Kerang Kukus Korea — Gurita Hidup dan Scallop Segar Satu Panci
Yang pertama keluar cuma satu panci

Selama ini aku sudah beberapa kali membahas makanan yang wajib dicoba kalau ke Korea, dan topik seafood sendiri sudah muncul berkali-kali. Tapi lucunya, kerang kukus atau jjogaejjim belum pernah aku bahas sama sekali. Padahal kalau ngomongin seafood Korea, kerang kukus itu nggak bisa dilewatkan begitu saja.
Ke depannya konten seafood akan terus ada, dan setiap kali dari tempat yang berbeda. Kenapa sih harus makan kerang kukus di Korea? Jujur, kalau cuma dijelaskan pakai kata-kata, nggak akan cukup. Begitu lihat fotonya, pasti langsung ngiler. Jadi scroll aja ke bawah deh.
Yang pertama keluar itu satu panci besar ini. Belum mulai mendidih tapi uapnya sudah naik tipis-tipis, makanya fotonya sedikit berkabut. Scallop, kerang raksasa (kijogae), kerang-kerang lain, jamur enoki, bok choy, sampai cabai — semuanya menumpuk penuh dan visual-nya saja sudah bikin excited.
Nah, yang penting di sini: semua kerang ini dalam keadaan hidup. Bukan frozen. Makanya kualitasnya beda jauh. Kerang kukus itu segalanya soal kesegaran. Kerang beku sama kerang hidup itu rasanya beda banget. Sekali coba, langsung tahu bedanya.
Ini enaknya Korea. Bahkan di daerah pedalaman yang jauh dari laut pun, seafood segar kayak gini gampang banget ditemukan. Kalau sudah sampai di Korea, kerang kukus segar ini wajib dicoba minimal sekali.

Begitu ditaruh di atas api dan mulai mendidih, kerang-kerangnya kayak menari-nari di dalam panci. Karena dimasukkan dalam keadaan hidup, pemandangan ini bikin sedikit nggak enak hati sih. Tapi justru itu bukti kesegarannya. Mengukus kerang yang masih hidup langsung — itulah inti dari kerang kukus Korea.
Apa saja isi panci ini?
| Scallop | Manis dan kenyal, bintang visual dalam panci |
| Gurita | Dimasukkan hidup-hidup, teksturnya kenyal sempurna |
| Kerang raksasa (kijogae) | Ukuran terbesar di panci, bagian adductor-nya yang jadi bintang utama |
| Berbagai jenis kerang | Pemain utama yang bertanggung jawab atas rasa dasar kuah |
| Bok choy · Jamur enoki · Cabai | Menghilangkan bau amis dan menyeimbangkan rasa kuah |
Kalau tahu jenis kerangnya, makan jadi lebih nikmat
Scallop — bintang pertama dalam panci

Ini yang paling pertama mencuri perhatian di panci kerang kukus. Cangkangnya yang berbentuk kipas punya kehadiran tersendiri yang khas. Dagingnya manis dan kenyal, dan secara pribadi ini selalu kerang yang pertama kali aku ambil.
Tampilan keseluruhan panci — begini kalau dilihat dari atas

Foto ini yang paling jujur. Kalau mengintip isi panci dari atas, beginilah tampilannya. Scallop, kerang raksasa, kerang-kerang kecil bertumpuk berlapis-lapis, dan di sela-selanya terisi sayuran. Belum mendidih jadi semuanya masih tenang, tapi begitu apinya menyala, isi panci ini akan berubah total. Ini kayak foto ketenangan terakhir sebelum semuanya bergolak.
Kerang raksasa (kijogae) — si besar yang mendominasi panci kerang kukus

Yang paling mencolok ukurannya di dalam panci sudah pasti kerang raksasa atau kijogae. Kalau disandingkan dengan kerang lainnya, perbedaan ukurannya langsung terlihat jelas. Kalau sudah dikukus, bagian adductor (otot penutup cangkang) rasanya luar biasa enak. Luarnya sedikit kenyal dan dalamnya lembut, gurih banget.

Aku foto kijogae-nya dari lebih dekat. Kalau dilihat begini, baru kerasa seberapa besar ukurannya ya. Begitu cangkangnya terbuka, sari dagingnya mengalir keluar dan itu yang bikin kuahnya makin lezat. Ini salah satu alasan kenapa wajib banget dicoba kalau ke Korea.
Emang sebeda itu, frozen sama segar?
Ini pertanyaan yang sering banget aku dapat. Jawabannya singkat: beda banget.
Kerang beku kalau dimasak, dagingnya sering menyusut dan jadi alot. Kuahnya juga hambar. Kerang hidup walau sudah dimasak, dagingnya tetap montok dan berisi, kuahnya benar-benar terasa aroma laut yang kuat.
Di Korea, bahkan restoran di pedalaman pun banyak yang pakai kerang hidup. Segitulah level kerang kukus Korea.
Gurita hidup naik ke atas panci

Waktu diletakkan di atas panci, tentakelnya masih bergerak-gerak. Beneran masih hidup, jadi soal kesegaran sudah pasti terjamin... tapi jujur, waktu naro-nya itu perasaan bersalah yang duluan muncul. Tapi ya itu artinya segar banget kan. Inilah level kerang kukus Korea. Kalau frozen, nggak mungkin bisa dapat kualitas kayak gini. Ini restoran di daerah pedalaman loh ya, bukan pinggir laut. Kalau segini segarnya di pedalaman, nggak kebayang deh kalau makan di restoran pesisir pantai bakal selevel apa.

Setelah guritanya masuk dan tutupnya dibuka, pemandangan kayak gini yang muncul. Guritanya mulai berubah merah dan warna kuahnya semakin pekat. Ini momen di mana kuah kerang dan sari gurita mulai bercampur. Dari titik ini, nggak bisa lagi beranjak dari depan panci.
Cangkang kerang raksasa jadi mangkuk — selera restoran yang keren

Cangkang kerang raksasa dipakai kayak mangkuk kecil untuk menyajikan gurita dan daging kerang. Detail kecil kayak gini yang justru nempel di ingatan. Cangkang kijogae itu besar banget, lebih luas dari mangkuk kecil biasa. Ditaruh sepotong gurita dan beberapa daging kerang di atasnya — kelihatannya simpel tapi dari sudut pandang yang makan, ini servis yang bikin senang. Momen di mana kerasa banget selera restorannya.
Satu teguk kuah ini, langsung paham
Bintang utama kerang kukus itu sebenarnya kuahnya. Sari dari berbagai jenis kerang ditambah kaldu gurita — rasanya kayak minum lautan.
Tanpa tambahan bumbu pun sudah asin gurih, segar, dan dalam rasanya. Bisa dimakan dengan nasi, atau di akhir tambahkan mie ramen instan atau kalguksu (mie pipih Korea) dan itulah penutup yang sempurna.
Kuah inilah yang bikin kamu bakal balik lagi.
Setelah matang, jadinya kayak gini

Tentakel gurita yang kenyal sempurna dan daging kerang yang montok berisi, semuanya dalam satu foto. Gurita luarnya kenyal dan dalamnya lembut basah. Daging kerangnya walau sudah matang, nggak menyusut dan tetap padat berisi. Dari satu foto ini aja sudah kerasa seberapa segar makanan hari ini.

Ganti sudut dan foto lagi, dari sisi ini ketebalan daging kerangnya lebih kelihatan jelas. Dari foto aja sudah bisa kebayang teksturnya waktu digigit kan? Aku sendiri habis lihat ini langsung ambil satu potong lagi.

Kuahnya mendidih dan sari kerang sama gurita sudah tercampur semuanya di momen ini. Kuah ini sayang banget kalau dibuang. Rasa segar khas kerang ditambah sari gurita bikin kuahnya naik ke level yang beda. Banyak orang yang di akhir menambahkan mie ramen instan atau kalguksu, dan jujur menurutku itulah penutup sesungguhnya dari makanan ini. Aku juga tentu saja melakukan hal yang sama.
Full shot — semuanya dalam satu panci

Seluruh isi panci dalam satu frame. Scallop, kerang raksasa, gurita, berbagai jenis kerang — semuanya sudah matang dan memenuhi panci. Inilah bentuk final kerang kukus yang sempurna. Kalau lihat ini dan bilang nggak ngiler, bohong banget. Begitu mulai makan, tahu-tahu pancinya sudah kosong. Setiap kali selalu begitu.
Cara menikmati kerang kukus yang benar
Chojang itu wajib hukumnya
Angkat kerang dari panci, langsung celup ke chojang (saus cuka pedas manis Korea). Simpel tapi inilah cara yang benar.
Jangan lewatkan adductor kerang raksasa
Yang paling besar dan paling gurih di panci. Kalau telat ambil, keburu habis.
Kuahnya jangan dibuang
Di akhir, tambahkan mie ramen instan atau kalguksu dan makan ini akan naik ke level yang sama sekali beda.
Jangan lewatkan bakso kerangnya juga
Pahlawan tersembunyi yang gampang banget kelewat tanpa disadari.
Scallop harus diangkat duluan
Kalau terlalu matang, dagingnya menyusut. Momen cangkangnya terbuka itulah timing yang pas.
Setiap suapan punya rasa yang beda

Potong sepotong daging gurita yang sudah matang sempurna dan taruh di sendok. Potongan kecil tapi kehadirannya luar biasa. Begitu masuk mulut, tekstur kenyalnya terasa lalu rasa gurihnya menyebar. Bahkan orang yang biasanya nggak suka gurita, kalau makan dalam bentuk kukus kayak gini, banyak yang berubah pikiran.
Bakso kerang — pahlawan tersembunyi kerang kukus

Kalau ini muncul di tengah-tengah makan kerang kukus, rasanya kayak ketemu bonus. Daging kerang yang digiling lalu dibentuk bulat, teksturnya beda banget dari kerang segar. Kenyal tapi aroma kerangnya tetap terjaga, dan kalau dicelupkan sedikit ke kuah, rasanya berlipat ganda. Gampang banget tertutup oleh kerang kukus yang jadi menu utama, tapi justru ini pahlawan tersembunyinya. Banyak orang yang nggak sadar dan melewatkannya, jadi pastikan jangan sampai kelewat ya.
Daging scallop dan chojang — kombinasi penutup yang sempurna

Daging scallop yang sudah dipisahkan dari cangkangnya. Montok dan kenyal — dari tampilannya aja sudah kelihatan enak kan. Scallop itu dagingnya memang sudah manis alami, jadi tanpa dicelup apa-apa pun sudah cukup. Tapi kalau dicelup sedikit ke chojang, rasanya jadi beda lagi.

Tanpa celupan chojang, kerang kukus belum lengkap. Saus asam manis chojang bertemu dengan aroma laut dari kerang — itulah momen di mana hidangan ini benar-benar sempurna. Dalam budaya seafood Korea, chojang bukan sekadar saus biasa. Dia adalah pasangan yang harus ada supaya hidangan ini lengkap. Kalau datang ke Korea tanpa tahu kombinasi ini, rugi banget deh.
Berapa sih harga kerang kukus di Korea?
Terjangkau — Rp 230.000–Rp 350.000 per orang
Ini kategori warung pinggir jalan atau kedai kerang kukus kecil. Isinya kebanyakan kerang kecil seperti bajirak dan mosi, scallop atau kerang raksasa hampir nggak ada atau cuma sedikit banget. Banyak yang mengandalkan rasa kuah, dan kalau soal value for money, sudah cukup oke.
Menengah — Rp 460.000–Rp 700.000 untuk 2 orang
Ini range harga yang paling umum. Scallop mulai masuk, gurita atau udang juga ditambahkan sedikit-sedikit. Untuk yang pertama kali coba kerang kukus, aku rekomendasikan di range harga ini.
Premium — Rp 930.000–Rp 1.200.000+ untuk 2 orang
Di level ini sudah masuk adductor kerang raksasa, gurita hidup, abalone, dan seafood premium lainnya. Yang ditunjukkan di artikel ini ada di level ini. Kalau sudah sampai Korea, coba sekali aja di range harga ini untuk pengalaman yang sesungguhnya. Nggak akan nyesel deh.
Spot pantai terbaik untuk makan kerang kukus — rekomendasi seluruh Korea
Ini bukan rekomendasi restoran ya, tapi rekomendasi lokasi. Kalau ke tempat-tempat ini, restoran kerang kukus berjejer dan makan sambil melihat laut itu sendiri sudah menggandakan kelezatannya. Tapi perlu diingat, karena kawasan wisata, harganya biasanya sedikit lebih mahal dari daerah pedalaman dan porsinya kadang agak kurang.
Pantai Eulwangni (Incheon)
Spot kerang pantai barat yang paling mudah dijangkau dari Seoul dan sekitarnya. Lokasinya tepat di sebelah Bandara Incheon, jadi bisa mampir bahkan di hari terakhir perjalanan. Makan kerang kukus sambil menikmati sunset, di sinilah tempatnya.
Daebudo dan Oido (Gyeonggi)
Cocok banget untuk trip sehari. Daebudo bisa sekalian pengalaman jalan di lumpur pantai, sementara Oido punya deretan restoran kerang bakar yang sudah terkenal.
Pantai Daecheon (Boryeong, Chungnam)
Salah satu pantai terbesar di pesisir barat. Terkenal dengan Boryeong Mud Festival, tapi suasana kerang kukus di pinggir pantainya juga hidup banget.
Anmyeondo dan Pantai Kkotji (Taean, Chungnam)
Spot sunset pesisir barat yang legendaris. Menikmati sepanci kerang kukus sambil memandang matahari terbenam — itulah impian di kawasan ini. Kombinasi kerang dengan udang besar yang terkenal di sini juga nggak boleh dilewatkan.
Chungjangdae, Seocheon (Chungnam)
Pantai yang relatif sepi dan tenang. Daerah ini terkenal dengan kerang bajirak-nya, jadi kualitas kerangnya dijamin tinggi.
Pulau Jebudo (Hwaseong, Gyeonggi)
Pulau yang terkenal karena jalan lautnya yang terbuka dua kali sehari saat air surut. Menyeberang lewat jalan laut lalu makan kerang bakar di sana — pengalaman itu sendiri sudah sangat spesial.
Tongyeong (Gyeongnam)
Ibu kota seafood pesisir selatan. Lebih terkenal dengan tiram, tapi level kerang kukusnya juga tinggi dan kesegarannya benar-benar terasa beda.
Geoje (Gyeongnam)
Banyak yang mengunjunginya bareng Tongyeong sebagai paket trip. Pemandangan lautnya luar biasa dan infrastruktur seafood-nya sudah sangat mapan.
Pulau Dolsan, Yeosu (Jeollanam)
Begitu menyeberangi Jembatan Dolsan, restoran kerang bakar berjejer panjang. Makan kerang kukus sambil memandang laut malam Yeosu — suasananya saja sudah worth the trip.
Gijang dan Songjeong (Busan)
Suasana unik di mana budaya surfing dan budaya kerang bakar hidup berdampingan. Terletak di titik pertemuan laut timur dan selatan, jadi kesegaran seafood-nya juga terjamin.
Kenapa wajib makan ini kalau ke Korea
Nggak nyangka kan, satu panci kerang kukus bisa punya cerita sebanyak ini? Gurita hidup yang naik ke panci, adductor kerang raksasa yang matang kenyal sempurna, kuah yang mendidih menggoda — semua momen itu berkumpul menjadi satu hidangan yang utuh. Alasan kenapa wajib makan kerang kukus kalau ke Korea, semuanya sudah ditunjukkan lewat foto. Sekarang tinggal kamu yang datang dan merasakan sendiri.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Bisa pesan kerang kukus untuk 1 orang?
Kebanyakan restoran minimal pesan untuk 2 orang. Kalau datang sendiri, lebih baik telepon dulu untuk konfirmasi atau cari restoran yang memang melayani porsi 1 orang.
Perbedaan rasa kerang beku dan segar memang sebesar itu?
Besar banget. Kerang segar walau sudah dimasak, dagingnya tetap montok dan kuahnya berasa mendalam. Kerang beku cenderung alot dan kuahnya hambar. Saat memilih restoran, pastikan mereka pakai kerang hidup.
Guritanya selalu ada?
Nggak selalu. Gurita biasanya masuk di paket premium. Tergantung komposisi menunya, jadi cek dulu sebelum pesan.
Ada rekomendasi menu pelengkap yang cocok?
Soju itu pasangan klasiknya. Untuk makanan, haemul pajeon (pancake seafood Korea) sangat cocok. Jangan lupa juga siapkan mie ramen instan atau kalguksu untuk dimasukkan ke kuah di akhir.
Adductor kerang raksasa bisa dipesan terpisah?
Di beberapa restoran bisa. Ada yang menyediakan menu adductor tersendiri, ada juga yang sudah termasuk dalam paket kerang kukus. Kalau memang suka adductor, tanyakan saat pesan apakah sudah termasuk atau bisa ditambahkan.
Artikel ini pertama kali dipublikasikan di https://hi-jsb.blog.