Kafe Estetik Korea Bikin Melongo! Antre 20 Menit di Zatura Gimpo yang Viral
"Ini Beneran di Korea? Visual Legendaris yang Bikin Mulut Menganga"
Halo semuanya! Ini Hi-JSB.
Kalian pasti kaget kan, tiba-tiba dikasih foto langsung tanpa basa-basi? Foto yang sedang kalian lihat ini, bukankah mirip lobi resort mewah di luar negeri atau set film fiksi ilmiah? Batang-batang kayu raksasa yang memenuhi langit-langit, dan lengkungan yang bertumpuk-tumpuk seperti gua... Saya juga pertama kali lihat foto ini langsung berpikir "Wah, tempat ini wajib dikunjungi" dan langsung save di peta.
Terpesona dengan atmosfer yang luar biasa ini, saya rela meluangkan waktu akhir pekan yang berharga dan menyetir dari Seoul.
"40 Menit dari Seoul... Masa Aku Jauh-jauh ke Gimpo Cuma buat Ini?"
Tapi... begitu navigasi bilang "Anda telah tiba di tujuan" dan saya mendongak, yang ada di depan mata adalah bangunan seperti ini.
Hmm... jujur saja ya. "Apa aku baru saja kena tipu?"
Saya sudah menyetir 40 menit (sekitar 30 km) dari Seoul, melewati jalan pedesaan yang cukup terpencil di Wolgot-myeon, Gimpo. Tapi yang saya temui hanyalah bangunan bata merah yang biasa dan rapi. Tampak luar seperti kafe besar yang ada di setiap daerah, jadi kepala saya langsung dipenuhi sejuta tanda tanya.
'Lho, tempat yang di foto tadi ke mana?' 'Jangan-jangan aku tertipu foto bagus dan akhir pekanku terbuang sia-sia?'
Keraguan dan kecemasan mulai merayap. Saya serius mempertimbangkan untuk putar balik.
"Immerse in relaxation... Oke, Coba Percaya Dulu"
Tapi sudah sampai sini, masa mau pulang begitu saja. Saat mendekati pintu masuk, terlihat papan nama 'ZATURA' bertuliskan emas pada logam hitam yang kokoh.
"Immerse in relaxation (Tenggelam dalam relaksasi)"
Cahaya lembut merembes melalui pola kisi-kisi, dan entah kenapa terasa mewah. Dengan harapan terakhir bahwa ada dunia lain di balik pintu ini, saya pun membukanya.
Tapi... begitu pintu terbuka, saya kena mental breakdown kedua.
"Di pedesaan terpencil begini orangnya sebanyak ini?"
Mungkin karena hari Sabtu? Entah bagaimana semua orang tahu tempat tersembunyi ini, dari pintu masuk sudah ramai sekali. Di depan saya ada 20-25 kelompok yang sedang antre.
Otak saya langsung menghitung dengan cepat. ❌ Menyerah: Menyetir balik 40 menit ke Seoul. (Buang waktu 1 jam 20 menit pulang-pergi. Sayang banget) ⭕ Menunggu: Melihat jumlah antrean, harus siap menunggu minimal 1 jam. (Membosankan)
Saya sudah pasrah 'Ah, gagal deh' sambil mondar-mandir gelisah, tapi di sini ada plot twist lagi. Karena orangnya banyak, tempatnya juga sangat luas, jadi antreannya berkurang lebih cepat dari yang dikira! Waktu tunggu yang saya kira 1 jam ternyata hanya 20 menit!
Sistem Pemesanan: Digital-Friendly dan Efisien
Karena terlalu ramai, fungsi kiosk praktis berhenti dan harus pesan dulu lewat HP dengan scan QR. Tapi kami tetap mencoba kiosk-nya. Harus kasih info kan.
Begitu menyentuh layar, langsung muncul tulisan besar [Kiosk ini hanya bisa memesan minuman]. Awalnya bingung "Lho? Roti pesannya di mana?" tapi setelah dibaca, tertulis "Untuk makanan dan bakery, silakan gunakan kiosk dalam atau QR meja setelah masuk".
Wah... ini cerdas banget. Hari weekend orangnya membludak, kalau pada milih-milih roti di kiosk pintu masuk, antrean di belakang bakal panjang tak berujung kan? Di sini sistem-nya masuk dulu, lalu pesan roti dan makanan dengan nyaman lewat QR di meja. Berkat itu, meski banyak orang, pintu masuk tidak macet. (Strategi jenius untuk mencegah kekacauan kafe besar di akhir pekan!)
"Harga Minuman Bikin Mulut Menganga"
Kagumnya sebentar, begitu mau serius pilih menu... tanpa sadar saya bergumam "Hah".
Semuanya, siapkan mental. Harga di sini mengalir berbeda dari dunia luar. Coba lihat harga di menu.
Zatura Latte (Signature): ₩11.000 (sekitar Rp135.000 / $7,90 USD) / Black Sesame Latte: ₩11.000 (sekitar Rp135.000 / $7,90 USD) / Es Americano: ₩9.000 (sekitar Rp110.000 / $6,50 USD)
Lihat kan? Americano-nya ₩9.000. Hampir dua kali lipat Starbucks, dibanding kafe biasa lebih mahal 3-4 ribu won. Bahkan untuk minum satu gelas signature latte harus bayar ₩11.000. Harganya setara dengan semangkuk besar sup daging tradisional Korea yang mengenyangkan.
Jari yang mau menekan tombol pesan agak gemetar... tapi 'Ya sudahlah, anggap saja biaya menikmati interior megah dan biaya masuk ruangan' begitu saya meyakinkan diri sendiri.
Dukungan Multi-Bahasa Standar Global
Fact Check dari Blogger Global: "Bisa bawa teman asing ke sini nggak ya?"
Meski tangan gemetar karena harga mahal, ada satu hal yang selalu saya cek sebelum bayar. Pembaca blog saya pasti tahu kan? Saya ini orang yang 'serius soal multi-bahasa'. Harus verifikasi apakah tempat ini bisa direkomendasikan untuk teman asing yang berkunjung ke Korea.
Saya menekan tombol pengaturan bahasa di bagian atas kiosk. Korea, English, 日本語 (Jepang), 中文 (Mandarin). Oho, lolos! Empat bahasa dari negara-negara dengan turis terbanyak ke Korea sudah tersedia lengkap.
Tapi jangan lengah. Banyak tempat yang tombol 'English' ditekan tapi deskripsi menu tetap bahasa Korea... yang disebut 'terjemahan kulit saja'. Bagaimana dengan Zatura?
Saya coba ganti ke menu bahasa Inggris. Hasilnya? "Oh... lumayan bagus?"
Bukan sekadar menulis pengucapan dalam alfabet. Black Sesame Latte tidak ditulis 'Heukimja Latte' tapi diterjemahkan dengan tepat menjadi 'Black Sesame Latte' yang mudah dipahami orang asing. Nama seperti 'Rose Bloom Latte' juga estetikanya terjaga. Interface-nya juga berubah rapi sehingga orang asing tidak akan kesulitan memesan.
Detail seperti ini, sangat saya apresiasi. Berkat kiosk berstandar global, kalau bawa teman asing yang tidak bisa bahasa Korea, bisa dengan santai bilang "Pesan sendiri aja!"
Ta.pi. Di sini ada kontradiksi fatal.
"Software (bahasa) sempurna, tapi hardware (aksesibilitas) bermasalah..."
Tadi sudah saya bilang kan? Pedesaan terpencil yang perlu 40 menit menyetir dari Seoul. Subway? Tidak ada. Bus? Kalau mikirin interval kedatangannya, mau nangis. Kiosk-nya teriak "Welcome!" tapi turis asing datang ke sini dengan transportasi umum itu seperti memetik bintang di langit.
Jadi kesimpulan dinginnya begini. Tempat ini hanya untuk 'turis asing yang sewa mobil' atau 'turis asing yang berhasil merekrut teman Korea yang punya mobil (budak)'. Kalau ada pembaca asing yang sedang membaca ini, langsung kirim pesan ke teman Korea sekarang.
"Hey, do you have a car? Let's go to Gimpo!"
"Memasuki Gerbang Dimensi Lain"
Akhirnya setelah menunggu 20 menit, notifikasi 'Silakan masuk' berbunyi. Dengan hati berdebar melewati pintu masuk... eh? Saya kira begitu buka pintu langsung ada meja-meja ramai, tapi ternyata bukan.
Seketika saya tidak percaya mata sendiri. Ini koridor kafe katanya? Ini bukannya 'gerbang dimensi lain' dari film fiksi ilmiah?!
Terowongan panjang di mana ribuan bilah kayu berputar seakan tersedot masuk... begitu melangkah, pemandangan pedesaan Gimpo yang tadi langsung terhapus dari kepala. Rasanya seperti dipaksa teleportasi ke tengah-tengah pameran seni kontemporer yang dreamlike.
"Menyetir 2 Jam demi Ini? Ya, Saya Akui"
Begitu melewati terowongan dan hall utama terbentang di depan mata, pikiran yang melintas di kepala saya hanya satu.
"Wah... untung datang. Beneran untung datang."
Sebenarnya saya berangkat dari Deungchon-dong di ujung barat Seoul, jadi masih bisa 40 menit. Beruntung. Kalau dari Gangnam minimal 1 jam 30 menit, kalau dari Gangdong harus memegang setir minimal 2 jam 10 menit.
Jujur, pergi ke satu kafe saja habis 3-4 jam pulang pergi? Biasanya saya pasti bilang ini gila, sayang bensin. Tiba-tiba kecewa melihat tampilan bata merah, ditambah harus antre 20 menit, tingkat ketidakpuasan sudah sampai ubun-ubun.
Tapi begini. Begitu melihat pemandangan ini, semua ketidakpuasan itu lumer seperti salju.
Minuman mahal yang dipesan belum keluar. Bahkan belum dapat tempat duduk dan masih berdiri. Tapi rasanya tidak rugi.
Skala raksasa yang menutupi langit-langit, pencahayaan yang mengalir turun, dan kemegahan yang diberikan ruangan... ini bukan sekadar datang minum kopi, tapi membayar nilai pengalaman berada di dalam karya seni raksasa.
Menyetir 40 menit? Tidak, bahkan kalau menyetir 2 jam pun tidak akan merasa rugi. Tampilan bata merah? Sudah tidak ingat. Americano ₩9.000? "Ya, silakan. Dengan senang hati."
Di hadapan kesan ruang yang luar biasa ini, semua pikiran kalkulatif yang saya lakukan terasa sangat sepele. Di sini, 'ruang' itu sendiri sudah membayar semua nilainya.
Setiap Zona Berbeda Suasana, Temukan Tempat Duduk yang Cocok
Cukup kagumnya, sekarang ada misi penting yang tersisa. Yaitu 'mencari tempat duduk'. Karena tempatnya sangat luas, setiap zona suasananya benar-benar berbeda, jadi di mana duduk akan mengubah pengalaman kafe secara total.
Yang pertama saya tunjukkan adalah zona samping yang sedikit keluar dari hall utama. Jujur saja... bagi yang datang mengharapkan 'vibes gua' yang luar biasa dari hall utama, mungkin akan terasa agak biasa.
Meja putih yang bersih dan kursi rotan. Cantik sih, tapi mungkin akan berpikir "Di sini bukannya cuma kafe cantik biasa?" Makanya memang zona ini lebih banyak kursi kosong dibanding hall utama.
Tapi ada plot twist. Bagi yang ingin menghindari kebisingan hall utama yang ramai dan ingin ngobrol dengan tenang, atau yang bilang "Aku lebih suka yang bersih dan terang daripada megah!" justru di sini bisa jadi spot tersembunyi yang bagus. Foto juga keluar cerah dan cantik. (Saya akhirnya ke sini karena tidak dapat tempat di hall utama...)
Highlight yang Ditunggu: Kursi VIP Melayang di Udara
Dan... highlight yang ditunggu-tunggu. Mungkin semua orang yang masuk Zatura pernah mendongak melihat tempat itu sekali.
"Ada orang di atas sana? Itu pesawat luar angkasa?"
Seperti telur putih raksasa, atau taman melayang kota masa depan... menakjubkannya, semua yang di atas itu adalah tempat duduk.
View dari lantai 1 melihat ke atas sudah keren, tapi view duduk di atas sana melihat ke bawah pasti luar biasa kan? Rasanya seperti duduk di ruang kapten yang memimpin dunia fantasi raksasa ini. Karena ruangan terpisah, juga privat.
Oke, mari kita kembali ke hall utama.
Kafe biasa meja-mejanya tersusun rapat seperti papan catur, tapi di sini lantainya mengalir bertingkat seperti ombak. Mengikuti aliran itu, orang-orang membenamkan diri di bean bag atau duduk di kursi bertingkat.
Bayangan yang dibuat ribuan bilah kayu dari langit-langit dan lantai putih dengan lengkungan lembut berpadu... benar-benar unik. Meskipun ramai penuh orang, anehnya hati terasa tenang? Seperti ilusi berada di alam bebas yang luas.
Semua orang seperti janjian setengah berbaring menatap langit-langit dengan kosong, ekspresi mereka seakan berkata "Ah, hidup lagi..." (Saya juga perang mata-mataan sengit untuk mendapat satu tempat bean bag.)
Rumah Pohon untuk Orang Dewasa, Sarang Melayang
Dan kalau mendongak ke atas, terbentang dunia lain lagi. Selain tempat duduk 'pesawat luar angkasa' tadi, terlihat kursi-kursi seperti sarang yang melayang di sepanjang dinding kan?
Ruangan seperti keranjang yang dianyam dari kayu... rasanya seperti rumah pohon rahasia impian masa kecil yang menjadi kenyataan.
Kalau lantai 1 terasa terbuka dan megah, kursi sarang lantai 2 benar-benar 'markas rahasia kita'. Tertutup cukup sehingga bagus untuk ngobrol privat, dan yang paling penting, rasa kopi yang diminum sambil melihat ke bawah dari ketinggian itu pasti luar biasa.
"Orang-orang yang duduk di sana... di kehidupan sebelumnya menyelamatkan negara ya?"
Iri sampai perut agak sakit... tapi saya akan zoom untuk menunjukkan lebih detail. Kalau lihat foto 17, kursi ini bukan sekadar meniru bentuk saja.
Lihat detail kokoh dari tali tebal yang dililit rapat? Kalau bersandar dan duduk dengan nyaman, dinding tali itu akan menyaring pandangan dan suara sekitar dengan pas. Benar-benar 'penghalang sempurna' yang terbentuk.
Melihat orang-orang yang masuk ke dalam sana dan ngobrol dengan nyaman... jujur harus mengakui. "Pemenang hari ini adalah mereka."
"Minuman ₩11.000, Rasa dan Nilainya"
Ya, akhirnya saatnya melihat proses naik ke kursi idaman itu dan menyambut 'minuman ₩11.000' yang legendaris.
Oke, jangan cuma lihat, saya juga harus naik. Dilihat dari dekat, kursi sarang itu jauh lebih nyaman dari yang dibayangkan. Di tangga naik juga ada pencahayaan lembut, rasanya seperti naik ke panggung penghargaan.
Dan... akhirnya berhasil duduk! Ini view dari tempat saya duduk, bagaimana? Perasaan terbuka seperti melihat ke bawah kerajaan hutan raksasa! Menyetir 40 menit dan menunggu 20 menit terasa worth it di sini.
Inilah minuman-minuman yang membanggakan harga fantastis ₩11.000 (sekitar Rp135.000 / $7,90 USD) per gelas.
Tapi... kalau lihat foto 21, jujur saya akui. Foto tidak bisa menangkap aslinya.
Karena suasana di sini secara keseluruhan nyaman seperti gua dan pencahayaannya rendah, dilihat dengan mata suasananya juara tapi untuk foto makanan pencahayaannya paling buruk. (Terdengar suara tangisan para Instagrammer...) Mau diatur sudut bagaimanapun tetap ada bayangan dan keluar gelap, sedih rasanya. Padahal mau foto cantik untuk pamer!
Tapi rasanya? Begitu menyeruput sedikit... "Hmm, oke." Krim di atasnya memang berbeda. Kental dan gurih, bukan rasa sirup murahan. Black Sesame Latte benar-benar pas untuk yang suka rasa tradisional (di Korea, wijen hitam adalah bahan tradisional yang disukai generasi tua), signature latte juga berat dan enak.
Harga ₩9.000-₩11.000... kalau lihat jumlah atau visual minuman saja mungkin masih terasa mahal. Tapi kalau dianggap 'biaya tempat duduk' untuk duduk di sini dan melihat view ini? Rasa yang membuat mau bayar dengan senang hati.
(Kalau ada yang penasaran dengan visual 'life shot' minuman yang cantik dan cerah, silakan cek bagian [Info Detail Kafe] di bawah! Sudah dikumpulkan foto-foto dengan pencahayaan yang bagus.)
"Taman Hiburan untuk Orang Dewasa, Zona Arcade"
Semuanya, percaya tidak? Ini gedung yang sama dengan kafe yang tadi seperti hutan. Begitu melewati hall utama ke ruang lain, tiba-tiba suasananya berubah 180 derajat. Nuansa kayu yang tenang hilang entah ke mana, muncul 'Zona Arcade' hip dengan dinding merah dan neon sign berkilauan.
Seperti tulisan "GOOD VIBES ONLY" yang besar di dinding, di sini benar-benar playground untuk orang dewasa yang menaikkan mood.
Duckpin Bowling: Ada lane bowling mini yang lucu, pas untuk main santai. / Pool & Foosball: Kalau datang sama teman, di sini tempat yang pas untuk taruhan "Yang kalah bayar kopi ₩11.000 hari ini". / Mesin Game Retro: Ada juga mesin game nostalgia, jadi bisa melihat pemandangan unik di mana para ayah lebih excited daripada anak-anak.
Datang untuk 'relaksasi' tapi pulang dengan 'dopamin' penuh. Sampai segini, bukan sekadar kafe biasa tapi harus disebut taman hiburan untuk orang dewasa.
Kesimpulan: Nilai dari Pengalaman yang Luar Biasa
Waktu menyetir pulang pergi dan harga kopi yang agak sadis (?) sama sekali tidak terasa rugi, benar-benar pengalaman yang luar biasa. Kalau sudah bosan dengan cafe date yang sama setiap hari, bagaimana kalau akhir pekan ini pergi ke Zatura Gimpo? Dijamin tidak akan menyesal.
(Info parkir detail, harga menu lengkap, dan tips untuk foto terbaik sudah dirangkum rapi di 'Info Detail Kafe' di bawah, jadi pastikan cek sebelum pergi!)
Artikel ini dipublikasikan dari https://hi-jsb.blog