Serasa Masuk Drama: Lokasi Syuting Mr. Sunshine Korea
Begitu masuk, waktu serasa berhenti
Info Tiket Masuk
Admission
- 🧑 Dewasa ~Rp115.000
- 🧑🎓 Remaja ~Rp92.000
- 👶👴 Anak · Lansia ~Rp69.000
Diskon rombongan 20+ orang di hari kerja · Hanya bisa beli tiket di tempat

Begitu kamu melewati gerbang tiket, rasanya waktu langsung berhenti. Ini adalah lokasi syuting drama yang merekonstruksi jalanan Hanseong — nama lama Seoul — di awal tahun 1900-an, saat Korea memasuki "Periode Pencerahan" (개화기) dan mulai terbuka dengan dunia Barat. Jalan batu yang seperti ditata satu per satu dengan tangan, bangunan kayu yang menyimpan jejak waktu, sampai sinar matahari musim panas yang jatuh di atas rumput hijau. Tapi eh, lihat tiang telegraf di sana? Itu sengaja dibiarkan ada. Karena di tahun 1900-an memang benar-benar ada tiang telegraf. Mereka sampai memverifikasi keakuratan historis tiang telegraf untuk sebuah set syuting. Dari satu detail ini aja, sudah kerasa kan? Tempat ini bukan asal-asalan dibangun.
Glory Hotel — inti dari lokasi syuting Mr. Sunshine


Bangunan ini namanya Glory Hotel. Ini yang pertama kali menarik perhatian begitu masuk ke Sunshine Studio. Tanaman merambat ivy menjalar naik di dinding luar, dan di halaman depan berdiri sebuah lampu jalan kuno. Pertama kali lihat, beneran kayak poster film. Ini serius?
Bangunan ini dibuat berdasarkan Sontag Hotel yang benar-benar pernah ada dalam sejarah. Sontag Hotel berdiri di kawasan Jeong-dong, Seoul pada awal 1900-an — hotel bergaya Barat pertama di Korea. Pemiliknya adalah Antoinette Sontag (1854–1922), seorang wanita berkebangsaan Jerman kelahiran Prancis, dan hotel ini beroperasi sebagai penginapan privat khusus untuk keluarga kerajaan. Tempat ini juga punya nilai historis penting karena pada tahun 1905, utusan Jepang Ito Hirobumi menginap di sini saat menekan Korea untuk menandatangani Perjanjian Eulsa — perjanjian yang pada dasarnya mencabut kedaulatan diplomatik Korea.
Dalam drama Mr. Sunshine (2018), bangunan ini muncul sebagai tempat utama di mana para tokoh utama keluar masuk. Sekarang, lantai 1 berisi ruang pemutaran cuplikan drama dan pameran properti syuting. Lantai 2 beroperasi sebagai kafe. Kamu benar-benar bisa minum kopi di jendela yang sama dengan yang muncul di drama. Kalau cuma lewat tanpa masuk, dijamin nyesel.
Interior Glory Hotel — properti drama masih utuh

Begitu masuk ke dalam bangunan, kamu bakal berhenti lagi. Atmosfer yang tadi terasa dari luar, ternyata hidup juga di dalam. Lantai kayu gelap, tirai beludru yang tebal, cahaya alami yang masuk lewat jendela lengkung. Sofa dan furnitur yang benar-benar dipakai saat syuting masih di posisi yang sama persis. Mereka nggak membongkar set-nya — dipertahankan apa adanya. Duduk dan foto di sini, beneran serasa jadi pemeran utama drama. Bukan cuma perasaan — ini beneran.

Kostum yang benar-benar dipakai oleh aktor saat syuting juga dipajang di sini. Gaun di manekin itu? Bukan sekadar properti biasa. Itu baju yang benar-benar dipakai aktris saat syuting Mr. Sunshine. Kalau kamu bandingkan dengan foto berbingkai di sebelahnya — aktris di adegan yang sama persis — langsung merinding. Serius. Momen kamu sadar "gaun ini muncul di adegan itu," realita dan drama tiba-tiba tumpang tindih dengan cara yang bikin zonk.
Kafe lantai 2 Glory Hotel — ngopi di era 1900-an

Ruangan ini, kafe lho. Beneran. Interior yang sama persis kayak waktu syuting, meja yang sama, suasana yang sama — dan sekarang beroperasi sebagai kafe sungguhan. Tiang kayu gelap, kursi bergaya klasik, cahaya yang masuk lewat jendela. Pesan kopi satu, duduk, dan jujur kamu bakal bingung sekarang ini tahun 2025 atau tahun 1900-an.
Tapi dengerin deh. Aku mau jujur.
Kalau datang ke kafe ini pakai baju biasa, kamu cuma nikmatin setengahnya.
Pakai baju bergaya era 1900-an, zaman Pencerahan Korea. Rok panjang, blus renda, jaket korset — pokoknya vibes pergantian abad. Rambut juga jangan dibiarin terurai. Sanggul ke atas. Makeup-nya juga jangan yang glow modern, pilih yang lebih klasik dan kalem. Terus duduk di kursi samping jendela di kafe ini sambil pegang secangkir kopi, dan di momen itu, KAMU adalah pemeran utama drama. Nggak perlu kru kamera — kamu sudah jadi satu adegan. Nggak perlu jadi aktor profesional buat ini.

Lihat? Nggak ada yang datang pakai baju biasa. Topi merah, yukata, blus renda. Orang-orang yang datang ke sini sudah tahu caranya menikmati tempat ini. Interior kayu gelap, pencahayaan antik, segelas minuman di atas taplak putih. Suasananya yang melengkapi pakaianmu. Nggak harus dandan sempurna juga nggak apa-apa. Cuma duduk di ruangan ini aja sudah jadi bagian dari lukisan.

Keluar dari Glory Hotel, pemandangannya kayak gini. Kursi besi antik, tangga batu, pohon-pohon hijau yang mengisi celah-celahnya. Nggak ramai. Tenang dan santai. Jenis tempat di mana kamu bisa duduk dan nggak ngapa-ngapain, dan itu sudah cukup.
Jalan Hanok — pengalaman berpindah zaman di setiap langkah

Jalan sedikit lebih jauh dan pemandangannya berubah total. Sekarang kamu ada di jalan hanok — deretan rumah tradisional Korea dengan atap genteng melengkung yang bertumpuk-tumpuk. Ini yang bikin Sunshine Studio istimewa. Bangunan bergaya Barat, bangunan bergaya Jepang, dan hanok tradisional Korea — semua di satu tempat. Di awal 1900-an, tiga budaya ini benar-benar hidup berdampingan di Korea. Dan di sini, kamu bisa lihat semuanya dalam satu lokasi. Setiap langkah kaki, rasanya kayak pindah era.

Gimana, pemandangan ini. Orang-orang menyeberangi jembatan kecil itu dan masuk ke gang di seberang. Lampu jalan tua, bangunan kayu, tiang telegraf. Pemandangan kayak gini sudah hampir nggak bisa ditemukan lagi di Korea sekarang.
Korea adalah salah satu negara yang paling cepat termodernisasi di dunia. Dalam waktu 50 tahun saja, seluruh lansekap kota berubah total. Makanya, pemandangan jalanan tahun 1900-an kebanyakan cuma tersisa di foto-foto lama. Inilah yang bikin Sunshine Studio begitu istimewa — ini salah satu dari sedikit tempat di mana kamu bisa melihat pemandangan yang sudah hilang itu dengan mata kepala sendiri. Kalau kamu turis asing, ini bakal terasa lebih eksotis lagi. Ini salah satu ruang langka di mana masa kini dan masa lalu Korea hidup berdampingan.
Jalan bergaya Jepang — gang yang menyimpan memori penjajahan

Terus jalan di gang-gangnya, dan kamu bakal ketemu bangunan bergaya Jepang. Lentera kertas putih, pintu kisi kayu, papan nama bertulisan Jepang. Mungkin terasa agak janggal pada awalnya.
Tapi ini fakta sejarah. Korea mengalami penjajahan kolonial Jepang dari tahun 1910 sampai 1945. Di era itu, papan nama berbahasa Jepang terpajang di setiap sudut jalan, dan huruf Korea berdampingan dengan aksara Cina di etalase toko. Apa yang kamu lihat di sini adalah wajah asli jalanan Hanseong pada zaman itu. Sunshine Studio merekonstruksinya dengan setia. Mungkin nggak semuanya terlihat indah. Tapi itulah sejarah. Merasakan ketidaknyamanan itu justru cara yang tepat untuk memahami ruang ini.
Toko Roti Bullangseo — set syuting yang jadi toko roti sungguhan

Ini Toko Roti Bullangseo. Ruangan yang persis sama yang dulu jadi set syuting Mr. Sunshine, sekarang beroperasi sebagai toko roti sungguhan. Roti-roti dalam keranjang ditaruh di atas rak kayu usang, dan pemandangan ini sendiri sudah jadi satu foto.

Masuk ke dalam, langsung terlihat struktur rangka kayu yang menjulang sampai langit-langit. Di dinding tergantung foto-foto adegan drama, dan di bawahnya tertumpuk bungkus roti dan karung bahan. Daya tariknya ada di nggak bisa bedain ini set syuting atau toko roti. Beli roti satu di tempat ini, itu sendiri sudah jadi pengalaman.

Lihat foto-foto aktor di dinding? Itu bukti bahwa syuting benar-benar dilakukan di ruangan ini. Di sebelahnya ada poster castella — kue bolu yang berasal dari Portugal, melewati Jepang, lalu sampai ke Korea. Ini salah satu makanan Barat pertama yang masuk ke Korea di era Pencerahan tahun 1900-an. Keberadaan toko roti ini di era itu bukan sekadar setelan cerita sembarangan.

Ini cuma model pajangan, tapi cantiknya kebangetan. Sebelah kiri castella, sebelah kanan bingsu — es serut khas Korea yang terkenal itu. Lihat potongan-potongan castella warna-warni di atas nampan kayu kecil itu? Hijau, kuning, oranye, pink. Dan kamu makan ini di ruangan yang beraura tahun 1900-an. Soal rasa memang penting, tapi rasanya lebih kayak kamu sedang "memakan" seluruh adegannya.

Bahkan pemandangan yang terlihat dari balik pintu itu sudah diperhitungkan. Sambil milih roti, secara alami kamu bisa lihat jalanan kuno dari jendela. Botol-botol kaca berisi bahan, keranjang-keranjang roti, dan di balik sana jalanan dengan papan nama aksara Cina. Pintu toko ini serasa garis batas antara masa kini dan masa lalu.
Kedai sake Jepang dan warung oden — keseharian Hanseong zaman dulu

Ini bangunan Jepang dua lantai. Noren merah — tirai kain tradisional Jepang yang digantung di pintu masuk toko — tergantung di pintunya, dan lentera kertas putih menghiasi pintu masuk. Di sebelah kanan, ada warung kecil pinggir jalan bertuliskan おでん (oden). Oden adalah makanan jalanan Jepang di mana berbagai bahan direbus dalam kuah gurih. Sampai sekarang masih sangat populer di Korea. Ini salah satu makanan yang secara alami terserap ke budaya kuliner Korea selama masa penjajahan Jepang di tahun 1900-an.
Tekstur kayu di dinding luar bangunan, lengkungan atap genteng, struktur yang berdiri di atas dinding batu. Terlalu banyak detail untuk cuma dilewati begitu saja. Jalan-jalan di gang ini, ada momen di mana kamu beneran bingung lagi di Korea atau di jalanan Jepang tahun 1900-an. Memang itu tujuannya. Jalanan seperti ini benar-benar ada di Hanseong zaman itu.

Lihat papan menu kayu yang tergantung di dinding. Nama-nama makanan tertulis dalam bahasa Jepang, dan di sebelahnya harga tertera dalam satuan 錢 (jeon) — mata uang yang benar-benar dipakai di tahun 1900-an. Di atas konter ada foto berbingkai dari masa syuting. Setiap detail di sini sayang banget kalau dilewati.

Lihat rak-raknya — boneka kimono, kipas lipat, tong sake, teko teh. Persis tampilan kedai sake bergaya Jepang di tahun 1900-an. Ini bukan sekadar penataan properti asal-asalan. Ruang-ruang seperti ini benar-benar ada di berbagai penjuru Hanseong waktu itu. Apa yang selama ini cuma kamu lihat di buku sejarah, sekarang ada di depan mata.

Bangku-bangku kayu berjejer di bawah noren merah. Ruangan yang sunyi dan kosong ini justru punya lebih banyak cerita. Duduk di salah satu kursi itu dan bayangkan percakapan para karakter drama di sini. Kalau kamu sudah nonton Mr. Sunshine, adegan ini pasti nggak asing. Belum nonton juga nggak apa-apa. Ruangan ini yang lebih dulu menyapa dan bercerita duluan.

Lantai tatami, pintu geser berkisi kertas, perapian hibachi di tengah ruangan. Ini adalah kamar yang muncul di Mr. Sunshine sebagai tempat tinggal Kudo Hina — karakter Jepang yang berakar di tanah Korea. Suasananya benar-benar berbeda dari ruang tradisional Korea. Dingin, rapi, tapi ada ketegangan aneh yang mengapung di udara. Kalau kamu sudah nonton dramanya, adegan-adegannya bakal langsung terbayang begitu kamu melangkah masuk ke kamar ini.

Kimono merah dengan pedang. Ini kostum yang benar-benar dipakai oleh aktris saat syuting. Bandingkan dengan foto berbingkai di sebelahnya dan langsung merinding. Baju ini muncul di adegan itu persis. Rasanya bukan lagi berdiri di set syuting — tapi berdiri di depan sepotong sejarah sungguhan.

Warung oden berdiri sendirian di tengah jalan. おでん, 準備中 (sedang persiapan). Belum buka tapi pemandangan ini saja sudah lebih dari cukup. Di belakang ada atap genteng hanok tradisional, di kiri ada bangunan bata merah bergaya Barat — semua tertangkap dalam satu frame. Korea, Jepang, Barat, hidup berdampingan dalam satu foto. Inilah wajah asli Hanseong di tahun 1900-an. Ke arah mana pun kamu arahkan kamera, hasilnya pasti bagus.
Hanseong Electric dan jalan Jongno — skala set syuting era Pencerahan

Ini pemandangan Sunshine Studio dari ketinggian. Di kiri, bangunan bata merah dengan menara jam adalah Hanseong Electric Company. Di kanan, atap genteng hanok berjejer memanjang. Arsitektur modern Barat dan arsitektur tradisional Korea hidup berdampingan dalam satu bingkai — inilah wajah asli Hanseong di tahun 1900-an. Di zaman itu, dua gaya ini memang benar-benar berdiri berdampingan.

Tampak depan Hanseong Electric Company. Bata merah, kubah bundar dengan menara jam, jendela lengkung. Didirikan pada tahun 1898 sebagai perusahaan listrik pertama di Korea — dari gedung inilah listrik pertama kali dialirkan ke jalanan Hanseong. Bukan sekadar set — ini rekonstruksi sejarah yang sesungguhnya.

Semakin dekat, detailnya semakin hidup. Tekstur bata di dinding luar, ornamen besi di puncak menara jam, ukiran halus di sekeliling jendela lengkung. Berdiri di depan bangunan ini, langsung paham kenapa sutradara drama memilih set ini.

Rel trem tertanam di tengah jalan. Trem Hanseong adalah trem pertama yang beroperasi di Korea pada tahun 1899, yang dulu berlari dari gerbang timur ke gerbang barat Seoul. Di papan nama bangunan tertulis "朝鮮銀" (Bank Joseon) dalam aksara Cina, dan di sebelahnya ada roda kereta kuda yang disandarkan. Satu jalan ini saja sudah menangkap atmosfer kacau sekaligus dinamis dari era di mana trem, kereta kuda, dan hanok hidup berdampingan.

花月樓 (Hwawollu). Bangunan kayu dua lantai yang mencolok dengan papan nama aksara Cina dan lentera kuning. Dalam Mr. Sunshine, Hwawollu adalah restoran mewah — tempat kelas atas dan orang-orang berkuasa zaman itu keluar masuk. Dinding putih yang dipotong oleh tiang kayu hitam mencerminkan gaya arsitektur campuran era itu, perpaduan pengaruh Korea dan Jepang. Membayangkan kalau lentera kuningnya menyala di malam hari, suasananya pasti beda banget.

Panorama jalan Jongno dilihat dari atas. Taegukgi — bendera nasional Korea — membingkai sisi kiri, rel trem melengkung melewati Hwawollu, dan seluruh jalan terbentang seperti panorama. Dari sudut ini, nggak terasa kayak set syuting — beneran kayak memandang jalanan tahun 1900-an dari ketinggian. Kalau ada waktu, wajib naik ke sini untuk menikmati pemandangannya.
Trem Hanseong dan Gerbang Daeanmun — simbol Korea modern

Di antara cabang-cabang pohon willow, sebuah alun-alun terbuka. Di kanan berdiri replika kayu Trem Hanseong — trem pertama Korea yang benar-benar beroperasi pada tahun 1899. Konon, warga Seoul yang pertama kali melihat trem ini terkejut dan berkata "ada monster besi yang berlari di jalanan." Sekarang berdiri diam, tapi kehadirannya sudah cukup mengisi ruang.

大安門 (Daeanmun). Ini nama lama dari Gerbang Daehanmun yang masih berdiri sampai sekarang di Istana Deoksugung, Seoul. Aksara Cina terlihat jelas di papan nama gerbang kayu besar ini, dan tepat di sebelahnya, bangunan bata merah berselimut ivy dan trem Hanseong berdiri berdampingan. Hanok, arsitektur Barat, dan trem dalam satu frame — itu pemandangan yang cuma bisa dilihat di set syuting ini.
Deretan toko Jongno — serunya jalan-jalan di jalan era Pencerahan

Seorang pengunjung berdiri di depan pilar bangunan bata merah. Di atasnya, papan nama aksara Cina berjejer rapat, dan dari dekat, tekstur pilar serta detail jendela lengkungnya makin terlihat halus. Di ruang kayak gini, cuma berdiri aja sudah otomatis jadi foto. Sedikit perhatiin pakaian, background-nya yang urus sisanya.

洋服裁縫店 — toko jahit pakaian Barat. Di bawah papan nama aksara Cina, pintu geser kayu dan pilar atap berjejer membentuk gang pertokoan yang menawan. Bisa kebayang kalangan elit era Pencerahan datang ke sini untuk membuat jas Barat pertama mereka. Cuma berdiri bengong di depan pintu ini aja sudah jadi satu adegan tersendiri.

Sambil jalan, aku ketemu kereta kuda tua. Cat mengelupas dan kayunya mulai lapuk — dibiarkan apa adanya dimakan waktu. Di awal 1900-an di Hanseong, ini transportasi yang benar-benar dipakai kalangan atas. Sebelum trem ada, kereta kuda adalah alat transportasi paling cepat. Ini jejak dari era itu.

Dilihat dari dekat, detailnya luar biasa. Serat kayu pada roda, ukiran di pintu, tirai tua yang terlihat dari dalam. Dengan level detail segini, ini bukan lagi properti set — hampir kayak artefak asli. Foto sama kereta kuda ini wajib hukumnya kalau ke Sunshine Studio, lokasi syuting drama ini.

洋品店 — toko barang Barat. Tanaman ivy merambat melewati dinding genteng tradisional dan setengah menutupi papan namanya. Tulisan "SUNSHINE SALON" dalam bahasa Inggris berdampingan dengan aksara Cina, dan perpaduan ini persis menangkap semangat zaman itu. Foto di depan sini, background-nya yang kerja semua buat kamu.

Jalan batu menuju halaman dalam bangunan bata merah. Pohon-pohon rapi dan taman bunga menghiasi kedua sisi, dan siluet seseorang berjalan sendirian ke dalam secara alami menjadi satu adegan. Tempat yang nggak perlu buru-buru.

Jalan batu yang sama, dari sudut yang lebih dekat. Dinding bangunan dan taman terlihat lebih jelas, dan ada bangku di dekat jendela. Jenis tempat di mana kamu pengen duduk sebentar dan melamun.
Sewa kostum — transformasi ke era Pencerahan dimulai di sini

Ini ruang sewa kostum di dalam toko barang Barat. Cermin ukir berlapis emas, lampu bohlam bulat, kursi beludru oranye — vibes ruang ganti aktor banget. Pakai kostum dan duduk di depan cermin, beneran merasa kayak aktor yang lagi persiapan syuting.

Ini aula sewa kostum dua lantai. Tangga kayu masif yang menjulang sampai langit-langit, chandelier, manekin berbalut kimono, hanbok (pakaian tradisional Korea), dan gaun era Pencerahan — semuanya terlihat sekaligus. Lantai 1 dan 2 sama-sama penuh dengan kostum sewaan. Apapun gaya yang kamu pilih, ruang ini sendiri yang jadi background-mu.

Ada papan informasi sewa di samping manekin berjas ala tahun 1900-an. Di satu sisi tergantung gaun-gaun warna-warni dan hanbok, dan kamu bisa mencobanya langsung di depan cermin besar. Durasi sewa 2 jam. Nggak perlu outfit yang sempurna — di ruangan ini, apapun jadi cocok.

Dongak ke atas dan kamu bakal lihat langit-langit rangka kayu ekspos dengan chandelier. Nuansa gudang tua yang direnovasi, dibiarkan apa adanya. Lantai 1 penuh kostum, lantai 2 lebih banyak lagi. Langit-langitnya saja sudah bikin tempat ini terasa kayak set film.

Seorang pengunjung menunjuk sesuatu di depan rak sepatu dan aksesori. Kamu juga bisa sewa topi, tas, dan sepatu. Bukan cuma soal baju — kamu bisa melengkapi tampilan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Udah jauh-jauh datang, masa mau setengah-setengah transformasinya?
Jalan di mana tiga budaya bersatu — wajah asli Hanseong tahun 1900-an

Berdiri di tengah jalan lebar tepat di atas rel trem, dan ini yang kamu lihat. Di kiri warung Jepang, di kanan atap hanok Korea. Di depan lampu jalan antik. Satu jalan ini menyimpan seluruh era. Hanseong tahun 1900-an persis seperti ini. Jepang, Barat, Korea, semuanya berdampingan dalam satu blok — era yang kacau dan kompleks.

Bangunan kayu Jepang tiga lantai berdiri tepat di samping tumpukan onggi — guci tembikar tradisional Korea yang dipakai untuk memfermentasi doenjang (pasta kedelai) dan kecap. Kayaknya aneh, tapi ternyata nggak sama sekali. Justru ini pemandangan nyata zaman itu. Guci fermentasi Korea di depan bangunan Jepang — itulah keseharian era itu. Set-nya merekonstruksi ini dengan jujur.

Di antara celah gerbang kayu yang besar, halaman hanok terlihat. Pemandangan dari balik gerbang ini terbingkai persis seperti foto dalam pigura. Satu siluet dari belakang saja sudah jadi foto yang lengkap. Inilah kenapa nggak perlu repot cari spot foto di Sunshine Studio. Berdiri di mana saja, background-nya yang urus semuanya.
Interior hanok dan pohon maple — ruang Joseon yang masih hidup

Ini interior hanok tradisional Korea. Atap genteng dengan cucurannya, jangji-mun (pintu geser dari hanji, kertas tradisional Korea), kayu bakar bertumpuk di bawah lantai. Kalau kamu mulai merasa bangunan Jepangnya banyak banget, di ruangan ini keseimbangannya kembali. Sunshine Studio bukan cuma soal estetika Jepang. Arsitektur dan ruang hidup khas era Joseon Korea berdiri kokoh di sini. Dua hal ini hidup berdampingan di tempat yang sama — itulah sejarah era itu sendiri.

Di balik dinding, pohon-pohon maple hijau dan merah meledak warnanya. Ivy merambat di dinding genteng, dan tangga batu menanjak ke atas. Pemandangan ini pasti berubah total setiap musim. Hijau muda di musim semi, hijau pekat di musim panas, dan di musim gugur, maple merah itu pasti membara lebih dahsyat.

Panorama dari atas jalan hanok. Di kejauhan terlihat kubah menara jam Hanseong Electric Company, pohon willow menjuntai di kanan, dan jalan batu berliku ke bawah. Dari sini, kamu benar-benar merasakannya. Ruang ini bukan cuma bernuansa Jepang. Bukan juga cuma bernuansa Korea. Keduanya bercampur menjadi jalanan Hanseong di era itu. Itulah pesona sesungguhnya dari lokasi syuting drama di Sunshine Studio.
Cara ke Sunshine Studio dari Seoul
Dari Seoul
Dari Seoul ke Sunshine Studio
🅰️ KTX + Taksi — Paling cepat
Stasiun Yongsan → Stasiun Nonsan (KTX, ~1 jam 30–40 menit)
💰 Sekali jalan ~Rp170.000–315.000 (tergantung kelas kursi)
Stasiun Nonsan → Sunshine Studio (Taksi, ~20–25 menit)
💰 ~Rp160.000–170.000
⏱️ Total waktu ~2 jam · Total biaya ~Rp350.000–460.000
🅱️ KTX + Bus kota — Paling murah
Keluar Stasiun Nonsan → Halte bus di seberang jalan
🚌 Bus 201, 205, 211, 212, 216, atau 221
📍 Turun di halte "Pusat Penerimaan Pelatihan Militer" → Jalan kaki ~15 menit
💰 Ongkos bus ~Rp18.000
⚠️ Interval bus 30 menit sampai 1 jam.
Kalau waktu terbatas, mending naik taksi.
🅲 Bus antarkota — Tanpa transit
Terminal Bus Ekspres Seoul (jalur metro 7) → Terminal Yeonmudae
⏱️ ~2 jam · 💰 ~Rp115.000–125.000
Terminal Yeonmudae → Sunshine Studio (bus atau taksi)
💡 Opsi paling murah, tapi paling lama.
📍 Alamat Sunshine Studio: 90 Bonghwang-ro, Yeonmu-eup, Nonsan-si, Chungcheongnam-do (sekitar 2 jam ke selatan dari Seoul)
Cara ke Sunshine Studio dari Busan
Dari Busan
Dari Busan ke Sunshine Studio
⚠️ Tidak ada KTX langsung Busan → Nonsan
Harus transit. Pilih salah satu dari dua opsi di bawah sesuai situasimu.
🅰️ Via Stasiun Daejeon — Paling cepat tapi transit rumit
Stasiun Busan → Stasiun Daejeon (KTX jalur Gyeongbu, ~1 jam 20 menit)
💰 ~Rp390.000
Stasiun Daejeon → Harus pindah ke Stasiun Seodaejeon
🚕 Taksi ~10–15 menit · ~Rp100.000–125.000
🚌 Bus ~25 menit
Stasiun Seodaejeon → Stasiun Nonsan (KTX/Mugunghwa jalur Honam, ~20–30 menit)
⏱️ Total waktu ~2,5–3 jam (termasuk waktu tunggu transit)
🚨 Perhatian: Stasiun Daejeon (jalur Gyeongbu) dan Stasiun Seodaejeon (jalur Honam) adalah dua stasiun yang benar-benar berbeda. Jaraknya sekitar 3 km — nggak bisa jalan kaki. Saat jam pulang kerja (17.00–19.00), macet di jalan utama bisa bikin perjalanan taksi lebih dari 20 menit. Siapkan minimal 40 menit sampai 1 jam untuk transit.
🅱️ Via Sintanjin — Transit tanpa stres
Stasiun Busan → Stasiun Sintanjin (kereta Mugunghwa)
💰 ~Rp215.000
Stasiun Sintanjin → Stasiun Nonsan (transit Mugunghwa)
💰 ~Rp45.000
✅ Nggak perlu pindah antara Daejeon dan Seodaejeon
❌ Total waktu lebih lama (~3,5–4 jam)
💡 Kalau kenyamanan transit lebih penting dari kecepatan, pilih opsi ini.
Stasiun Nonsan → Sunshine Studio: Taksi 20 menit (~Rp160.000) atau bus kota 30 menit (~Rp18.000)
Tempat wisata terdekat yang bisa dikombinasikan
Sunshine Studio + ke mana lagi?
Atraksi Terdekat & Ide Day Trip
Jujur, datang jauh-jauh cuma buat Sunshine Studio terus pulang itu sayang banget.
Nonsan bukan kota wisata, jadi harus dikombinasikan sama tempat sekitar biar harinya padat.
📍 Terdekat — 20–30 menit berkendara
Pasar Ganggyeong Jeotgal
🚗 ~20 menit · Salah satu dari 3 pasar seafood fermentasi terbesar di Korea
Cocok banget buat makan siang atau makan malam di perjalanan.
Ada juga warung mie seafood enak di dekat sana.
Jembatan Gantung Tapjeongho
🚗 ~15 menit · Spot foto paling ikonik di Nonsan
Panorama danau yang ciamik dari atas jembatan.
Donam Seowon
🚗 ~20 menit · Situs Warisan Dunia UNESCO
Akademi Konfusius era Joseon. Cocok buat jalan santai yang tenang.
📍 Jarak menengah — 30–50 menit berkendara
Buyeo — Ibu kota terakhir Kerajaan Baekje
🚗 ~30–40 menit
Kompleks Budaya Baekje (tiket masuk ~Rp69.000 · kunjungan ~2 jam)
Benteng Busosanseong · Kolam Gungnamji · Pagoda 5 Tingkat Jeongnimsa
Kalau tertarik sejarah Korea kuno, wajib dikunjungi buat setengah hari.
Gongju — Ibu kota kedua Baekje
🚗 ~40–50 menit
Benteng Gongsanseong (tiket masuk ~Rp35.000 · jalan-jalan ~1–1,5 jam)
Makam Raja Muryeong · Museum Nasional Gongju
Kombinasikan sama Buyeo buat itinerary 2 hari 1 malam yang sempurna.
📍 Agak jauh — 50 menit sampai 1 jam berkendara
Desa Hanok Jeonju
🚗 ~50 menit sampai 1 jam
Foto pakai hanbok · bibimbap · choco pie · makgeolli (minuman beras)
Setengah hari habis nggak kerasa di sini.
⚠️ Nggak deket. Kalau mau Sunshine Studio + Jeonju dalam satu hari, harus berangkat pagi-pagi banget. Jujur memang mepet, tapi bukan nggak mungkin.
💡 Kombinasi rekomendasi: Pagi di Sunshine Studio → Siang di Pasar Ganggyeong → Sore di Buyeo atau Gongju
Pertanyaan yang sering ditanyakan (FAQ)
Pertanyaan Umum
FAQ
Q. Berapa lama waktu kunjungannya?
Tanpa sewa kostum, sekitar 1 sampai 1,5 jam sudah cukup. Kalau sewa kostum juga, siapkan 2 sampai 2,5 jam. Kalau kamu tipe yang banyak foto, 3 jam juga nggak masalah.
Q. Belum nonton Mr. Sunshine, tetap bisa enjoy?
Bisa banget. Kalau sudah nonton, ada serunya kenali adegan — "oh, INI tempat adegan itu!" Tapi walau belum nonton, pengalaman jalan-jalan di jalanan Korea tahun 1900-an rekonstruksi itu sendiri cukup unik. Kalau suka fotografi, dijamin puas walau nggak kenal dramanya.
Q. Sewa kostum wajib nggak?
Nggak wajib, tapi pengalamannya benar-benar beda kalau sewa. Kostum era Pencerahan ini hampir nggak bisa disewa di tempat wisata lain, jadi nilainya langka. Tarif 2 jam untuk kostum + aksesori sekitar Rp370.000. Pilihan baju wanita banyak, tapi baju pria agak terbatas.
Q. Boleh bawa hewan peliharaan?
Tidak boleh. Bahkan di dalam kandang atau tas pun tidak diperbolehkan.
Q. Bisa bawa stroller?
Boleh masuk, tapi nggak direkomendasikan. Banyak bagian jalan batu dan ada tangga di beberapa tempat, jadi stroller susah digerakkan. Lebih baik pakai gendongan atau gendong anak langsung.
Q. Parkir paling bagus di mana?
Ada beberapa area parkir, tapi Parkir 2 atau Parkir 3 paling dekat dengan loket tiket. Parkir 1, meski namanya nomor satu, justru paling jauh dari pintu masuk. Parkirnya gratis.
Q. Datang musim panas atau musim dingin oke nggak?
Musim semi (April–Mei) dan musim gugur (September–Oktober) yang paling ideal. Musim panas, teduhnya sedikit dan panas dari jalan batu naik ke atas — lumayan menyiksa. Payung, air minum, dan sunscreen wajib. Musim dingin, karena ini set outdoor, anginnya menusuk. Disarankan istirahat di ruangan indoor (kafe Glory Hotel, toko kostum, dll.) secara berkala selama kunjungan.
Q. Sunshine Land dan Sunshine Studio itu sama?
Sunshine Land adalah nama keseluruhan kompleks. Di dalamnya ada Sunshine Studio (berbayar), 1950 Studio (gratis), pusat pengalaman militer, dan lain-lain. Lokasi syuting Mr. Sunshine ada di area Sunshine Studio, dan itu satu-satunya bagian yang berbayar (~Rp115.000 untuk dewasa). 1950 Studio bisa dikunjungi gratis.
Q. Ada kafe atau restoran di dalam?
Ada kafe di lantai 2 Glory Hotel (namanya Sunshine Gabaejeong). Jual minuman dasar seperti americano dan latte. Nggak ada restoran untuk makan di dalam. Boleh bawa snack atau bekal, tapi nggak boleh masak. Disarankan makan siang dulu sebelum masuk.
Q. Ada guide atau petunjuk bahasa Inggris/Indonesia?
Nggak ada tur guide dalam bahasa asing. Beberapa papan penunjuk ada tulisan bahasa Inggrisnya, tapi kebanyakan dalam bahasa Korea. Kalau kamu turis asing yang nggak kenal dramanya, baca ringkasan singkat cerita Mr. Sunshine sebelum datang akan bikin pengalamannya jauh lebih seru.
Artikel ini pertama kali dipublikasikan di https://hi-jsb.blog.