudah akhir September. Kami sampai jam 1 siang dan nongkrong sekitar satu jam sebelum lanjut ke Pohang. Yuk, cek foto-foto yang aku jepret sendiri!

Dibuat Melongo Sama King Kong Emas dari Parkiran
Begitu turun dari mobil di parkiran, kalian bakal langsung disambut sama patung King Kong emas yang ukurannya luar biasa gede. Sumpah, kaget banget pas pertama lihat! Tingginya hampir sama kayak bangunan cafe-nya, jadi dari jauh pun sudah kelihatan banget. Nggak perlu lihat Google Maps lagi, kalian pasti bakal bilang "Oh, itu dia tempatnya!". Parkirannya juga luas banget, jadi kalau datang pas weekend pun nggak perlu stres cari lapak parkir. Cafe-cafe di daerah Yangnam biasanya parkirannya sempit, tapi The King ini juara kalau soal fasilitas parkir.

Coba deh lihat ukurannya, ini pas aku bandingin sama punggung istriku, dia cuma seukuran lengan bawah patungnya doang! Skalanya bener-bener intimidatif tapi keren. Kalau dilihat lebih dekat, permukaan patungnya itu penuh sama potongan logam kayak gigi roda dan suku cadang mesin. Ini karya seni upcycling (upcycling art), jadi bukan sekadar patung asal-asalan, tapi digarap serius banget. Aku nggak lihat ada orang yang lewat sini tanpa foto-foto dulu.

Pintu Masuk yang Serasa Mau Masuk Kastil
Pintu masuknya juga nggak kalah keren. Aku pikir cuma King Kong-nya doang yang gede, ternyata pintu masuk cafe-nya sendiri punya desain lengkung (arched entrance) yang tinggi banget. Langit-langitnya terbuka lebar dengan dinding batu di kanan-kiri, jadi pas melangkah masuk itu rasanya kayak lagi jalan masuk ke dalam sebuah kastil (castle). Di atas lengkungannya ada papan nama besar, dan makin ke dalam jalannya makin mengerucut, bikin kita secara alami "terhisap" ke area dalam cafe. Ini bukan sekadar pintu, tapi sudah kayak objek wisata sendiri.

Interior Cafe The King — Ruang Raksasa dengan Tema Berbeda di Setiap Area
Pas sudah di dalam, kalian pasti bakal melongo lagi sama ukurannya. Area pertama itu zona bertema abad pertengahan dengan dinding biru, dekorasi motif perisai, lampu berbentuk lampu jalan (street lamp-style lights), sampai ada figur Iron Man segala. Mejanya banyak banget dan kursinya pakai bahan kain, jadi betah kalau mau duduk lama-lama. Katanya ada kids zone terpisah, tapi area ini pun sudah kelihatan kayak taman bermain buat anak-anak.

Aula Ocean View dengan Deretan Lampu Kristal
Tapi suasana bener-bener berubah drastis pas masuk ke aula bagian dalam. Di langit-langitnya banyak banget lampu kristal (crystal chandelier) yang bergelantungan. Ukurannya gede banget, biasanya cuma ada di lobi hotel mewah, bukan di cafe! Tepat di sebelahnya ada jendela kaca transparan (floor-to-ceiling glass windows) yang menghadap langsung ke laut, jadi cahaya dari lampu kristal itu beradu sama cahaya langit di luar. Kursinya pakai besi hitam dengan sandaran lebar yang ternyata cukup nyaman, cuma karena bahannya besi, pas akhir September kemarin pas didudukin agak dingin.

Aula ini panjangnya minta ampun, sampai nggak kelihatan ujungnya. Satu sisi itu view laut lewat kaca, sisi satunya lagi dinding bata dengan dekorasi jendela palsu ala Eropa (European-style faux windows). Di sela-sela ada sofa beludru kuning dan lampu jalan, jadi asyik banget jalan-jalan sambil pilih tempat duduk. Kalau weekend katanya ramai banget, tapi pas aku ke sana hari kerja sore, suasananya tenang banget kayak gini.

Kalau dilihat dari sisi sebaliknya, feel-nya kayak gini nih. Barisan kursi putih memanjang di sisi jendela, dan ada tanaman besar di antara meja-meja. Lampu kristalnya gantung berulang-ulang sampai ke ujung, kalau dilihat dari jauh cakep banget asli. Ini ruangan yang sama tapi dari arah beda, suasananya kerasa beda kan? Tempat duduknya banyak banget dan hampir semuanya dapat view laut, jadi nggak perlu rebutan tempat.

Pemandangan Laut Timur dari Balik Jendela
Ini nih yang kalian lihat kalau duduk di dekat jendela. Laut Timur bener-bener ada di depan mata. Lewat kaca, kalian bisa lihat garis pantai, bebatuan, sampai turbin angin (wind turbines) di kejauhan. Istriku sampai berdiri lama banget di sini. Aku sudah ajak duduk tapi dia bilang "bentar lagi, bagus banget". Di bawahnya kelihatan taman rumput (grass garden), yang ternyata nantinya bisa kita datangi juga.

Ada juga kursi di area teras (terrace) lantai 2. Ini area buat kalian yang mau hirup udara segar laut. Di balik pagar kaca, kalian bisa lihat taman rumput dan laut yang luas banget. Kursinya tipe sofa dengan bantal empuk, kalau sudah duduk di sini rasanya malas mau bangun. Kalau cuaca lagi cerah, area ini jauh lebih asyik daripada di dalam. Karena lokasinya di pantai, angin sepoi-sepoinya itu lho yang bikin suasana makin syahdu.

Dinding ala Eropa yang Serasa Ada Cafe di Dalam Cafe
Kalau lihat ke dindingnya, mereka bikin dekorasi yang mirip banget sama eksterior cafe di jalanan Eropa (European street-style facade). Ada papan nama "café MALT amour du café", jendela lengkung, sampai kaca patri (stained glass) warna hijau lumut. Berasa lagi ada di dalam dua cafe sekaligus, unik banget!

Ternyata nggak cuma gorilla doang. Di bagian dalam ada dua patung logam (metal sculptures) raksasa lagi. Yang satu pegang kapak, satu lagi pegang perisai. Dibuat dari gigi roda dan mesin, kayaknya sih dari seniman upcycling (upcycling art) yang sama. Pas lagi minum kopi, mata kita otomatis bakal sering ngelirik ke sini karena detailnya emang keren parah.

Detailnya sedalam ini kalau dilihat dari dekat. Satu tangan kapak, satu tangan perisai. Disimpan di dalam kotak kaca dan tingginya hampir menyentuh plafon. Skalanya susah banget ditangkap lewat foto, tapi kalau lihat langsung, kalian pasti bakal merasa kecil banget di depannya.

Spot Foto dan Patung yang Tersembunyi di Mana-mana
Di dalam juga ada King Kong lagi lho! Kali ini warnanya emas dan posenya kayak lagi mau keluar menembus dinding. Giginya yang warna perak bikin tampilannya agak seram tapi keren banget karena menyatu sama gambar gedung hitam putih di belakangnya. Ini spot favorit buat foto-foto, banyak banget yang antre di sini.

Di area dinding ala Eropa ini, ada deretan sofa beludru (velvet sofa) warna oranye dan kuning yang eyecatching banget. Ada jendela palsu dan lampu jalan juga, jadi kalau duduk di sini rasanya kayak lagi nongkrong di teras outdoor di luar negeri. Ini spot paling bagus buat ambil foto buat diposting di medsos.

Makin masuk ke dalam, suasananya berubah lagi. Ada fasad bangunan warna-warni (colorful building facades) dengan patung logam di sela-selanya, dan sulur-sulur tanaman yang menjuntai dari atas. Berasa lagi jalan di gang taman bermain bertema, bukan di cafe biasa. Aku sama istriku sampai lama banget milih tempat duduk karena semuanya bagus.

Ada juga yang kayak begini di dindingnya. Mereka beneran bikin balkon mini (mini balcony) lengkap sama pot bunga dan tirainya. Detailnya nggak main-main! Aku nggak nyangka mereka bakal niat banget bikin interior sedalam ini. Tadinya cuma mau mampir di cafe besar biasa, eh ternyata banyak banget yang bisa dilihat.

Kali ini ada patung ksatria berbaju zirah (armored knight sculpture). Posenya lagi menancapkan pedang ke tanah. Kalau dibandingin sama kursi putih di sebelahnya, tingginya sekitar dua kali tinggi manusia. Pas banget sama background set bangunan ala Eropa-nya, bener-bener kerasa kayak lagi di tengah desa abad pertengahan (medieval village).

Ini angle di mana kalian bisa lihat seluruh areanya. Lampu kristal, dinding Eropa, patung logam, dan sofa warna-warni semua masuk dalam satu frame. Ruangannya emang luas banget, tapi nggak kerasa kosong karena setiap zona punya tema yang unik, jadi nggak ngebosenin jalan-jalannya.

Counter Bakery yang Punya View Laut Langsung
Bahkan dari tempat pesan pun kalian sudah bisa lihat laut. Di belakang rak roti ada jendela kaca lengkung yang besar banget. Pas lagi pilih-pilih kue terus nengok ke atas, langsung deh kelihatan Laut Timur yang biru. Ini pertama kalinya aku beli roti sambil cuci mata lihat laut.

Lewat kaca, area teras luar kelihatan jelas dan di sana lautnya berasa dekat banget. Cakrawalanya membentang luas di sela-sela pohon pinus (pine trees). Melihat pemandangan ini dari dalam saja sudah kerasa tenang banget. Tempat yang pas buat bengong sambil pegang secangkir kopi.

Kalau kalian berdiri langsung di terasnya, view-nya kayak gini. Laut Timur membentang tanpa batas di balik pohon pinus, dan kalau cuaca lagi bagus, kalian bisa lihat kapal lewat. Di bawahnya ada taman rumput dan jalur Jusangjeolli Wave Sound Trail. Jalur ini panjangnya sekitar 1.7km dari Pelabuhan Eupcheon ke Pelabuhan Haseo, di mana kalian bisa lihat langsung pilar-pilar lava Jusangjeolli yang sudah jadi Monumen Alam No. 536. Mau kopinya rasa apa pun, kalau view-nya kayak gini mah sudah cukup banget buat alasan datang ke sini.

Bakery The King — Stok Roti Melimpah Walau Bukan Musim Libur
Pilihan bakery-nya juga nggak main-main. Ada mango cake, chocolate cake, sampai tiramisu yang tertata rapi di display. Ukuran per potongnya lumayan gede dan tampilannya cantik banget, bikin lapar mata pas mau milih.

Aku tertarik banget sama sus krim (cream puff) yang ada pelat cokelat bertuliskan "THE KING BAKERY & CAFE". Isinya krim segar melimpah terus ada potongan kiwi di atasnya. Di sebelahnya ada tiramisu juga, bener-bener kayak toko roti profesional pilihannya.

Nah, kayaknya ini menu andalan mereka: Roti wajah gorilla (gorilla bread). Adonannya warna hitam terus ada wajah putihnya di tengah, lucu banget! Ada juga croissant, salt bread (roti garam), dan garlic baguette (roti bawang). Pas aku ke sana pas sepi, tapi tiap tray masih diisi penuh. Nggak kayak cafe besar lain yang kalau sepi cuma sedia roti dua-tiga biji doang.

Ada salt bread, roti krim, dan roti gorilla yang dipisah per baris. Kelihatannya baru banget dipanggang. Croissant-nya juga kelihatan tekstur layernya cakep. Macamnya emang nggak ribuan, tapi semuanya menu yang pasti enak.

Ada roll cake juga lho. Kiwi roll dan blueberry roll ditata di atas piring kaca, potongannya rapi banget kelihatan bikin sendiri. Ada juga yang pakai buah ara (fig). Kalau soal dessert, ini nggak kalah sama toko roti spesialis di kota besar.

Croughnut (gabungan croissant dan donat) sama salt bread yang paling banyak stoknya. Croughnut-nya kelihatan garing di luar dan ukurannya lumayan berat, sedangkan salt bread-nya masih kelihatan butiran garamnya di atas, kayak baru keluar dari oven. Kalau pas sepi saja stoknya segini, bayangin pas musim libur pasti penuh banget raknya.

Menu Signature — The King Einspanner dan Cinnamon Cream Latte
Aku pesan The King Einspanner (Rp80.000). Ini menu andalan mereka, yaitu kopi espresso kental yang di atasnya dikasih krim manis yang tebal banget. Disajikannya pakai gelas kaca berlogo "The King". Lapisan espresso sama krimnya kelihatan kontras banget, cakep buat difoto.

Istriku pilih Cinnamon Cream Latte (Rp80.000). Warnanya lebih muda dibanding Einspanner dan lapisan krimnya kerasa lebih lembut. Istriku emang suka banget sama aroma kayu manis, jadi dia bilang ini pas banget di lidah karena aromanya nggak terlalu nyengat.

Pas ditaruh di dekat jendela, yang kiri itu Einspanner yang warnanya gelap, yang kanan yang lebih muda itu Cinnamon Cream Latte. Background-nya Laut Timur sama pulau karang, kombinasi yang pas banget kan? Rasanya menurutku enak, manisnya pas. Tapi jujur saja, bukan tipe kopi yang bikin kalian "harus datang lagi demi kopi ini". Cuma ya, karena diminumnya sambil lihat laut yang seindah ini, rasanya jadi naik berkali-kali lipat. Pas aku tanya istriku dia minum apa barusan, dia malah jawab "nggak tahu, aku cuma ingat lautnya doang". Sama sih, aku juga gitu. Ke sini itu bukan buat berburu rasa kopi, tapi buat healing nikmatin view dan suasananya.

Daftar Harga Menu dan Info Kunjungan
Daftar menunya bisa kalian lihat di monitor atas counter. Ada tulisan bahasa Inggrisnya (English menu available) jadi turis pun nggak bakal bingung, tapi pesannya tetap pakai bahasa Korea ya. Harganya emang nggak murah sih. Americano Rp70.000, latte-lattean Rp80.000-an, smoothie Rp90.000-an. Dibanding cafe di pusat kota Gyeongju, ini lebih mahal, tapi wajar karena sudah termasuk "premium ocean view". Oiya, harga ini pas aku ke sana September 2025 ya, mungkin saja bisa berubah sewaktu-waktu.
※ Harga per September 2025, dapat berubah sewaktu-waktu. (Prices as of Sep 2025, subject to change.)
Telepon: +82-54-771-2233
Jam Operasional: Hari Kerja 10:00~20:00 / Weekend & Libur 09:00~21:00 (Last order 30-40 menit sebelum tutup)
Libur: Buka sepanjang tahun
Parkir: Parkiran gratis yang sangat luas
Lainnya: Tersedia Kids Zone · Gratis masuk untuk anak di bawah 7 tahun · Area main pasir outdoor · Tersedia lift · Ada Wi-Fi
Cara ke Cafe The King dan Wisata Sekitarnya
Dari pusat kota Gyeongju, butuh waktu sekitar 30-40 menit naik mobil (jarak sekitar 20km). Kalau kalian dari arah Seokguram atau Kuil Bulguksa kayak aku, bakal makan waktu 40 menitan. Memang bisa pakai transportasi umum, tapi bus-nya jarang banget lewat, jadi susah atur waktunya. Sangat disarankan sewa mobil (rental car) atau naik taksi saja biar aman.
Di sekitar The King, jalurnya langsung nyambung ke Jusangjeolli Wave Sound Trail. Terus ada desa nelayan kecil kayak Pelabuhan Eupcheon sama Pelabuhan Haseo. Jadi daripada cuma ke cafe doang terus pulang, mending sekalian jalan santai di pesisir pantainya sekitar setengah hari. Aku kemarin keburu waktu jadi nggak sempat jalan kaki, tapi next time harus banget dicoba.
Worth It Nggak Sih? — Review Jujurku
Jujur saja, aksesnya emang agak repot. Jauh dari pusat kota Gyeongju, kendaraan umum susah, dan daerah Yangnam ini bukan jalur utama turis. Tapi yang namanya pantai emang gitu kan, kalau dekat pusat kota ya bukan pantai namanya. Walau repot, tapi view dan suasananya bener-bener sebanding kok, nggak bakal nyesel.
Apalagi kalau kalian sudah capek keliling situs sejarah yang isinya cuma kuil sama makam, mampir ke sini buat lihat laut itu segerrr banget. Buat yang bawa anak kecil? Tenang, ada kids zone sama area main pasir, jadi ramah banget buat keluarga. Katanya kalau sore pemandangan sunset-nya juga juara, tapi karena aku datangnya jam 1 siang, aku belum lihat sendiri.
Kalau musim panas kalian bisa nikmatin angin laut di teras, kalau musim dingin enaknya duduk di dalam sambil lihat laut lewat kaca yang hangat. Kalau lagi cari cafe ocean view di Gyeongju, di daerah Jusangjeolli Yangnam cuma The King yang skalanya sebesar ini dan punya view sekeren ini. Jadiin referensi ya!
Tulisan ini aslinya dipublikasikan di https://hi-jsb.blog.